Belajar Lagi dari Ibrahim dan Ismail

Dalam setiap perayaan Idul Adha, khatib shalat sering mengangkat penggalan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as sebagai pelajaran. Ayat yang kerap dikutip adalah QS Ash-Shaffat ayat 102 yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”

Kita semua tahu bahwa akhirnya Allah Swt mengganti Ismail dengan domba yang besar, sebagai ganjaran atas Ibrahim yang telah melewati ujian keimanan teramat besar. 

Entah mengapa kutipan itu terasa berbeda kala ku dengar untuk kesekian kalinya kemarin. Ia melahirkan beberapa hikmah yang ingin kutuliskan sekarang. 

Pertama, Nabi Ibrahim adalah bapak para nabi. Sosok besar yang Allah abadikan beberapa kali dalam Al Qur’an. Meskipun diberi umur panjang, toh tak semua kisah beliau kita terima. Hanya beberapa saja yang dikutip dalam Qur’an. Karena itu, kisah dialognya dengan sang anak tentu merupakan potongan yang amat penting bagi kita semua. Maka bagiku sebagai ayah, kiranya kisah ini merupakan penanda perlunya menyimak dan merenung lebih dalam.

Kedua, kita tahu Ismail adalah anak yang ditunggu-tunggu. Anak yang teramat baik pula. Sudah tentu seorang ayah amat sayang pada anak seperti ini. Rasa sayang yang teramat besar, hingga mungkin untuk ukuran nabi, kasih sayang itu menjadi berlebihan, hingga perlu diuji. Seorang anak tetaplah titipan, dan kasih sayang adalah sumber daya untuk menjaga titipan. Namun ketika kasih sayang itu teramat besar, ia memang kerap membuat sang titipan menjadi lebih berharga dari yang dititipi. Bukankah betapa banyak orang tua yang rela berbuat apa saja, hingga melanggar hukum dan norma, semata karena menyayangi anaknya? Ayat ini seolah berkata pada para ayah, bahwa sesayang-sayangnya kita pada anak, ia tetap memiliki pemilik yang sesungguhnya, dan itu bukanlah kita. Bahwa sebesar-besarnya rasa cinta pada titipan, selayaknya kita memiliki rasa cinta yang telah menitipkan. Ketaatan mutlak pada yang menitipkan haruslah jauh lebih tinggi daripada kecintaan pada titipan. Apatah lagi, toh akhirnya yang menitipkan pun kasihnya lebih besar. Tepat ketika hendak disembeli, Ismail digantikan oleh domba yang besar. Perintah itu, toh kenyataannya hanyalah ujian. 

Ketiga, awal ayat menyebutkan ‘maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya’. Inilah momen ketika seorang anak telah remaja, akil baligh. Sanggup berusaha bersamanya. Sanggup menjadi dewasa. Sanggup diajak menimbang-nimbang. Maka meski perintah itu demikian nyata bagi Ibrahim, demikian jelas, dan meski ia tentu telah mengenal Ismail sebagai anak yang berbakti lagi bertakwa, proses pengkomunikasian perintah itu tak bersifat top down. “Nak, Allah telah memerintahkanku untuk menyembelihmu. Ikut aku, kita laksanakan segera. Toh, kita akan bersama-sama di surga.” Bukan, bukan begitu percakapannya. Ibrahim membuka dialog dengan Ismail, karena memang sang anak mampu berdialog. Bagiku sebagai orang tua, inilah teladan penting dalam membangun percakapan bersama anak yang telah sempurna akalnya. Kita tak bisa mentang-mentang sebagai orang tua. Perintah dari Allah kepada Ibrahim saja, perlu didialogkan. Apalagi sekedar keinginan kita sebagai orang tua, yang meski niatnya baik, belum tentu langsung dipahami oleh anak sebagai kebaikan pada dirinya. Mari renungi baik-baik kalimat Ibrahim ini, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ibrahim menyampaikan fakta kepada anaknya. Fakta, bukan penilaian. Lalu mengajak sang anak untuk berpikir sebelum mengemukakan pendapat. Akil baligh adalah fase ketika akal telah bisa digunakan. Bisa digunakan, belum tentu segera digunakan. Maka permintaan Ibrahim kepada Ismail adalah, berpikirlah, sebelum mengemukakan pendapat. 

Keempat, kita tidak tahu berapa lama dialog terjadi. Apakah memang secepat itu, atau lebih lama lagi. Tapi kesimpulan yang dicatat Qur’an adalah jawaban Ismail, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Ini pesan kepada remaja. Setelah diajak untuk berpikir oleh sang ayah, inilah jawaban Ismail. Dengan rasionya ia memutuskan bahwa perintah itu memang valid perintah dari Allah. Ia memang dikaruniai kemampuan untuk terhubung kepadaNya. Ia juga tentu mengenal ayahnya sedemikian baik, sehingga dapat memastikan ayahnya pasti mengatakan hal yang benar, bahwa mimpi itu bukan mimpi dari setan. Dari situlah ia menyampaikan keputusan bahwa tak ada jalan lain, perintah itu harus dilaksanakan. Ini jelas ujian yang berat bagi kedua belah pihak. Berat bagi Ibrahim karena harus menyembelih anak kesayangan yang telah ditunggu puluhan tahun. Berat bagi Ismail sebab akan segera kehilangan nyawanya di hadapan ayahnya sendiri. Maka masuk akal jika respons Ismail adalah ‘insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar’. Seolah nasihat sabar ini bagi dirinya sendiri dan tentu bagi ayahnya. Bersabarlah duhai diriku, bersabar pulalah wahai ayahku. Duhai ayahku, jalankan saja perintah itu, bersabarlah, karena akupun termasuk orang yang sabar. Tak ada yang mudah dalam menjalankan perintah ini. Sabarlah obatnya. Maka wahai ayah dan anak, perintah Allah itu pasti tak mudah. Menjalankannya dalam kehidupan yang fana ini pasti membutuhkan kesabaran. Memang demikian lah adanya. 

Kelima, menyambung poin nomor tiga, ini pesan kepada orang tua. Bayangkan jadi Ibrahim. Ayah seperti apakah ia, sehingga perintah yang sedemikian mengerikan itu, ketika disampaikan pada anaknya, direspons oleh sang anak dengan, ‘lakukan saja ayah’? Jika perintah itu turun kepada kita, lalu kita sampaikan kepada anak remaja kita, akankah kita mendapat respons yang sama? Kemungkinan tidak! Mengapa? Karena kredibilitas kita sebagai ayah jauh di bawah Ibrahim. Keputusan Ismail bukan semata didapat dari pertimbangan rasionalnya. Melainkan juga dari pengenalan dirinya akan kredibilitas sang ayah yang memiliki ketaatan mutlak kepada Allah. Ayahnya tak pernah menunjukkan satu perilaku pelanggaran pun pada perintah Allah. Pun, kepada sesama manusia, ayahnya adalah orang yang amat penyantun, pengasih, penyayang. Kekokohan kredibilitas inilah yang membuat pesan Ibrahim kepada Ismail menjadi valid. Ismail tidak mempertanyakan validitas pesan itu. Pesan itu pasti benar-benar perintah. Karena ayahnya tak mungkin mengarang perintah. Ayahnya = ketaatan. Jadilah keputusan Ismail bagi dirinya adalah, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Keenam, kita semua tahu akhirnya, kesabaran ayah dan anak ini memang hanya ujian. Saat keduanya lulus ujian, Allah mengganti Ismail dengan domba yang besar. Inilah bukti bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan ketaatan hambaNya. Menjalankan perintahNya memang membutuhkan kesabaran, tapi kesabaran itu toh akan berbuah karunia yang jauh lebih besar kemudian. Kesabaran kita, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kasih dan sayangNya. 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *