“Kesantunan adalah modal pembelajar teramat berharga. Tanpanya banyak ilmu terlewat sia-sia.” Kalau ada hal paling berharga yang dimiliki seseorang, ia lah kesantunan. Tak bisa dibeli, hanya bisa dipelajari dengan tekun melatih kerendahan hati. Sebab tabiat manusia menyenangi kesantunan. Bahkan orang berhati dingin sekalipun akan tersentuh oleh kesantunan, meski ia sendiri belum tergerak mengikutinya. Sebab kesantunan […]
Tag: belajar
“Hadirnya masalah adalah tanda bagi diri tuk menyimak kembali serpihan ilmu nan terlewatkan.” Dalam banyak kali, masalah hadir sebagai guru. Ia mengajak diri tuk memahami jurang antara apa nan diketahui, dengan apa yang dijalankan. Adalah tabiat pikiran tuk tak sanggup menangkap banyak ilmu sekaligus. Ia perlu tahap, yang berbekal kesabaran kan sampai jua lengkap. Tak
“Ujian, adalah jalan tuk pahami sudah sedalam apa pembelajaran.” Mengingat masa sekolah dulu, untuk apa kita melalui sebuah ujian? Banyak ragam jawaban, salah satunya adalah agar bisa lulus. Padahal, lulus adalah hasil. Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa untuk menentukan siapa nan hendak diluluskan, guru perlu menguji murid-muridnya? Ya, jawabannya terletak pada makna lulus itu sendiri. Lulus,
“Completion means you know what works. Failure means you know what doesn’t.” Tak ada yang sia-sia bagi para pembelajar sejati. Setiap kejadian selalu menghadirkan makna yang rugi jika tak dipetik. Penyelesaian, keberhasilan, bukanlah semata sebuah kebanggaan. Bangga, tentu. Tapi rasa bangga acapkali tak membuat maju, kecuali jika ditelisik lebih dalam maknanya. Dan bagi para pembelajar,
“Apa-apa yang belum kau pahami, adalah jalan tuk pertumbuhanmu.” Kita bertumbuh, setiap kali hadir sebuah tanya. Sebab pertanyaan, adalah jalan tuk ditemukannya banyak jawaban. Maka meski jawaban tersedia di hadapan, jika tak hadir pertanyaan, tidak lah ia kan mengemuka. “Mengajukan pertanyaan,” kata orang bijak, “adalah kecerdasan tersendiri.” Ya, karena dalam nasihat lain disebutkan, “Pertanyaan itulah,
Menyambung obrolan dengan seorang sahabat yang saya tulis pada artikel sebelumnya, saya pun teringat pada beberapa hal yang saya lakukan untuk menjadikan setiap kegiatan pembelajaran menjadi mengasyikkan. “Kau boleh berhenti sekolah, tapi jangan pernah berhenti belajar.” Nasihat ini, sungguh menegaskan bahwa belajar harus kita jauhkan dari semata kegiatan dalam sekolah. Pandanglah belajar sebagai ruh kehidupan.
Sebuah obrolan bersama seorang sahabat terjadi, ketika ia bertanya, “Mas, bagaimana ya saya memotivasi anak-anak saya belajar. Mereka baru kelas 3 dan kelas 4 SD, tapi kok rasanya sudah tampak kejenuhan belajar. Padahal tugas dan tuntutan sekolah begitu tinggi.” Saya pun berkaca demi mendengar pertanyaannya. Sebuah refleksi yang seketika
Guru dan murid adalah dua insan yang dipertemukan untuk saling belajar. Ya, bukan hanya murid sejatinya yang belajar pada guru, melainkan guru pula yang belajar pada muridnya. Ah, murid belajar pada guru, tentu sudah tahu. Tapi bagaimana guru belajar pada muridnya?
“Air tak kan tertampung pada gelas yang penuh, begitupun hikmah tak kan meresap pada pikiran yang jenuh.” Tuangkanlah air pada gelas yang penuh, ia kan tertumpah sia-sia, dengan hanya sedikit saja yang tersisa masuk ke dalamnya. Gelas haluslah kosong, agar air baru masuk dengan leluasa menggantikan yang lama. Demikianlah perumpamaan hikmah dalam jutaan episode
“Ilmu layaknya air, hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.” Banyak insan berguru, tapi dalam hati tak sungguh-sungguh mengharap ilmu. Maka meski perjalanan telah ditempuh, dana telah dikeluarkan, tak sedikit pun ilmu membekas dalam sanubari. Sebab ilmu memang layaknya air. Ia mengalir, hanya ke tempat yang lebih rendah. Maka hati

Recent Comments