Artikel ini merupakan bahasan lanjutan dari artikel “Menyelami Lagi Neuro-Logical Level” (NLL). Dalam artikel tersebut, NLL yang bermula sebagai sebuah model unified theory of NLP, dan berfungsi sebagai sebuah ‘alat diagnostik’ kondisi klien, dapat juga kita gunakan sebagai metode untuk menyusun rencana. Sebuah rencana seringkali tak berjalan sebagaimana mestinya, sebab ia tak selaras dengan lapisan-lapisan […]
Tag: belajar nlp
Ya. Bagaimana tidak? La NLP itu ilmu modeling. Berangkat dari ‘meniru’ keahlian orang lain. Maka melakukan modeling berarti mengakui adanya orang lain yang telah lebih dulu mengembangkan keahlian, dan bersedia belajar kepadanya. Dengan kata lain, jika toh sang praktisi menemukan sebuah teknik baru yang fenomenal, tetap ada orang lain yang lebih dulu memulainya. Ia ‘hanya
NLP, salah satunya didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur dari sebuah perilaku. The structure of subjective experience. Maka yang diincar oleh seorang praktisi NLP adalah pola-pola perilaku, alih-alih ‘isi’ atau penyebab dari perilaku tersebut. Pada seseorang yang curhat dengan berkata, “Caranya berbicara membuatku kesal deh!”, praktisi NLP tidak akan bertanya, “Memangnya dia bicara apa? Kapan
NLP itu Coaching Banget, Coaching itu NLP Banget (2)Read More »
Suatu kali, Michaell Hall pernah berkata, “Jika saja dulu NLP memulai dengan coaching—alih-alih terapi—we can own this field.” Kalimat ini bukan tanpa dasar. Ia didasari oleh pengalamannya mengisi sebuah sesi di salah satu konferensi ICF di sebuah negara. Dari sekitar 24 orang yang diundang—kalau saya tidak salah dengar—3 orang di antaranya adalah para coach berbasis
Hari ini adalah hari terakhir The 4th Indonesia NLP Conference 2014. Gelaran dari komunitas virtual Indonesia NLP Society ini memang sudah kali keempat diadakan, dan Alhamdulillah selalu diminati oleh para pembelajar NLP. Sejak awal kemunculannya pada 2010, Indonesia NLP Conference masih menjadi ajang silaturahim para pakar dan pembelajar NLP yang menggairahkan.
Jika NLP adalah modeling. Model dan teknik dalam NLP adalah hasil modeling. Maka wajar jika banyak model dan teknik yang belum diuji menggunakan metode ilmiah. Sebab para praktisi NLP menggunakan modeling untuk melakukan ‘penelitian’. Menggunakan modeling, yang dicari adalah ‘bagaimana’ sebuah hasil bisa dicapai? ‘Bagaimana’ prosesnya? Maka NLP memang pragmatis. Cari ahlinya, temukan strukturnya. Uji
Enam tahun lalu, saya pernah menulis artikel tentang ilmiah tidaknya NLP. Dan kini, saya berminat untuk melanjutkan. Apa pasal? Karena belakangan ada beberapa miskonsepsi tentang NLP. Pada saat yang sama, saya pun baru mendapati beberapa informasi tentang riset-riset terkait NLP. Saya sendiri belum pernah melakukan riset ilmiah apapun tentang NLP. Maka artikel ini, dan lanjutannya—insya
Di masa awal saya belajar NLP, kerap terdengar bahasan bahwa pikiran kita tak mengenal kata negasi. Maka kita tidak dianjurkan menggunakan kata ‘jangan’, misalnya. Sebab berkata ‘jangan marah’, hanya akan membuat seseorang memikirkan kemarahan. Lebih baik, ujar bahasan itu dulu, langsung saja gunakan kalimat semacam, ‘tenanglah’. Anjuran serupa ini cukup populer pada masanya, sehingga banyak
Abraham Maslow menyebutnya self actualized people. Carl Rogers, rekan seperjuangannya dalam membesarkan mazhab ketiga psikologi—Psikologi Humanistik—menyebutnya fully functioning person. Mudahnya, ia adalah orang-orang yang telah tumbuh sebagaimana mestinya. Menggunakan relasi dengan pendekatan spiritual, ia lah manusia yang menjadi seperti yang Tuhan ciptakan. Orang yang kokoh secara personal, secara karakter, dan kokoh pula secara sosial. Maka
Misi dan Tujuan telah dimiliki, bagaimana menjadikannya nyata? Inilah tantangannya. Sebab bermimpi itu enak, maka ada banyak orang yang berhenti disitu, dan merasa bahwa segalanya telah dimiliki. Padahal adalah hak sebuah impian, untuk diwujudkan. Jika kita telah berani bermimpi, kita mesti sungguh-sungguh mewujudkannya. Atau kalau tidak, impian itu akan menghantui masa depan kita, menuntut haknya.

Recent Comments