Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anak berusia empat tahun? Ya, berbagai keterampilan dasar hidup tentu sudah begitu terampil dilakukan. Bicara, berjalan, bermain, belajar di sekolah, dan seterusnya. Di usia ini pula, seorang anak mulai belajar keterampilan sosial dengan lebih riil, sebab ia bersentuhan langsung dengan dunia nyata, dan semakin sedikit […]
Tag: nlp
Cukup sering saya ditanya, “Pak, apakah seorang yang belajar NLP tidak bisa sedih, marah, atau merasakan emosi negatif lainnya?” Ah, sebuah pertanyaan yang menggelitik. Di tengah maraknya berbagai ilmu pengembangan diri, utamanya yang berbasis mind technology, kata-kata emosi negatif seolah-olah hanya miliki emosi-emosi seperti marah, sedih, dendam, dengki, kecewa, dan kawan-kawannya. Sementara emosi-semosi seperti senang,
Jangan Matikan Alarm-nya, Sebelum Mengatasi Sumber Ia BerbunyiRead More »
Sungguh saya tak habis pikir, bagaimana seorang Ibu atau pengasuh bisa begitu kreatif mencari berbagai cara untuk membujuk seorang anak untuk makan. Dimulai dari berbagai bujukan hingga permainan, yang entah bagaimana, seketika suapan demi suapan masuk tanpa disadari. Ya, seorang Ibu bisa begitu luwes nan lentur demi memastikan sang anak makan dengan sukarela. Dari jutaan
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang terceletuk dalam benak saya setelah menyelami NLP selama kira-kira 4 tahun. Sebuah pertanyaan yang bernada iseng, namun rupa-rupanya menyimpan persoalan mendasar. Ya, jika peta bukan wilayah, mengapa masih dipakai? Mengapa tak kita langsung saja masuk ke wilayahnya, tanpa menggunakan peta? Nyebur aja langsung.
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Kita hari ini adalah hasil dari apa yang kita putuskan kemarin. Kita esok adalah hasil dari apa yang kita putuskan hari ini. Saya teringat suatu kali pernah berdiskusi dengan seorang sahabat. Setelah membahas berbagai hal, sampailah ia pada pertanyaan, “Siapa kamu?” Tentu saja saya jawab, “Saya Teddi.” “Bukan, itu namamu. Siapa
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Saya teringat “Pak Ogah” yang dulu sering mengatur lalu lintas di salah satu pertigaan menuju rumah. Kami sering menyebutnya “Si Makasih”, karena ia punya logat yang khas setiap kali mengucapkan kata “Makasih” saat diberi uang. Selama bertahun-tahun, ia begitu konsisten mengatur lalu lintas, dan saya tak menyadari peran istimewanya, selain bahwa
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Manusia adalah makhluk beralasan. Kalimat di atas cukup lama terngiang dalam benak saya, membuat saya trance bukan kepalang mencari makna yang menyimpulkannya. Entah dari mana ia bermula, baru belakangan saya mampu melihat titik terang yang menggairahkan. Mari kita tengok perilaku manusia (baca: kita sendiri). Mengapa ia muncul? Mengapa saya melakukan sesuatu,
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Bicara soal kepemimpinan, saya teringat sebuah pengalaman ketika terakhir kali menjadi program manager untuk sebuah proyek management trainee 2 tahun lalu. Sebagai rangkaian dari program panjang tersebut, kami mengundang Presiden Direktur kami untuk bertemu dengan para trainee dan berbagi kisah tentang perjalanan kepemimpian beliau. Dalam format diskusi melingkar, beliau membuka dengan
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Wit ing trisno, jalaran sako kulino. Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat diterjemahkan dengan: pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Umumnya, pepatah ini muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering bertemu dan berbagi
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Judul di atas mungkin mengingatkan Anda pada sebuah lagu. Lagu yang cukup populer beberapa tahun lalu, plus merupakan sedikit lagu yang saya sukai yang dinyanyikan oleh kalangan boyband. Maka sembari Anda mengingat bagaimana lagu tersebut dinyanyikan, plus merasakan suatu sensasi tertentu dalam tubuh dan pikiran Anda, saya akan menceritakan mengapa saya

Recent Comments