”Saya tuh sensitif sekali Pak. Kalau ada orang yang mengkritik saya, saya bisa kepikiran sampai berhari-hari, bahkan sampai sakit,” ujar salah seorang peserta seusai seminar 3 jam yang saya berikan kepada 130 orang Insurance Administrator. Kebetulan di sesi tersebut saya baru saja membagikan ilmu dasar melakukan proses mengedit submodalitas, maka saya pun memintanya untuk melakukannya […]
Author: Teddi Prasetya
Jogja selalu memiliki makna special bagi saya. Tidak saja karena kotanya yang eksotik dan magis, melainkan juga sejuta pengalaman unik yang pernah saya alami seakan berloncatan dengan submodality yang meriah setiap kali saya menyusuri jalan-jalannya. Ya, cukup 3 tahun 8 bulan saja saya bermukim di sana, entah sudah berapa banyak kejadian yang membentuk pribadi saya
“Bagaimana sih, ceritanya pacing-leading bisa menjadi jalan untuk membangun keakraban?” Demikian pertanyaan yang seringkali saya dengar pada beberapa kelas yang di dalamnya saya selipkan materi tentang cara membangun rapport ala NLP. Sebagaimana hobi saya memang amat gemar membagi pengetahuan apapun yang saya miliki sekalipun baru secuil, maka saya pun teringat pengalaman saya di kelas NLP
Terus terang, saya penasaran dengan artikel saya ini. Penasaran bukan pada hasil akhirnya, melainkan pada respon yang akan saya dapatkan dari pembaca. Bisa jadi sih, tidak ada respon apa-apa. Bisa jadi juga, akan muncul respon yang pro maupun kontra. Saya teringat ketika melakukan riset kualitatif beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, proposal yang saya ajukan
Saya sungguh bersyukur. Sudah tidak terhitung berapa kali saya bisa menjadi sobat belajar di berbagai pelatihan sejak pertama kali mendirikan milis Indonesia NLP Society. Bersyukur bukan hanya karena beberapa di antaranya menghadirkan kompensasi finansial yang amat layak, namun juga ada hal lain yang jauh lebih penting.
Saya memulai perjalanan saya sebagai pembelajar NLP melalui seminar, membaca buku dan artikel, praktik eksperimen, dan sharing. Setiap kegiatan itu memiliki manfaatnya masing-masing bagi saya, karena saya menemui pengalaman belajar yang berbeda-beda. Di seminar/training, saya beruntung bisa mendapatkan bimbingan langsung dari sang pelatih. Saya jadi tahu bagaimana cara yang “benar” dalam mempraktikkan NLP. Melalui membaca
Setelah pada 2 tulisan sebelumnya kita membahas konsep, maka pada tulisan kali ini saya akan mengajak Anda untuk mulai melakukan praktik latihan sederhana. Pikirkan sebuah situasi ketika Anda merasa begitu mudah dalam mempelajari sesuatu. Bagus. Sekarang, apa yang Anda lihat? Adakah ia seperti sebuah film yang bergerak atau foto yang diam? Adakah ia berbingkai atau
“Anak saya itu lho, kalau disuruh belajar kok susaaaaaaahnya minta ampun. Kerjaannya cuma main game terus seharian,” keluh seorang ibu. “Wah, ibu pasti senang banget ya?” ujar saya. “Loh, gimana sih? Ya pusing lah. Seandainya saja dia bisa belajar seperti main game itu, nggak usah disuruh-suruh. Seharian konsen terus.” “La itu, emang gimana dia bisa
Masih saja mendengar pertanyaan seperti ini dari beberapa orang yang membaca tulisan saya sebelumnya, maka saya pun menggunakan jurus lain. “OK, Anda pernah kesal?” tanya saya. “Ya jelas pernah lah,” jawab orang tersebut. “Coba ceritakan salah satunya.”
Demikian pertanyaan yang masih sering saya dengar dari teman-teman yang membaca artikel saya, melihat buku di tangan saya, mendengar cerita tentang saya, ataupun menerima kartu nama saya. Sebuah pertanyaan yang mendasar, sebab nama ilmu yang ‘aneh’ ini memang seringkali membuat para pendengarnya bertanya-tanya apa sebenarnya makhluk bernama NLP ini. Well, sudah sejak beberapa lama saya

Recent Comments