“Kecepatan, seringkali mengurangi penghayatan.” Kapan terakhir kali berjalan tergesa-gesa? Di kala keinginan untuk cepat sampai itu begitu besar, berapa banyak kah hal yang terlewat tak terperhatikan? Kapan terakhir kali makan tergesa-gesa? Mampukah mengingat nikmatnya setiap suapan dan kunyahan? Kapan terakhir kali berkendara tergesa-gesa? Adakah pemandangan sekitar tampak dengan indah?
Category: Nasihat Diri
“Kekurangan diri ini, adalah ladang bagi kelebihan orang lain. Kelebihan diri ini, adalah ladang bagi kekurangan orang lain.” Pengaturan Tuhan sungguh sempurna. Ciptaannya bagaikan puzzle, sebuah gambar indah terbentuk dari ratusan potongan kecil. Jangan remehkan tiap potongan, sebab tanpa sebuah takkan jadi gambaran indah. Maka sesederhana apapun setiap keping tampaknya, ia unik, tak terganti, memiliki
“Tuhan tak pernah jauh. Kita lah yang kadang lupa berlabuh.” Dia selalu terjaga, tak pernah henti mengurus makhluknya. Dia Maha Melihat, tak pernah satu pun perbuatan kita yang lepat. Dia Maha Kuasa, tiada daya upaya selain apa yang diberikan-Nya. Maka bagaimana mungkin ada diri yang merasa Dia begitu jauh? Ah, bagaimana kah Dia pernah menjauh,
“Dia yang tak pernah berhenti belajar, tak pernah menjadi tua.” Membaca adalah perintah pertama. Tentu bukan sekedar membaca dalam artian harfiahnya, melain menelaah setiap detik yang telah lewat, tuk menjadi bekal bagi setiap detik yang kan dilalui. Maka merugilah diri yang melewati tiap detik tanpa menarik pelajaran, sebab itu berarti ia berjalan mengembara tanpa bekal.
“Kebosanan adalah tanda kurangnya makna-makna. Menyelamlah, dan temukan rahasia-rahasia indah.” Bosan bukanlah kondisi alamiah insan. Sebab sejatinya diri merindu mewujudkan segala hal nan berarti. Maka bergerak adalah sifat asli, sementara diam hanyalah perhentian sejenak melepas penat. Maka kala rasa bosan hadir, tak lain adalah tanda akan kurangnya gerak, lahir maupun batin. Gerak lahir tentulah kita
“Latihan kepemimpinan sejati adalah kala tak punya posisi. Ketika tak ada yang bisa dipengaruhi kecuali diri sendiri.” Kepemimpinan selalu dimulai dari dalam. Ia tumbuh menghujam, sebelum menjulang tinggi. Sebab tingginya pohon memerlukan kokohnya akar.
“Pada dia yang kucinta, kadang ku tergoda mengiba imbalan. Beruntung segera kuinsyafi bahwa cinta adalah pemberian.” Sesejatinya cinta adalah pemberian. Tengoklah ketulusan pemberian seorang ibu pada anaknya. Ia lah wujud keluhuran cinta kala kita ingin melihatnya. Maka mudah lah bagi kita jika ingin mengukur apakah cinta ini telah murni. Yakni mencermati seberapa jauh diri ini
“Pasanglah mimpimu hingga melangit. Pastikan langkahmu kokoh membumi.” Bermimpi itu wajib. Dan impian itu mesti besar. Sebab memang kemampuan bermimpi kita miliki tuk mengajak diri keluar dari kungkungan kebiasaan, keteraturan. Maka ajaran klasik masa kecil tuk bermimpi setinggi bintang di langit, jelas masih amat valid hingga kini. Lalu terbit lah sebuah tanya, “Apakah tak takut
“Obatilah pikiranmu dengan ilmu.” Pikiran, sebagaimana tubuh, bisa sakit. Bedanya, sakitnya pikiran kan akibatkan kerusakan yang samar. Menggerogoti jiwa tanpa disadari, hingga rapuh, dan jauh dari cahaya kemuliaan. Dan apalah lagi arti diri jika jiwa tela rapuh?
“Sesejatinya kelezatan, hanya akan dinikmati setelah sepenuh sungguh melalui kesulitan.” Satu kali saya dipertemukan kembali dengan sebuah pertanyaan yang bertahun lalu pernah juga hadir dalam pemikiran. “Jika hidup ini tak ada hambatan sama sekali, apakah hal yang kau impikan?” Demikian bunyinya. Sungguh ini pertanyaan cerdik. Sebab ia sedang memancing munculnya hasrat terpendam kita akan apa

Recent Comments