“Pasanglah mimpimu hingga melangit. Pastikan langkahmu kokoh membumi.” Bermimpi itu wajib. Dan impian itu mesti besar. Sebab memang kemampuan bermimpi kita miliki tuk mengajak diri keluar dari kungkungan kebiasaan, keteraturan. Maka ajaran klasik masa kecil tuk bermimpi setinggi bintang di langit, jelas masih amat valid hingga kini. Lalu terbit lah sebuah tanya, “Apakah tak takut […]

“Obatilah pikiranmu dengan ilmu.” Pikiran, sebagaimana tubuh, bisa sakit. Bedanya, sakitnya pikiran kan akibatkan kerusakan yang samar. Menggerogoti jiwa tanpa disadari, hingga rapuh, dan jauh dari cahaya kemuliaan. Dan apalah lagi arti diri jika jiwa tela rapuh?

“Sesejatinya kelezatan, hanya akan dinikmati setelah sepenuh sungguh melalui kesulitan.” Satu kali saya dipertemukan kembali dengan sebuah pertanyaan yang bertahun lalu pernah juga hadir dalam pemikiran. “Jika hidup ini tak ada hambatan sama sekali, apakah hal yang kau impikan?” Demikian bunyinya. Sungguh ini pertanyaan cerdik. Sebab ia sedang memancing munculnya hasrat terpendam kita akan apa

Kelezatan dan KesulitanRead More »

“Sakit adalah saat bagi diri untuk mengenal tubuh lebih baik. Memahami apa yang terjadi. Mengenali apa yang mungkin terabaikan. Maka tiada yang layak diucap selain rasa syukur.” Akar dari kebanyakan masalah adalah ketidakseimbangan. Demikian sebuah nasihat pernah sampai pada kami. Yang berarti pula bahwa tak akan ada masalah jika semuanya seimbang. Ah, semudah itu kah?

SakitRead More »

“Hadirnya kecewa, sebab terpasangnya harapan nan tak dilengkapi keikhlasan kala menjalankan.” Kecewa adalah sebuah gejala, akan hadirnya hasil yang terkesan lebih rendah dari harapan. Ya, adakah orang yang kecewa kala mendapat hasil yang lebih baik dari harapan?

“Belajarlah mula-mula tuk mengayakan batin. Agar kekayaan lahir jadi kemuliaan bagi dirimu.” Kadang aku risau dengan gebyarnya pengajaran tentang kekayaan material. Bukan tersebab ia buruk, melainkan jarang nan didahului tentang untuk tujuan apa kita memperkaya diri.

“Tak ada pekerjaan remeh, bagi pribadi yang tak remeh.” Segala kerja ada dalam pengaturan Allah. Dan Maha Suci Dia dari ketidaksempurnaan pengaturan. Maka berati-hatilah dengan pikiran diri yang menganggap remeh sebuah kerja yang telah Dia aturkan untukmu. Sungguh Dia lebih tahu apa yang kau butuhkan, sedang kau masih berkutat dengan terbatasnya akal.