Sungguh aku bingung pada insan nan tak gemar membaca. Darimana ia hendak mendapatkan ilmu yang diperlukannya? Sementara kehidupan dengan berbagai ujian terus mendera, adakah ia merasa apa yang telah ia ketahui cukup tuk mendapatkan jawabannya? Bukankah itu serupa anak yang hanya belajar sampai kelas 1 SD, lalu terus saja nekat mengikuti ujian hingga SMP, SMA, […]
Category: Nasihat Diri
Sejak kecil aku penasaran, mengapa selalu dikatakan bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw ialah Al Qur’an. Maksudku, sebagai anak-anak, ketika mendengar kisah mukjizat Nabi Musa as yang bisa membelah lautan, maka kitab suci menjadi kurang keren. Apatah lagi rupanya setelah membaca kitab karya Syaikh Sa’id Hawwa, Ar Rasul, rupanya Nabi Muhammad saw adalah rasul yang
“Alif Lam Mim. Inilah kitab yang tak ada keraguan di dalamnya.” Demikian pembukaan surat terpanjang dalam Al Qur’an menyatakan. Sungguh terang, jelas, penuh keyakinan. Siapakah penulis di dunia ini yang sanggup menyatakan serupa ini? Para peneliti yang menulis hasil penelusuran dari fakta ke fakta puluhan tahun saja selalu menutup kajiannya dengan sub bab khusus bertajuk
Apapun hasil yang kita harapkan, akan ada 2 kemungkinan. Entah ia bersesuaian, atau tidak bersesuaian dengan suratan yang telah Allah tetapkan di Lauh Mahfuz sana. Sebab ilmu kita memang tak pernah sampai setitik air dari ilmuNya. Apa yang kita anggap baik hingga demikian diinginkan, bisa jadi buruk dalam pengaturanNya. Sebaliknya, apa yang kita anggap buruk
Ujung dari pembelajaran adalah hasil. Dan hasil lahir dari tindakan. Tindakan lahir dari keterampilan. Keterampilan lahir dari latihan. Latihan yang benar memerlukan pengetahuan dan pemahaman. Tugas guru paling dasar ialah membantu kita tahu dan paham. Itupun berdasarkan pengalaman beliau, yang secara prinsip mungkin masih relevan, namun secara praktis tentu akan berbeda dengan kondisi yang kan
Ada sebuah kondisi menantang yang kutemukan beberapa tahun belakangan ketika memfasilitasi pembelajaran di organisasi. Tak seperti di masa sekolah ketika kegiatan utama murid memang ada belajar, pembelajaran pada orang dewasa bukanlah menu utama. Ia masuk dalam kuadran waktu kategori penting namun tidak mendesak. Ya, belajar adalah aktivitas yang diakui oleh semua orang sebagai sesuatu yang
Seorang guru memahami apa yang pas untuk diajarkan pada murid. Tidak saja bahan, melainkan juga bagaimana ia dipelajari. Maka bagian dari adab belajar ialah mempersiapkan diri tuk menerima apa yang diberi dengan sebaik-baiknya. Menerima dengan penuh kesungguhan, dengan menyimak dan mencatat. Keduanya adalah bagian penting yang akan menjadikan ilmu bagian dari diri, tak hanya tersimpan
Ada hak pada ilmu, yakni tuk diamalkan. Dijadikan manfaat. Ilmu tersia-sia jika tersimpan dalam ingatan belaka. Lebih buruknya lagi, tak teringat pula, tersebab tak ia dipraktikkan, sedang praktik itu sendiri memperkokoh ingatan. Maka salah satu kewajiban pembelajar adalah memastikan tiap yang diketahui mewujud jadi hasil. Bergerak dari tahu, paham, mampu. Sisi lain, ada risiko kala
“Ini zaman serba cepat. Yang tak cepat kan tertinggal.” Demikian ungkap banyak orang masa kini. Dan aku pun sempat setuju. Maka dalam pikiranku, banyak hal mesti dipercepat. Atau setidaknya, berusaha dipercepat. Sebab yang lambat-lambat memang tak punya tempat. Namun beberapa hari lalu, ada sebuah kalimat yang membuatku tertegun. Berasal dari seorang pakar manajemen kenamaan, Tom
Ilmu memang milikNya. Namun kita sulit mendapatkan langsung dariNya. Dia minta kita mencari, dengan kesungguhan hati, sebab memang ia tersebar pula di sepanjang jalan, tak hanya di tujuan. Maka cara paling dasar belajar ilmu adalah melalui guru. Seorang yang telah paham dan mampu terlebih dahulu. Kita berutang pada guru. Sekali, dan selamanya. Karena takkan mungkin

Recent Comments