Seri Kenalan dengan NLP #2 Apa kabar? Bagaimana pagi Anda, Sobat? Setelah membaca artikel “NLP? Apaan Tuh?” kemarin, apa saja yang sudah dipraktikkan? OK, mari kita tinjau sejenak. Saya berasumsi Anda sudah menjalankan latihan di bagian akhir artikel tersebut. Dan saya sungguh amat penasaran, apa saja yang Anda temukan setelah mencobanya.
Category: Neuro-Linguistic Programming
Seri Kenalan dengan NLP #1 Nama panjangnya Neuro-Linguistic Programming. Saya sering menyebutnya psikologi praktis. Mengapa? Ya karena ini lah jawaban atas pertanyaan saya di sekitaran tahun 2004, di akhir masa kuliah. Kerap saya diminta oleh kawan-kawan, “Ajarin dong ilmu komunikasi,” atau, “Ngisi pelatihan dong tentang cara mengelola diri.” Saya pun dibuat pusing oleh permintaan seperti
Artikel ini merupakan bahasan lanjutan dari artikel “Menyelami Lagi Neuro-Logical Level” (NLL). Dalam artikel tersebut, NLL yang bermula sebagai sebuah model unified theory of NLP, dan berfungsi sebagai sebuah ‘alat diagnostik’ kondisi klien, dapat juga kita gunakan sebagai metode untuk menyusun rencana. Sebuah rencana seringkali tak berjalan sebagaimana mestinya, sebab ia tak selaras dengan lapisan-lapisan
Ya. Bagaimana tidak? La NLP itu ilmu modeling. Berangkat dari ‘meniru’ keahlian orang lain. Maka melakukan modeling berarti mengakui adanya orang lain yang telah lebih dulu mengembangkan keahlian, dan bersedia belajar kepadanya. Dengan kata lain, jika toh sang praktisi menemukan sebuah teknik baru yang fenomenal, tetap ada orang lain yang lebih dulu memulainya. Ia ‘hanya
NLP, salah satunya didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur dari sebuah perilaku. The structure of subjective experience. Maka yang diincar oleh seorang praktisi NLP adalah pola-pola perilaku, alih-alih ‘isi’ atau penyebab dari perilaku tersebut. Pada seseorang yang curhat dengan berkata, “Caranya berbicara membuatku kesal deh!”, praktisi NLP tidak akan bertanya, “Memangnya dia bicara apa? Kapan
NLP itu Coaching Banget, Coaching itu NLP Banget (2)Read More »
Suatu kali, Michaell Hall pernah berkata, “Jika saja dulu NLP memulai dengan coaching—alih-alih terapi—we can own this field.” Kalimat ini bukan tanpa dasar. Ia didasari oleh pengalamannya mengisi sebuah sesi di salah satu konferensi ICF di sebuah negara. Dari sekitar 24 orang yang diundang—kalau saya tidak salah dengar—3 orang di antaranya adalah para coach berbasis
Menggunakan NLP dalam psikoterapi memerlukan ilmu dan keterampilan yang komprehensif. Mengikuti pelatihan 1-2 hari jelas tidak memadai. Saya selalu menganjurkan setiap kawan yang ingin praktik terapi secara profesional untuk benar-benar mempelajari NLP secara utuh, melalui pelatihan yang komprehensif. Ini sebab kita tidak pernah tahu akan menghadapi klien dengan kondisi seperti apa.
Beberapa kali dalam waktu berdekatan, saya mendapati pertanyaan serupa tajuk di atas. Sebuah pertanyaan yang sejatinya tidak saja muncul belakangan, melainkan sudah ada sejak lama, bahkan di negara asalnya Amerika. Namun beberapa kawan mengajukan pertanyaan serupa, mungkin sebab terbitnya sebuah tulisan dari Mas Mohammad Fauzil Adhim berjudul “Tragedi Iman Seorang Hafidz” di sini. Saya maklum
Jika NLP adalah modeling. Model dan teknik dalam NLP adalah hasil modeling. Maka wajar jika banyak model dan teknik yang belum diuji menggunakan metode ilmiah. Sebab para praktisi NLP menggunakan modeling untuk melakukan ‘penelitian’. Menggunakan modeling, yang dicari adalah ‘bagaimana’ sebuah hasil bisa dicapai? ‘Bagaimana’ prosesnya? Maka NLP memang pragmatis. Cari ahlinya, temukan strukturnya. Uji
Enam tahun lalu, saya pernah menulis artikel tentang ilmiah tidaknya NLP. Dan kini, saya berminat untuk melanjutkan. Apa pasal? Karena belakangan ada beberapa miskonsepsi tentang NLP. Pada saat yang sama, saya pun baru mendapati beberapa informasi tentang riset-riset terkait NLP. Saya sendiri belum pernah melakukan riset ilmiah apapun tentang NLP. Maka artikel ini, dan lanjutannya—insya

Recent Comments