Di masa awal saya belajar NLP, kerap terdengar bahasan bahwa pikiran kita tak mengenal kata negasi. Maka kita tidak dianjurkan menggunakan kata ‘jangan’, misalnya. Sebab berkata ‘jangan marah’, hanya akan membuat seseorang memikirkan kemarahan. Lebih baik, ujar bahasan itu dulu, langsung saja gunakan kalimat semacam, ‘tenanglah’. Anjuran serupa ini cukup populer pada masanya, sehingga banyak […]

Para pembelajar NLP pasti pernah mengenal Neuro-Logical Level (NLL). Ya, model yang dikembangkan oleh Robert Dilts berdasar pada teori level pembelajaran Gregory Bateson ini merupakan salah satu usaha NLP generasi kedua untuk menyusun sebuah unified theory, yang menyatukan beragam teknik dan model NLP. Saking banyaknya model dan teknik praktis ini, kebanyakan pembelajar pemula kerap kebingungan

Menyelami Lagi Neuro-Logical Level (NLL)Read More »

“Jika ada yang katakan kesabaran ada batasnya, maka kemarahan dan kekecewaan pun ada batasnya pula.” Demikian biasa terdengar. Sebuah kalimat yang tentu memiliki alasan. Atau menjadi alasan, untuk tidak merasa sabar. Dulu, aku berpikir bahwa kalimat ini amat perlu direvisi. Ya, mempelajari beragam ilmu dan meretas secuil hikmah saja telah mengajarkanku bahwa kesabaran sungguh tidak

Kesabaran Itu Ada BatasnyaRead More »

Pada Minggu, 16 Juni 2013 lalu, Indonesia NLP Society kembali menggelar NLP Talks. Kali itu, tema yang dibahas adalah “Path to Actualization – Part 1”. Tema ini diusung untuk mulai mengajak kita menapaki jalan menuju pertumbuhan diri. Ada “Part 1”, karena memang materinya takkan habis dalam 3 jam. Ia perlu sesi lanjutan yang panjang. Ya,

Aktualisasi Diri: Jalan-jalan PertumbuhanRead More »

“Kala makna diperkaya, pengalaman kan penuh warna.” Kita bereaksi terhadap makna. Dan sebab inilah kita punya kebebasan, apapun keadaan. Kebebasan ini pula lah, yang kala tak dibebaskan, maka kan berbalik membelenggu. Sebab makna, jadikan segalanya tampak nyata. Padahal kenyataan, bagi diri ini selalu merupakan penafsiran. Dan penafsiran, sangat bergantung pada silabus makna yang kita miliki.

Perkayalah Makna-maknaRead More »

Pada artikel yang lalu saya telah membahas sedikit tentang kaitan sejarah antara NLP dan Human Potential Movement. Lebih lengkapnya silakan pelajari dalam buku karya L. Michael Hall, “Self Actualization Psychology”. Tentu, ini adalah penafsiran Hall, dan masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun setidaknya kita bisa mendapatkan sebuah gambaran yang lebih besar dan utuh tentang apa

NLP untuk Aktualisasi DiriRead More »

Dalam artikel yang lalu, saya telah membahas tentang sejarah NLP dan kaitannya dengan coaching. Saya bahkan ingin sekali mengatakan kalau NLP itu coaching banget. Dan coaching itu NLP banget. Hehe.. Dan sebuah artikel dari Coach Tjia rupanya menggelitik saya, judulnya “Coaching is Not Enough”. Menggelitik, sebab ia membahas coaching sebagai sebuah tren, yang kemunculannya belakangan

Kapan Coaching Digunakan?Read More »

Abraham Maslow menyebutnya self actualized people. Carl Rogers, rekan seperjuangannya dalam membesarkan mazhab ketiga psikologi—Psikologi Humanistik—menyebutnya fully functioning person. Mudahnya, ia adalah orang-orang yang telah tumbuh sebagaimana mestinya. Menggunakan relasi dengan pendekatan spiritual, ia lah manusia yang menjadi seperti yang Tuhan ciptakan. Orang yang kokoh secara personal, secara karakter, dan kokoh pula secara sosial. Maka

Dari Maslow, ke NLP, ke CoachingRead More »

Misi dan Tujuan telah dimiliki, bagaimana menjadikannya nyata? Inilah tantangannya. Sebab bermimpi itu enak, maka ada banyak orang yang berhenti disitu, dan merasa bahwa segalanya telah dimiliki. Padahal adalah hak sebuah impian, untuk diwujudkan. Jika kita telah berani bermimpi, kita mesti sungguh-sungguh mewujudkannya. Atau kalau tidak, impian itu akan menghantui masa depan kita, menuntut haknya.

Mind into Muscle: Dari Misi Menjadi AksiRead More »

Setelah kita sadari kemampuan mengelola pikir dan rasa, setelah kita bisa merasa bahagia sebab pilihan dan bukan keadaan, lalu apa? Apa lagi yang penting dilakukan? Insan yang bertanggung jawab atas responnya tentu takkan berhenti hanya karena ia mampu mengotak-atik pikirannya. Ia akan melangkah maju untuk bertanggung jawab atas nasibnya. Sebab nasib adalah di tangannya, menari

Kenali Misi, Tetapkan TujuanRead More »