“Kebaikan tanpa iman laksana buih di lautan. Ia bertebaran namun tak hadirkan keselamatan.” Beriman itu sederhana. Ia adalah pernyataan hati, dilanjutkan lisan, dijadikan perbuatan. Yang tak sederhana adalah diri yang kerap berpikir kesana kemari. Terjebak pada pandangan sempit yang ada di hadapan, lalai pada telah menunggunya keabadiaan. Pandangan sempit inilah yang acapkali menyisipkan pemahaman bahwa […]
Category: Reflections
“Para berilmu tahu benar beban ilmu, hingga tak sanggup banyak bicara kala semakin banyak nan dipahami.” Terngiang lah sebuah nasihat, “Hak sebuah ilmu, adalah diamalkan.” Ah, betapa berat ia terasa. Sebab pada segala hak, kan menuntut pertanggung jawaban. Yakni setiap ilmu yang tak diamalkan, kan jadi penuntut besar di hari akhir nanti. Tak heranlah, kiranya
“Tiap pemimpin selalu memiliki waktu tuk menyendiri. Mengurai makna-makna, membarukan jiwa.” Adalah tabiat diri tuk mengambil waktu menyendiri. Sebab di tengah keriuhan, memang banyak hal berharga dialami, namun sulit bagi diri tuk mengambil hikmahnya. Menyendiri, memungkinkan diri menjaga jarak dengan kenyataan, demi menelaah setiap langkah, dan menyusun mozaik pembelajaran dengan indah. Para pemimpin—dan sejatinya tiap
“Tubuh adalah tentara jiwa. Sucikan jiwa, agar tubuh melangkah di jalan kesucian.” Mudah bagi kita, mengetahui apakah seseorang tersenyum dengan tulus atau tidak. Cukup nikmati senyumannya, dan rasakan apakah ia menggerakkan hati tuk membalasnya dengan ketulusan. Jika tak sedikit pun hati tergerak, maka seindah apapun senyuman itu tampak, sejatinya ia jauh dari tulus. Berapa banyak
Bagaimana? Sudah selesai menulis Pernyataan Misi Pribadi? Belum? Baru draft? Tak apa. Memang demikian. Sudah memulai berarti sudah bagus. Sangat bagus. Selayaknya kompas, dalam perjalanan ia harus sering-sering ditengok. Begitu pun dengan misi. Sering-sering lah dibaca, agar kita tak kehilangan arah dalam hidup. Saya mendapati, sobat-sobat yang berpotensi besar namun tak kunjung menunjukkan kontribusi yang
“Completion means you know what works. Failure means you know what doesn’t.” Tak ada yang sia-sia bagi para pembelajar sejati. Setiap kejadian selalu menghadirkan makna yang rugi jika tak dipetik. Penyelesaian, keberhasilan, bukanlah semata sebuah kebanggaan. Bangga, tentu. Tapi rasa bangga acapkali tak membuat maju, kecuali jika ditelisik lebih dalam maknanya. Dan bagi para pembelajar,
“Keahlian tak datang tiba-tiba. Ia berasal dari terbasahinya diri dengan berliter-liter peluh.” Para ahli tampak indah, tapi jangan tertipu dan menyangka menjadi seperti mereka semata mudah. Sebagaimana setiap lelaku berasal dari pembiasaan, begitu pun keahlian. Ia yang ahli, telah membayar harga yang tak sedikit, hingga kini bisa menikmati beragam kemudahan. Ibarat pohon yang perlu menghujamkan
“Kejujuran itu berat di awal, kebohongan itu berat di akhir. Yang pertama melegakan, yang kedua menggelisahkan.” Jujur, adalah kata yang indah. Ia adalah sesuatu yang secara alamiah disukai jiwa, siapapun ia. Tak hanya orang yang benar, bahkan para penjahat pun menghendaki kejujuran di antara mereka. Namun adalah tabiat setiap yang berharga untuk memang ada harganya.
Kemarin aku menonton Breaking Dawn bagian kedua. Film ini adalah seri terakhir dari sekuel Twilight Saga, kisah gubahan Stephanie Meyer tentang kisah romantis para vampir. Meski mengikuti keseluruhan kisahnya, baru kemarin terbit sebuah tanya dalam hati. Pertanyaan yang begitu mengusik, menunggu jawaban. Kisah kehidupan abadi para vampir jelas sebuah dongeng belaka. Bahkan konon kisah itu
“Kenalilah kadar dirimu,dengan mengenali apa-apa yang menggelisahkanmu.” Sesuatu yang menggelisahkan, adalah sesuatu yang mampu mengambil porsi cukup besar dalam pikiran, hingga meresap dan menggugah perasaan. Sungguh tak mudah bagi sebuah perkara untuk menghadirkan rasa gelisah, sebab ia mesti berebut dengan jutaan informasi lain yang hadir di sekeliling. Tengoklah sejarah hidup diri ini, niscaya kita kan

Recent Comments