Ujung dari pembelajaran adalah hasil. Dan hasil lahir dari tindakan. Tindakan lahir dari keterampilan. Keterampilan lahir dari latihan. Latihan yang benar memerlukan pengetahuan dan pemahaman. Tugas guru paling dasar ialah membantu kita tahu dan paham. Itupun berdasarkan pengalaman beliau, yang secara prinsip mungkin masih relevan, namun secara praktis tentu akan berbeda dengan kondisi yang kan […]
Author: Teddi Prasetya
“Salah satu penghalang ilmu”, demikian sebuah nasihat, “ialah pikiran ‘Aku sudah tahu’.” Ya, begitu terlintas dalam pikiran bahwa diri ini pernah tahu, pernah belajar, apalagi pernah mendalami, seketika itu pula pintu pertanyaan tertutup. Kita tak lagi bertanya. Kita tak lagi berminat. Dan kita menutup diri. Jika pun ilmu baru masuk, ia kan tertolak tanpa disadari.
Ada sebuah kondisi menantang yang kutemukan beberapa tahun belakangan ketika memfasilitasi pembelajaran di organisasi. Tak seperti di masa sekolah ketika kegiatan utama murid memang ada belajar, pembelajaran pada orang dewasa bukanlah menu utama. Ia masuk dalam kuadran waktu kategori penting namun tidak mendesak. Ya, belajar adalah aktivitas yang diakui oleh semua orang sebagai sesuatu yang
Seorang guru memahami apa yang pas untuk diajarkan pada murid. Tidak saja bahan, melainkan juga bagaimana ia dipelajari. Maka bagian dari adab belajar ialah mempersiapkan diri tuk menerima apa yang diberi dengan sebaik-baiknya. Menerima dengan penuh kesungguhan, dengan menyimak dan mencatat. Keduanya adalah bagian penting yang akan menjadikan ilmu bagian dari diri, tak hanya tersimpan
Ada hak pada ilmu, yakni tuk diamalkan. Dijadikan manfaat. Ilmu tersia-sia jika tersimpan dalam ingatan belaka. Lebih buruknya lagi, tak teringat pula, tersebab tak ia dipraktikkan, sedang praktik itu sendiri memperkokoh ingatan. Maka salah satu kewajiban pembelajar adalah memastikan tiap yang diketahui mewujud jadi hasil. Bergerak dari tahu, paham, mampu. Sisi lain, ada risiko kala
“Ini zaman serba cepat. Yang tak cepat kan tertinggal.” Demikian ungkap banyak orang masa kini. Dan aku pun sempat setuju. Maka dalam pikiranku, banyak hal mesti dipercepat. Atau setidaknya, berusaha dipercepat. Sebab yang lambat-lambat memang tak punya tempat. Namun beberapa hari lalu, ada sebuah kalimat yang membuatku tertegun. Berasal dari seorang pakar manajemen kenamaan, Tom
Ilmu memang milikNya. Namun kita sulit mendapatkan langsung dariNya. Dia minta kita mencari, dengan kesungguhan hati, sebab memang ia tersebar pula di sepanjang jalan, tak hanya di tujuan. Maka cara paling dasar belajar ilmu adalah melalui guru. Seorang yang telah paham dan mampu terlebih dahulu. Kita berutang pada guru. Sekali, dan selamanya. Karena takkan mungkin
Ada 3 jenis insan yang Dia jelaskan pada pembukaan kitabNya. Satu di antaranya selamat, dua di sisanya celaka. Yang selamat adalah ia yang telah diberikan nikmat. Mereka yang dikisahkan dalam berbagai tempat di sepanjang jalan. Dan nikmat itu jelas bukan nikmat dunia, meski sebagian di antaranya dikaruniai. Nikmat itu nikmat di akhirat sana. Yang celaka
Satu pagi kusadari, bahwa perbedaan hari yang indah dan biasa saja—bahkan buruk—sebenarnya tak banyak. Ia sedikit saja. Melakukan yang sedikit, tapi rutin, adalah kunci keindahan. Bangun pagi, ujian dimulai. Mata mengantuk. Tubuh lelah. Berikut beragam alasan yang melatarbelakangi keduanya. Sedikit saja kuizinkan mata tuk menutup lagi, sungguh kan berbeda kala kukuatkan hati tuk bangun, berdiri,
Jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. Wajarlah jika inilah dambaan insan yang sedang bepergian. Adanya jalan lurus selain memudahkan juga menghemat banyak sekali sumber daya. Tidak perlu banyak berpikir. Cukup lurus saja. Namun yang diidamkan memang tak selalu ada dalam kenyataan. Atau setidaknya, tak pernah benar-benar ada 100 persen. Jalan lurus seperti jalan

Recent Comments