Tiada manusia sempurna. Bahkan ketaksempurnaan itulah sebenarnya kesempurnaan. Sebab sempurnanya manusia ialah kemampuannya tuk memperbaiki diri, yang darinya ia menapak naik dari anak tangga terendah ke puncak nan paling tinggi. Maka berguru pada manusia, berarti menyadari bahwa ia tetaplah tak lepas dari cela. Ada kurang dalam langkahnya. Ada tabu dalam katanya. Sebagaimana ada pula elok […]
Author: Teddi Prasetya
Dari pesan-pesan awal kitab suci kita belajar, bahwa sikap alamiah makhluk ketika dihadapkan pada pengetahuan adalah kekaguman. Masih pada pesan-pesan awal pula, kita diajak untuk memasang sikap tak mengerti, knowing nothing. Inilah sikap sejati pembelajar, yang akan mengantarkannya pada hal baru pada tiap nan ditemui. Sebab ilmu laksana air, hanya mengalir ke tempat yang lebih
Meminjam model Taksonomi Bloom yang telah disempurnakan oleh Anderson dan Krathwol, maka proses belajar dimulai dari mengingat, lalu memahami, baru bisa mengaplikasikan, kemudian menganalisa, naik ke mengevaluasi, hingga kemudian menciptakan. Dari sini, kita bisa menarik simpulan bahwa ilmu itu berjenjang. Berjenis-jenis. Ia tak hanya satu, dan karenanya tak dipelajari dengan satu cara saja. Benarlah sebuah
“Berjalankah terus, meski ada rintangan.” “Alon-alon, waton kelakon.” Biar lambat, asal tertunaikan. Kerap juga dimaknai, biar lambat, asal selamat. Inilah nasihat yang kerap kudengar sebagai keturunan orang Jawa Tengah. Nasihat yang kemudian rupanya menimbulkan kesalahpengertian yang fatal. Kok fatal? Ya. Sebab nasihat ini acapkali dimaknai sebagai penyebab banyak orang bergerak lambat, tak ingin bergegas, tak
“Ada jauh lebih banyak rahasia, dari apa yang terucapkan.” Kata adalah simbol makna. Dan makna, lahir dari proses asosiatif yang terjadi dalam pikiran dan perasaan kita. Menariknya diri kita, tiap makna bisa berkait, hingga tak berujung. Jadilah kita dapati, sebagian insan mampu bertindak di luar dugaan, hanya demi mendengar satu kata atau satu kalimat saja.
“Kenikmatan di tujuan, adalah puncak dari kenikmatan di perjalanan.” “Aku selalu ingat kata mama,” ujar istriku tentang ucapan ibunya, “kalau menggoreng ayam mau dagingnya empuk itu harus pakai api kecil. Memang lebih lama, tapi rasanya lebih enak.” Ajaran ini selalu dipraktikkan istriku setiap kali memasak. Apalagi, anakku menyukainya. Ia kerap protes ketika digorengkan oleh orang
“Sedikit lagi. Tambah lagi. Adalah mantra untuk meningkatkan diri.” Dulu aku kerap bingung, mengapa perubahan yang kuinginkan pada perilakuku kerap berujung pada kegagalan. Sampai ku temui kembali—sebab ia sebenarnya telah sering pula ku dengar—sebuah sabda Sang Nabi yang mengatakan, “Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” Seorang guru pernah
“Kita bukanlah apa yang kita miliki. Kita adalah apa yang kita beri.” Apapun yang kita miliki, dan berada dalam pundi-pundi, belumlah memiliki arti. Ketika usia kita diakhiri, seketika semua hilang, dan tak kita bawa mati. Ya, sebab yang kita segala miliki hanyalah alat untuk mengerjakan apa nan jadi kewajiban. Uang, belum berarti dan jadi tabungan
“Tak semua orang ingin menjadi ahli. Buktinya, tak semua orang mau tekun menempa diri.” Disebut unggul, lantaran seseorang memiliki sesuatu yang berarti, yang tak dimiliki oleh orang lain. Karenanya lah keunggulan disebut juga dengan advantage, keuntungan. Dari keunggulan, insan mudah dikenali, dan mudah dipilih orang. Kenallah kita dengan Michael Porter, yang konsepnya tentang competitive advantage
“Tak ada kata menunggu, ketika ada buku.” Menunggu itu hanya terjadi pada mereka yang tak berteman dengan buku. Sebab menunggu, yang kerap identik dengan kesan membosankan itu, adalah kekosongan aktivitas tersebab tak ada rencana untuk melakukan sesuatu di kala itu. Jika ada rencana, tentu bukan menunggu namanya. Dan biasanya, terjadi menunggu ini karena ia tak

Recent Comments