“Dua cara menyikapi harga naik adalah: mengurangi pengeluaran atau menambah penghasilan.” Harga bahan bakar minyak sudah baik. Dan diperkirakan, banyak harga lain akan mengikuti. Sebab kita tak punya kuasa tuk mencegahnya, maka mari kita renungi sejenak apa yang bisa kita lakukan. Ada 2 cara menyikapi kenaikan harga. Pertama, mengurangi pengeluaran. Kedua, menambah penghasilan. Keduanya benar […]
Category: Reflections
Sungguh Dia sangat ingin kita masuk surga. Demikian inti khutbah Jum’at di Masjid Al Falah, 21 Juni 2013. Kala Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dibelenggulah setan-setan. Bukankah ini pertanda betapa Dia sangat ingin kita masuk surga? Dia ciptakan neraka sebagai hukuman bagi orang-orang yang lalai hingga ajal menjemput, namun berapa banyak jalan
“Ilmu datang sebab kerendahan hati. Keangkuhan adalah dinding tebal penghalang cahaya.” Teringat kembali sebuah nasihat bijak, bahwa ilmu laksana air, hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah. Untuk menerima kucuran teh, cangkir mesti diletakkan di bawah teko. Sesedikit apapun teh tersisa di teko, kala cangkir bersabar berada di bawahnya, kan mengalir jua mesti setitik. Dan
“Jika pun kau berhenti sekolah, jangan pernah berhenti belajar.” Belajar adalah keniscayaan. Kebutuhan. Insan yang ingin terus hidup mesti terus belajar. Sebab zaman berubah, belajar adalah cara tuk terus mengiringi perubahan zaman. Layaknya dua orang yang berjalan beriringan, salah satunya kan tertinggal, bahkan tersesat, kala langkah tak sama cepat. Kemampuan belajar adalah kemampuan dasar tuk
“Dua modal dasar pembelajar adalah rasa hormat, dan rasa ingin tahu.” Ya, ada dua modal dasar bagi pembelajar, apapun bidang nan ditekuninya. Pertama adalah rasa hormat (respect). Kedua adalah rasa ingin tahu (curiosity). Rasa hormat, menjadikan diri ini mampu belajar dari siapa saja. Sebab kala insan menghormati orang lain, terbukalah pikirannya, terbukalah hatinya, hingga ilmu
“Halangan terbesar untuk menjadi ahli adalah kesuksesan.” Ini adalah paradoks yang baru belakangan saya pahami. Fitrah insan menginginkan kesuksesan, mendamba keberhasilan. Namun banyak diri yang belum sadar, bahwa pada setiap hal ada 2 sisi: kebaikan dan keburukan. Kebaikan kala ia tepat dosisnya. Keburukan kala ia kurang atau berlebihan. Ya, tak ada kebaikan pada segala yang
“Guru yang baik, tak pernah pensiun sebagai murid yang baik.” Guru yang baik, adalah ia yang mampu mengajak murid dari pelajar menjadi pembelajar. Pembelajar, adalah mereka yang terus bergairah dengan ilmu, meski telah bertahun-tahun usai dari rutinitas sekolah, atau bahkan tak pernah sekolah sama sekali. Pembelajar, adalah mereka yang memahami bahwa ilmu sejati ada dalam
“Risaulah pada yang tak pasti. Jangan merisaukan yang telah pasti.” Sungguh rezeki telah pasti. Tuhan telah janjikan, jika diri ini tak percaya, lalu pada siapa lagi hendak percaya? Bukankah kala seseorang telah menjanjikan dengan kepastian, kita bisa merasakan tenangnya hati? Padahal ia hanya lah insan biasa, nan jauh tak berdaya dibanding Penciptanya. Maka kerisauan akan
“Telah Dia kucurkan rezeki nan tak kau minta, lalu bagaimana kah kau hendak ragu pada sedikit yang kau minta?” Sungguh Dia Maha Pemurah, pada insan nan bertumpuk dosa, tak pernah rezeki berhenti mengalir. Bukankah udara diberikan sama pada ahli ibadah dan pelaku dosa? Bukankah tubuh dijadikan tetap sehat meski banyak maksiat? Bukankah kepala ditegakkan meski
“Kala makna diperkaya, pengalaman kan penuh warna.” Kita bereaksi terhadap makna. Dan sebab inilah kita punya kebebasan, apapun keadaan. Kebebasan ini pula lah, yang kala tak dibebaskan, maka kan berbalik membelenggu. Sebab makna, jadikan segalanya tampak nyata. Padahal kenyataan, bagi diri ini selalu merupakan penafsiran. Dan penafsiran, sangat bergantung pada silabus makna yang kita miliki.

Recent Comments