“Menghitungi nikmat dalam diri, kusadari, sejatinya tak ada ruang tuk mengeluh.” Hikmah ini kupetik entah dari mana. Kubagian sebab ia membantuku tuk belajar mensyukuri tiap hal. Sudikah, wahai diri, jika sebelah matamu ditukar dengan uang 1 miliar? Tidak? Maka sejatinya kau telah memiliki 1 miliar lebih. Sudikah, wahai diri, jika salah satu jari kelingkingmu ditukar […]
Category: Reflections
“Pada tiap lelaku, ada bekas kebaikan dan keburukan.” Lelaku hanyalah buah kondisi jiwa. Jiwa yang sehat, jernih, terhubung pada Sumbernya, kan lahirkan lelaku yang lurus, teguh, dan memikat hati. Sebab tubuh adalah tentara jiwa. Meski serupa, senyum yang terbit dari ketundukan sungguh berbeda dibanding yang lahir dari keangkuhan. Teringatlah kita pada sebuah nasihat bijak, “Tetanda
“Sungguh kita hidup dalam kehormatan sebab Dia tutupi banyak keburukan. Lalu dimana hendak bertinggi hati?” Tiada orang pernah tahu siapa diri ini sebenarnya. Begitu banyak hal, sengaja maupun tidak, kita tutupi, atau tertutupi. Dan karenanya kita mendulang kehormatan. Sayang tak banyak insan sadar akan hal ini, hingga hidup nyaman seolah ia mulia sebagaimana adanya. Padahal
“Jangan banding-bandingkan dirimu dengan orang lain, tapi belajarlah padanya.” Tak perlu diri membanding-bandingkan dengan orang lain, sebab tiap diri sungguh telah diciptakan berbeda, dengan tugas masing-masing. Apalagi jika pembandingan itu malah menjadikan diri terpuruk, dan tak tergerak untuk bangkit. Waktu terus berjalan, tugas mesti ditunaikan, keterpurukan hanya lah kesia-siaan. “Bukankah kita mesti melihat orang lain,
“Bagaimana shalat tak mencegahmu dari kekejian, sedang dalam tiap gerak dan katanya mengandung jutaan kebaikan?” Sungguh menohok terasa kalimat di atas kala pertama kudengar. Menohok, sebab ia benar adanya. Shalat dipersiapkan sebagai ibadah yang kan dihisab paling pertama, sebab begitu banyak keutamaan di dalamnya. Sedikit saja ilmu agama nan diresapi sejatinya telah membuka mata bahwa
“Merasa diri layak mendapat pujian, bukanlah tanda insan nan terpuji.” Segala hal milik Allah. Langit nan tinggi, laut nan luas, gunung nan kokoh, debu nan halus. Dan tiada satu pun yang tercipta, melainkan atas kehendakNya. Sungguh diri takkan sanggup mencipta, barang sesayap lalat, kecuali hanya semacam tiruan, itu pun masih menggunakan ciptaanNya yang lain. Lalu
Ada yang berharap menjadi manusia luar biasa, padahal ia biasa saja. Ya, apapun yang bisa dilakukan oleh seseorang, ia kan tetap menjadi manusia. Ia takkan menjadi malaikat. Sebab menjadi manusia sejatinya berpotensi lebih mulia. Memiliki impian besar itu sungguh biasa bagi manusia. Maka mereka yang berani bermimpi, sungguh adalah orang biasa. Begitu pun mereka yang
Sebuah mobil mengambil jalur busway, jalur yang bukan haknya. Tak butuh beberapa menit untuk kita mendapati sederetan mobil mengikuti di belakangnya. Dosa jariyah. Sebuah sepeda motor memotong taman pembatas jalan. Rupanya ini telah jadi kebiasaan, sebab pada taman itu tampak jalur bekas roda membelas rerumputan. Entah siapa yang memulai. Tapi ini pun, dosa jariyah. Di
Perayaan hari kartini di sekolah anakku minggu lalu sekali lagi meyakinkanku bahwa anak-anak di era ini hampir tak punya masalah dengan percaya diri. Dulu, sungguh naik panggung merupakan salah satu aktivitas yang teramat jarang terjadi padaku. Ketika terjadi, biasanya aku membutuhkan waktu cukup lama untuk mempersiapkan diri. Itupun tak selalu berakhir dengan membanggakan. Lebih sering
Siang ini saya berbincang dengan seorang sahabat, Mas Kartiko Adi Pramono. Beberapa lama, diskusi pun mengerucut pada soal keinginannya menulis sebuah buku. Salah satu hambatan yang ia rasakan adalah adanya kekhawatiran kalau tulisan yang dibuat tak benar sepenuhnya, padahal mungkin isinya diikuti orang. “Sebab ilmu kan hanya apa kata Allah, dan apa kata rasul,” demikian

Recent Comments