Adalah Erich Fromm, psikolog kenamaan asal Jerman itu yang menulis sebuah karya bertajuk “To Have or To Be”. Sebuah karya yang menggelitik penglihatan saya zaman kuliah dulu. Bukan saja karena ia memiliki pandangan berbeda dibanding para tokoh alumni psikoanalisa lainnya, tapi juga sebab gaya menulisnya yang bercita rasa sastra. Namun saya tak sedang ingin membahas […]
Category: Reflections
“Uang itu alat. Maka ketahuilah untuk apa ia kan kau gunakan sebelum kau mengumpulkannya.” “Tujuan menentukan cara. Menentukan mau kemana, harus mendahului daripada menentukan mau naik apa,” demikian sebuah nasihat bijak. Maka cermatilah, wahai diri, apa-apa saja dalam hidup yang merupakan tujuan, dan apa-apa saja yang sejatinya adalah cara. Kenalilah mana yang manfaat, dan mana
“Apa-apa yang belum kau pahami, adalah jalan tuk pertumbuhanmu.” Kita bertumbuh, setiap kali hadir sebuah tanya. Sebab pertanyaan, adalah jalan tuk ditemukannya banyak jawaban. Maka meski jawaban tersedia di hadapan, jika tak hadir pertanyaan, tidak lah ia kan mengemuka. “Mengajukan pertanyaan,” kata orang bijak, “adalah kecerdasan tersendiri.” Ya, karena dalam nasihat lain disebutkan, “Pertanyaan itulah,
“Tiap langkah salah bukanlah akhir dunia. Ia lah ruang pembelajaran.” “Berbuat salah itu boleh,” ujar seorang guru, “yang harus kau hindari adalah berbuat dosa.” Aku sepakat dengan nasihat itu. Meski memang perlu kita perjelas lingkupnya. Yakni kesalahan, memang ada 2 jenis: yang memiliki kandungan dosa, dan yang tidak. Untuk yang memiliki kandungan dosa, mestilah kita
“Muliakanlah ilmu, dengan baiknya laku.” Baiknya, kita memang mesti membedakan antara ilmu dan siapa yang menyampaikan. Sebuah nasihat, bahwa jangan pernah melihat dari siapa sebuah ilmu terucap, melainkan terima saja ia sebagai petunjuk jika memang kebaikan terkandung di dalamnya. Namun sungguh sulit bagi mata awam, untuk memisahkan apa nan dikatakan dengan siapa yang mengatakannya. Tak
“Terlalu banyak gula buat minuman tak nikmat. Terlalu banyak kesenangan buat jiwa tak sehat. Cukupkanlah.” Nikmatnya teh dengan dua sendok gula, kan segera sirna kala ditambahkan 1 sendok lagi. Sebab sesuatu yang melebihi takaran acapkali memang kan menghilangkan keindahan. Hanya ia yang cukup, jadikan kenikmatan termaktub.
“Kedamaian bukan hadir sebab menghindari keriuhan. Ia terbit sebab menekuni apa-apa yang berarti.” Cermati para anak usia dini, kala mereka sanggup mengerjakan sesuatu sendiri, terbitlah sumringah dalam senyum yang merekah. Ya, ada fitrah dalam diri untuk menjadi insan yang berarti. Ada kerinduan yang mendalam, ketika keseharian jauh dari pekerjaan yang hadirkan makna.
“Tuhan tidak membutuhkan usahamu untuk memberikan hasil yang kau perlukan. Kau lah yang memerlukan usahamu agar layak menerima hasil yang Dia berikan.” Bukan sebab Dia tak mampu, maka kau belum dapatkan apa yang termaktub dalam doamu. Maha Suci Dia, dari ketidakmampuan. Tapi Dia jelas lebih tahu, apakah pintamu, memang yang terbaik untuk keabadian hidupmu. Maka
“Memaafkan adalah mengambil hikmah, dan meninggalkan perniknya.” “Marah dan kecewa,” ujar nasihat jernih, “seringkali bukan merupakan emosi utama. Maka mengikutinya hanya kan membuatmu tersesat.” Dalam ranah psikologi, kita dapati istilah primary dan secondary emotion. Kala kita sedang berkendara, lalu menyeberanglah seseorang tanpa aba-aba, seketika emosi terkejut terbit dalam diri.
“Berqurban lah sepenuh jiwamu. Agar terputus kecintaan pada apa-apa yang sementara.” Sungguh miris kutengok diriku. Untuk sebuah gadget, hampir tak pernah ku berpikir panjang membelinya, kala memang dibutuhkan dan dana tersedia. Tapi ketika tiba lah seruan untuk berqurban, selalu saja jiwa ini lemah, dan mencari alasan kuat hingga akhirnya bisa melakukannya. Ya, aku pun berqurban,

Recent Comments