Aku sedang di Ambon. Ini adalah untuk pertama kalinya dalam hidupku, menginjakkan kaki di bumi pahlawan Pattimura dulu memimpin perjuangan. Bumi indah yang sempat beberapa tahun mengalami konflik yang—katanya—bermotifkan agama. Ah, tapi aku sedang tak ingin membahas itu. Aku ingin bercerita tentang sebuah pembelajaran yang kudapat dari salah seorang yang menjemputku di bandara, sewaktu kami […]
Author: Teddi Prasetya
Jamak di zaman ini, perusahaan yang tak peduli dengan keshalihan pribadi karyawannya. Urusan spiritual, memang bukan urusan bisnis. Ia ditengarai tak berhubungan. Sejauh seorang karyawan menjalankan tugasnya, dan mencapai hasil yang ditargetkan padanya, silakan saja seperti apa kehidupan spiritualnya. Menarik untuk mencermati fenomena ini, sebab di zaman ini pula dunia korporasi menghadapi beragam persoalan moral
Berangkat kerja jam 05.30 pagi, sampai di kantor jam 07.30. Pulang kerja jam 17.30, sampai di rumah jam 19.30. Itu adalah jadwal dalam kondisi normal, orang-orang yang bekerja di Jakarta. Kelas menengah, yang tinggalnya di pinggiran kota. Belum termasuk jika ada tugas yang menghendaki pulang lebih akhir, hingga terkadang jam 20.00 baru berangkat dari kantor.
“Menjadi pemimpin, adalah perjalanan untuk menjadi diri sendiri, mengekspresikan kesejatian yang telah Tuhan hadirkan.” Sebab tiap orang adalah pemimpin, dan akan mempertanggungjawabkan setiap hal yang diamanahkan kepadanya, maka menjadi pemimpin memang bukanlah menjadi orang lain. Pun, bukan pula menjadi seseorang yang heroik nan selebritik. Memang, ada para pemimpin yang akan berdiri di garda depan, memimpin
“Mas, kok saya lihat Mas nggak mencantumkan tag line sih? Misal seperti ‘Motivator X, atau Inspirator Y?” tanya seorang sahabat. “Karena saya memang tidak layak memasang gelar apapun,” jawab saya. Dengan nada heran, sahabat saya pun bertanya kembali, “Loh, bukannya itu penting ya Mas untuk personal branding? Kita kan harus menentukan brand kita akan seperti
Duhai Rabb, akankah ku kembali padaMu, sedang kini, surga terasa begitu jauh Satu laku baikku, ku tak pernah yakin akankah ia bernilai di sisiMu Sedang satu laku burukku, jelas melebarkan jalan menuju siksaMu
Agak terkejut aku malam ini, mendapati sebuah handuk di kamar mandi, telah mengalami sedikit perubahan bentuk. Handuk itu, yang beberapa waktu ini memang sedang kami pakai, kini tinggal separuh. Dipotong dengan rapih, lalu dijahit kembali. “Handuknya dipotong ya?” tanyaku pada istriku.
Adalah Erich Fromm, psikolog kenamaan asal Jerman itu yang menulis sebuah karya bertajuk “To Have or To Be”. Sebuah karya yang menggelitik penglihatan saya zaman kuliah dulu. Bukan saja karena ia memiliki pandangan berbeda dibanding para tokoh alumni psikoanalisa lainnya, tapi juga sebab gaya menulisnya yang bercita rasa sastra. Namun saya tak sedang ingin membahas
“Uang itu alat. Maka ketahuilah untuk apa ia kan kau gunakan sebelum kau mengumpulkannya.” “Tujuan menentukan cara. Menentukan mau kemana, harus mendahului daripada menentukan mau naik apa,” demikian sebuah nasihat bijak. Maka cermatilah, wahai diri, apa-apa saja dalam hidup yang merupakan tujuan, dan apa-apa saja yang sejatinya adalah cara. Kenalilah mana yang manfaat, dan mana
Ada beberapa jenis kata dalam bahasa Inggris yang mengandung arti percakapan. Salah satunya adalah dialogue. Meskipun memang seringkali yang lebih banyak digunakan adalah kata conversation. Tapi kali ini saya sungguh ingin menulis tentang dialog. Sebab sebagai sebuah bentuk percakapan, ia memiliki makna yang menarik, dan dalam. Dialog, konon berasal berasal dari dua kata: dia dan

Recent Comments