“Pemimpin yang baik,” demikian sebuah nasihat, “mampu menghadirkan kepercayaan dari pengikut kepada dirinya. Sedang pemimpin yang hebat, mampu menghadirkan kepercayaan dari pengikut kepada diri mereka sendiri.” Tertegun saya membaca nasihat ini. Sebab apa yang selama ini saya pikirkan tentang menjadi pemimpin adalah jenis pemimpin yang baik saja. Ya, baik, tidak buruk. Namun juga belum hebat. […]

Social architecture, adalah istilah yang diajukan oleh Bennis dan Nanus dalam Leaders. Dan pemahaman pendek saya mengatakan ia memiliki makna yang berkaitan dengan budaya organisasi. Setelah seorang pemimpin berhasil mengajak seluruh tim untuk menyepakati sebuah visi, maka ia harus memastikan setiap langkah individu dalam organisasi berada dalam irama yang sama mencapainya. Caranya? Ya membangun arsitektur

Para Pemimpin #3: Menghadirkan Makna Melalui BudayaRead More »

Kemarin aku menonton Breaking Dawn bagian kedua. Film ini adalah seri terakhir dari sekuel Twilight Saga, kisah gubahan Stephanie Meyer tentang kisah romantis para vampir. Meski mengikuti keseluruhan kisahnya, baru kemarin terbit sebuah tanya dalam hati. Pertanyaan yang begitu mengusik, menunggu jawaban. Kisah kehidupan abadi para vampir jelas sebuah dongeng belaka. Bahkan konon kisah itu

Kerinduan pada KeabadianRead More »

Saat sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, mataku tertuju pada sebuah lowongan kerja yang ditulis pada selembar kertas, ditempel di depan sebuah toko. Ia berbunyi, “Dibutuhkan karyawan/karyawati: 1. Jujur, 2. Rajin, 3. Rapi, 4. Disiplin, 5. SMA.” Sekilas ia tampak biasa saja. Namun ada sesuatu yang menarik mencuat dalam benakku, menggerakkan tanganku untuk memotret lowongan

Kejujuran Itu HartaRead More »

“Berkali-kali kami temukan,” ujar Bennis dan Nanus, “para pemimpin melakukan hal yang sama setiap kali mereka ditugaskan memimpin organisasi—mereka amat perhatian pada apa yang sedang terjadi, mereka tentukan mana yang penting untuk masa depan organisasi, mereka tetapkan arah baru, dan mereka mengajak semua orang berkonsentrasi penuh terhadap arah itu.” Ya, semua orang tahu bahwa visi

Para Pemimpin #2: Mengarahkan Atensi Melalui VisiRead More »

Kisaran sebulan lalu, saya tergerak untuk membaca kembali buku klasik karya Warren Bennis—bersama Burt Nanus, bertajuk Leaders: Strategies for Taking Charge. Karya klasik ini bisa dikatakan salah satu karya terbaik Bennis, mendampingi karya lainnya On Becoming a Leader. Dan berbekal semangat meluap-luap, saya meniatkan diri untuk menulis rangkaian artikel membahas kedua buku tersebut. Selain sebagai

Para Pemimpin #1Read More »

“Kenalilah kadar dirimu,dengan mengenali apa-apa yang menggelisahkanmu.” Sesuatu yang menggelisahkan, adalah sesuatu yang mampu mengambil porsi cukup besar dalam pikiran, hingga meresap dan menggugah perasaan. Sungguh tak mudah bagi sebuah perkara untuk menghadirkan rasa gelisah, sebab ia mesti berebut dengan jutaan informasi lain yang hadir di sekeliling. Tengoklah sejarah hidup diri ini, niscaya kita kan

Mengenali Kadar DiriRead More »

Dimulakan dengan bismillah. Disudahi dengan alhamdulillah. Begitu lah sehari dalam hidup kita. Mudah-mudahan dirahmati Allah. Demikian lirik lagu ini dinyanyikan oleh Raihan, grup nasyid asal Malaysia itu. Bertahun-tahun lagu ini kudengar, baru beberapa bulan belakangan ia seolah mengantarkanku pada pemahaman yang berbeda soal basmalah. Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Inilah ucapan

Di Bawah Naungan BasmalahRead More »

Aku sedang gandrung dengan film bertajuk Umar. Serial kolosal ini sungguh memberikan gambaran yang—menurutku—cukup detil tentang perkembangan Islam di masa awal. Dan sebagai pencari di jalan kepemimpinan, perkembangan Islam telah melahirkan begitu banyak tokoh yang menyejarah, mengajarkan tentang kepemimpinan otentik. Ya, kepemimpinan yang tak sedikit pun memilik embel-embel duniawi. Murni, semurni-murninya niat. Ku teringat salah

Kepemimpinan adalah Soal Menunaikan TugasRead More »

“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata,” ujar sang murid mulia, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, “Lihatlah Musa as pernah melemparkan alwah (kepingan-kepingan) besi kalamullah yang ditulis dengan tangannya sendiri, kemudian memecahkannya, menjambak jenggot seorang nabi seperti dirinya, Harun, menampar malaikat mau sehingga copot, memprotes Allah pada malam Isra’ berkenaan dengan Nabi Muhammad SAW, sementara itu Allah

Tak Ada Alasan tuk Bermalas-malasanRead More »