“Ketidaksempurnaanmu, adalah jalan Tuhan tuk menyempurnakanmu.” Dulu kita tak sanggup mengurus diri barang sejenak. Begitu banyak kesulitan kita lalui, hingga akhirnya mandiri lah diri ini. Dulu kita tak sanggup bicara barang sepatah. Begitu rumit terasa mengungkapkan perasaan dalam hati, hingga kita pun memahami bagaimana melincahkan lisan ini.
Author: Teddi Prasetya
“Tuhan selalu punya cara untuk mengajari kita bersyukur. Salah satunya adalah dengan tidak serta merta mengabulkan apa yang kita inginkan.” Apa yang kita inginkan, belum tentu apa yang kita butuhkan. Sebab tabiat keinginan, memang berasal dari nafsu, yang kala belum terdidik di jalan Tuhan, begitu mudah terombang-ambing oleh godaan. Kebutuhan, adalah segala yang benar-benar diperuntukkan
“Guru sejati, diamnya pun mengajari.” Adalah guru, yang konon digugu dan ditiru. Dikatakan konon, sebab menjumpai guru yang semacam ini memang sedang agak langka. Setidaknya yang menjadi demikian dengan penuh kesadaran, bahwa guru bukanlah sekedar profesi, melainkan jalan hidup. Menjadi guru, adalah sebuah pilihan untuk menjadi sungai ilmu, yang mengalirkan hikmah menuju muaranya. Sungai yang
Kala kanak-kanak, bolehlah kita hanya ingin bermain, tak pusing dengan hal yang dinamakan pekerjaan. Halal bagi kita berbuat salah, sebab setiap kesalahan adalah lahan pembelajaran. Sah saja ketika ada silap laku dan kata, karena semua maklum bahwa diri ini masih lugu, tak layak ditiru. Tapi lain cerita ketika kita beranjak dewasa. Kewajiban adalah kewajiban, tak
Satu kali saya pernah berbincang dengan seorang kawan tentang kisah-kisah masa sekolah kami. Beberapa menit berjalan, sampailah kami pada tema, “Anak zaman sekarang mah enak. Segala macam ada, sumber pengetahuan juga banyak, tinggal browsing. Teknologi canggih.” Saya pun sempat mengamini opininya, sembari menimpali, “Iya ya. Dulu, guru kita satu-satunya sumber ilmu. Sekarang, murid bisa jauh
“Cinta adalah buah dari mencintai. Bibitnya adalah ikhlas. Bunganya adalah rindu.” “Wit ing trisno,” nasihat orang tua Jawa, “jalaran sako kulino.” Dengan bahasa mudah, dikatakan bahwa pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta menurut ajaran ini, diibaratkan seperti pohon. Layaknya pohon, agar kita dapat nikmati buahnya, perlu lah kita tanam bibit nan baik, merawatnya penuh kesungguhan,
“Merasa tahu, adalah tanda ketidaktahuan.” “Bagaikan padi,” ungkap ajaran bijak, “semakin berilmu seseorang, semakin ia merunduk.” Sebuah nasihat yang masuk akal, sebab adalah niscaya bagi sesuatu yang semakin berisi untuk semakin berat. Tengoklah tubuh nan gemuk, niscaya berat baginya berjalan. Cermatilah pula kendaraan nan penuh beban, pastilah ia lambat meluncur.
“Di sebalik keburukan seseorang, sadarilah kebaikannya. Di sebalik kebaikan seseorang, maklumilah kekurangannya.” Adalah fitrah bagi jiwa tuk cenderung pada kebaikan. Pun adalah fitrah bagi jiwa tuk abai pada keburukan. Maka apa yang baik, pastilah kita dekati. Begitu pun apa yang buruk, jelas lah kita jauhi. Ini jelas, tak perlu jadi soal. Yang menantang, sungguh bukan
“Dimana kah letak keangkuhan, kala mengenang dari apa diri bermula, dan bagaimana ia kan berakhir?” Keangkuhan, secantik apapun bentuknya, takkan pernah menarik hati. Sebab keangkuhan, sejatinya bukanlah alami. Ia buatan, hasil dari kealpaan kita akan 2 hal: dari apa diri bermula, dan bagaimana diri kan berakhir.
Adakah kau percaya pada kesempurnaan penciptaan Tuhan, wahai diri? Bahwa Dia ciptakan segala tanpa cacat, tanpa kesia-siaan? Maka sungguh berani jiwa yang mengatakan dirinya biasa belaka, hidup layaknya air mengalir, mengikuti arus kian kemarin. Sebab dengannya ia katakan Tuhan lalai dalam penciptaan, Dia hadirkan makhluk tanpa tujuan.

Recent Comments