Kala kanak-kanak, bolehlah kita hanya ingin bermain, tak pusing dengan hal yang dinamakan pekerjaan. Halal bagi kita berbuat salah, sebab setiap kesalahan adalah lahan pembelajaran. Sah saja ketika ada silap laku dan kata, karena semua maklum bahwa diri ini masih lugu, tak layak ditiru. Tapi lain cerita ketika kita beranjak dewasa. Kewajiban adalah kewajiban, tak […]
Author: Teddi Prasetya
Satu kali saya pernah berbincang dengan seorang kawan tentang kisah-kisah masa sekolah kami. Beberapa menit berjalan, sampailah kami pada tema, “Anak zaman sekarang mah enak. Segala macam ada, sumber pengetahuan juga banyak, tinggal browsing. Teknologi canggih.” Saya pun sempat mengamini opininya, sembari menimpali, “Iya ya. Dulu, guru kita satu-satunya sumber ilmu. Sekarang, murid bisa jauh
“Cinta adalah buah dari mencintai. Bibitnya adalah ikhlas. Bunganya adalah rindu.” “Wit ing trisno,” nasihat orang tua Jawa, “jalaran sako kulino.” Dengan bahasa mudah, dikatakan bahwa pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta menurut ajaran ini, diibaratkan seperti pohon. Layaknya pohon, agar kita dapat nikmati buahnya, perlu lah kita tanam bibit nan baik, merawatnya penuh kesungguhan,
“Merasa tahu, adalah tanda ketidaktahuan.” “Bagaikan padi,” ungkap ajaran bijak, “semakin berilmu seseorang, semakin ia merunduk.” Sebuah nasihat yang masuk akal, sebab adalah niscaya bagi sesuatu yang semakin berisi untuk semakin berat. Tengoklah tubuh nan gemuk, niscaya berat baginya berjalan. Cermatilah pula kendaraan nan penuh beban, pastilah ia lambat meluncur.
“Di sebalik keburukan seseorang, sadarilah kebaikannya. Di sebalik kebaikan seseorang, maklumilah kekurangannya.” Adalah fitrah bagi jiwa tuk cenderung pada kebaikan. Pun adalah fitrah bagi jiwa tuk abai pada keburukan. Maka apa yang baik, pastilah kita dekati. Begitu pun apa yang buruk, jelas lah kita jauhi. Ini jelas, tak perlu jadi soal. Yang menantang, sungguh bukan
“Dimana kah letak keangkuhan, kala mengenang dari apa diri bermula, dan bagaimana ia kan berakhir?” Keangkuhan, secantik apapun bentuknya, takkan pernah menarik hati. Sebab keangkuhan, sejatinya bukanlah alami. Ia buatan, hasil dari kealpaan kita akan 2 hal: dari apa diri bermula, dan bagaimana diri kan berakhir.
Adakah kau percaya pada kesempurnaan penciptaan Tuhan, wahai diri? Bahwa Dia ciptakan segala tanpa cacat, tanpa kesia-siaan? Maka sungguh berani jiwa yang mengatakan dirinya biasa belaka, hidup layaknya air mengalir, mengikuti arus kian kemarin. Sebab dengannya ia katakan Tuhan lalai dalam penciptaan, Dia hadirkan makhluk tanpa tujuan.
“Keluhanmu, takkan mengubah takdirmu. Tapi syukurmu, bisa jadi.” Keluhan, adalah kewajaran yang lahir sebab tertutupnya mata dari jutaan makna yang terhampar di hadapan. Ungkap sebuah nasihat lama, “Gajah di depan mata tak tampak, semut di ujung lautan tampak.” Inilah tabiat diri, lebih mudah mengenali nan jauh, daripada nan dekat. Adalah Tuhan telah menyajikan kehidupan di
“Kecepatan, seringkali mengurangi penghayatan.” Kapan terakhir kali berjalan tergesa-gesa? Di kala keinginan untuk cepat sampai itu begitu besar, berapa banyak kah hal yang terlewat tak terperhatikan? Kapan terakhir kali makan tergesa-gesa? Mampukah mengingat nikmatnya setiap suapan dan kunyahan? Kapan terakhir kali berkendara tergesa-gesa? Adakah pemandangan sekitar tampak dengan indah?
Pilkada DKI baru usai. Kemenangan salah satu pihak telah diumumkan oleh beberapa lembaga survei. Respon masyarakat beragam, seberagam pilihan mereka. Bagi para pendukung calon yang diproyeksikan pemenang, ini adalah sebuah kabar gembira. Angin pembawa harapan makin sejuk berhembus terasa bagi mereka, menandakan Jakarta baru. Sementara itu, pendukung calon yang kalah pun tersenyum-senyum simpul, sambil berkata

Recent Comments