“Saya agak khawatir, kalau saya melulu memberi hadiah pada anak setiap kali mereka berperilaku sesuai keinginan, nanti mereka jadi tidak punya inisiatif,” keluh seorang kawan. Sebuah keluhan yang membuat pikiran saya merenung dalam, sebab ia pun kegundahan saya pula. Benarkah tepat mengiming-imingi seorang anak dengan hadiah? Bagaimana nanti jika ia berperilaku tergantung pada
Author: Teddi Prasetya
Sebuah obrolan bersama seorang sahabat terjadi, ketika ia bertanya, “Mas, bagaimana ya saya memotivasi anak-anak saya belajar. Mereka baru kelas 3 dan kelas 4 SD, tapi kok rasanya sudah tampak kejenuhan belajar. Padahal tugas dan tuntutan sekolah begitu tinggi.” Saya pun berkaca demi mendengar pertanyaannya. Sebuah refleksi yang seketika
“Sebab hidup adalah perjalanan, tinggalkan beban yang tak diperlukan.” Demikian sebuah nasihat hadir, mengajarkan bahwa hidup di dunia adalah serupa garis lurus. Bermula dari titik kelahiran, bermuara pada titik kematian. Sungguh sejenak waktu dunia ini, dibandingkan apa yang kan dihadapi sesudahnya. Layaknya sebuah perjalanan,
“Ada makanan yang enak dimakan selagi panas. Ada yang justru nikmat saat sudah dingin. Tuhan menjadikanmu memiliki beragam indera, karena setiap hal memiliki cita rasanya sendiri untuk dinikmati.” Banyak hal dalam kehidupan diciptakan berpasangan. Maka hidup, memang sesaat dan sesaat. Ada saat senang, hingga tak layak jika tak riang. Ada saat sedih, hingga tak pantas
Guru dan murid adalah dua insan yang dipertemukan untuk saling belajar. Ya, bukan hanya murid sejatinya yang belajar pada guru, melainkan guru pula yang belajar pada muridnya. Ah, murid belajar pada guru, tentu sudah tahu. Tapi bagaimana guru belajar pada muridnya?
“Air tak kan tertampung pada gelas yang penuh, begitupun hikmah tak kan meresap pada pikiran yang jenuh.” Tuangkanlah air pada gelas yang penuh, ia kan tertumpah sia-sia, dengan hanya sedikit saja yang tersisa masuk ke dalamnya. Gelas haluslah kosong, agar air baru masuk dengan leluasa menggantikan yang lama. Demikianlah perumpamaan hikmah dalam jutaan episode
“Ilmu layaknya air, hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.” Banyak insan berguru, tapi dalam hati tak sungguh-sungguh mengharap ilmu. Maka meski perjalanan telah ditempuh, dana telah dikeluarkan, tak sedikit pun ilmu membekas dalam sanubari. Sebab ilmu memang layaknya air. Ia mengalir, hanya ke tempat yang lebih rendah. Maka hati
Pagi ini, untuk kesekian kalinya, aku duduk di hadapan seorang perokok. Ya, di hadapan. Dan dia merokok, menghembuskan asapnya dengan begitu santai, tanpa peduli orang lain di sekitarnya. Aku tersenyum, memberi isyarat dengan tangan bahwa aku terganggu dengan asap itu. Dia melihatnya, kemudian menghindarkan asap rokoknya. Tanpa senyum, apalagi permintaan maaf. Tapi bagaimana pun, orang
“Yang cepat, tak selalu nikmat.” Makanlah hidangan lezat terburu-buru. Tentu tak lezat, sebab yang jadikan lezat memang hanya organ sepanjang beberapa senti bernama lidah. Sekali melewati lidah, selesai lah sudah. Apapun jenis makanan ia menjadi sama saja. Maka para penggemar makanan biasa berlambat-lambat dalam mengunyah, agar setiap detil rasa ternikmati sepenuh hati.
“Jangan pernah minta naik gaji, tapi naikkan lah harga.” Nasihat ini tercetus dalam benak saya saat membawakan sebuah pelatihan di salah satu sekolah. Di sekolah itu, yang begitu benderang fasilitasnya, plus berisi para guru bergaji tinggi (setidaknya, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata gaji guru), kiranya perbincangan harian bukanlah soal murid, melainkan soal kompensasi dan benefit.

Recent Comments