“Kekurangan diri ini, adalah ladang bagi kelebihan orang lain. Kelebihan diri ini, adalah ladang bagi kekurangan orang lain.” Pengaturan Tuhan sungguh sempurna. Ciptaannya bagaikan puzzle, sebuah gambar indah terbentuk dari ratusan potongan kecil. Jangan remehkan tiap potongan, sebab tanpa sebuah takkan jadi gambaran indah. Maka sesederhana apapun setiap keping tampaknya, ia unik, tak terganti, memiliki […]
Author: Teddi Prasetya
“Tuhan tak pernah jauh. Kita lah yang kadang lupa berlabuh.” Dia selalu terjaga, tak pernah henti mengurus makhluknya. Dia Maha Melihat, tak pernah satu pun perbuatan kita yang lepat. Dia Maha Kuasa, tiada daya upaya selain apa yang diberikan-Nya. Maka bagaimana mungkin ada diri yang merasa Dia begitu jauh? Ah, bagaimana kah Dia pernah menjauh,
“Dia yang tak pernah berhenti belajar, tak pernah menjadi tua.” Membaca adalah perintah pertama. Tentu bukan sekedar membaca dalam artian harfiahnya, melain menelaah setiap detik yang telah lewat, tuk menjadi bekal bagi setiap detik yang kan dilalui. Maka merugilah diri yang melewati tiap detik tanpa menarik pelajaran, sebab itu berarti ia berjalan mengembara tanpa bekal.
Ya, inilah yang kudapatkan di Ramadhan tahun ini. Mungkin sudah seharusnya kupahami sejak bertahun-tahun lalu. Namun kepandiran yang tak kunjung sembuh ini rupanya baru sedikit terobati di tahun ini. Apa pasal kupahami bahwa puasa mengajariku berkata cukup? Sebabnya sederhana. Tiap kali menjelang berbuka puasa, nafsuku, yang sejatinya sedang terbebas dari godaan setan itu, terus bergejolak
Jogjakarta adalah kota yang magis. Tak sampai 4 tahun saya belajar di sana, seolah tiap detik memberikan pelajaran berharga, yang menjadikan saya seorang insan seperti layaknya kini. Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu. Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna.
Tertunduk diri kala membaca surat ringkas Al Ashr. Bertahun menelaah beragam teori manajemen waktu, kiranya dalam surat pendek inilah hati dihujam makna mendalam. “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” Sumpah Tuhan pada waktu, sebab ia tak terasa oleh jiwa-jiwa lemah,
“Kebosanan adalah tanda kurangnya makna-makna. Menyelamlah, dan temukan rahasia-rahasia indah.” Bosan bukanlah kondisi alamiah insan. Sebab sejatinya diri merindu mewujudkan segala hal nan berarti. Maka bergerak adalah sifat asli, sementara diam hanyalah perhentian sejenak melepas penat. Maka kala rasa bosan hadir, tak lain adalah tanda akan kurangnya gerak, lahir maupun batin. Gerak lahir tentulah kita
“Latihan kepemimpinan sejati adalah kala tak punya posisi. Ketika tak ada yang bisa dipengaruhi kecuali diri sendiri.” Kepemimpinan selalu dimulai dari dalam. Ia tumbuh menghujam, sebelum menjulang tinggi. Sebab tingginya pohon memerlukan kokohnya akar.
“Pada dia yang kucinta, kadang ku tergoda mengiba imbalan. Beruntung segera kuinsyafi bahwa cinta adalah pemberian.” Sesejatinya cinta adalah pemberian. Tengoklah ketulusan pemberian seorang ibu pada anaknya. Ia lah wujud keluhuran cinta kala kita ingin melihatnya. Maka mudah lah bagi kita jika ingin mengukur apakah cinta ini telah murni. Yakni mencermati seberapa jauh diri ini
“Pasanglah mimpimu hingga melangit. Pastikan langkahmu kokoh membumi.” Bermimpi itu wajib. Dan impian itu mesti besar. Sebab memang kemampuan bermimpi kita miliki tuk mengajak diri keluar dari kungkungan kebiasaan, keteraturan. Maka ajaran klasik masa kecil tuk bermimpi setinggi bintang di langit, jelas masih amat valid hingga kini. Lalu terbit lah sebuah tanya, “Apakah tak takut

Recent Comments