“Keluhanmu, takkan mengubah takdirmu. Tapi syukurmu, bisa jadi.” Keluhan, adalah kewajaran yang lahir sebab tertutupnya mata dari jutaan makna yang terhampar di hadapan. Ungkap sebuah nasihat lama, “Gajah di depan mata tak tampak, semut di ujung lautan tampak.” Inilah tabiat diri, lebih mudah mengenali nan jauh, daripada nan dekat. Adalah Tuhan telah menyajikan kehidupan di […]
Author: Teddi Prasetya
“Kecepatan, seringkali mengurangi penghayatan.” Kapan terakhir kali berjalan tergesa-gesa? Di kala keinginan untuk cepat sampai itu begitu besar, berapa banyak kah hal yang terlewat tak terperhatikan? Kapan terakhir kali makan tergesa-gesa? Mampukah mengingat nikmatnya setiap suapan dan kunyahan? Kapan terakhir kali berkendara tergesa-gesa? Adakah pemandangan sekitar tampak dengan indah?
Pilkada DKI baru usai. Kemenangan salah satu pihak telah diumumkan oleh beberapa lembaga survei. Respon masyarakat beragam, seberagam pilihan mereka. Bagi para pendukung calon yang diproyeksikan pemenang, ini adalah sebuah kabar gembira. Angin pembawa harapan makin sejuk berhembus terasa bagi mereka, menandakan Jakarta baru. Sementara itu, pendukung calon yang kalah pun tersenyum-senyum simpul, sambil berkata
“Kekurangan diri ini, adalah ladang bagi kelebihan orang lain. Kelebihan diri ini, adalah ladang bagi kekurangan orang lain.” Pengaturan Tuhan sungguh sempurna. Ciptaannya bagaikan puzzle, sebuah gambar indah terbentuk dari ratusan potongan kecil. Jangan remehkan tiap potongan, sebab tanpa sebuah takkan jadi gambaran indah. Maka sesederhana apapun setiap keping tampaknya, ia unik, tak terganti, memiliki
“Tuhan tak pernah jauh. Kita lah yang kadang lupa berlabuh.” Dia selalu terjaga, tak pernah henti mengurus makhluknya. Dia Maha Melihat, tak pernah satu pun perbuatan kita yang lepat. Dia Maha Kuasa, tiada daya upaya selain apa yang diberikan-Nya. Maka bagaimana mungkin ada diri yang merasa Dia begitu jauh? Ah, bagaimana kah Dia pernah menjauh,
“Dia yang tak pernah berhenti belajar, tak pernah menjadi tua.” Membaca adalah perintah pertama. Tentu bukan sekedar membaca dalam artian harfiahnya, melain menelaah setiap detik yang telah lewat, tuk menjadi bekal bagi setiap detik yang kan dilalui. Maka merugilah diri yang melewati tiap detik tanpa menarik pelajaran, sebab itu berarti ia berjalan mengembara tanpa bekal.
Ya, inilah yang kudapatkan di Ramadhan tahun ini. Mungkin sudah seharusnya kupahami sejak bertahun-tahun lalu. Namun kepandiran yang tak kunjung sembuh ini rupanya baru sedikit terobati di tahun ini. Apa pasal kupahami bahwa puasa mengajariku berkata cukup? Sebabnya sederhana. Tiap kali menjelang berbuka puasa, nafsuku, yang sejatinya sedang terbebas dari godaan setan itu, terus bergejolak
Jogjakarta adalah kota yang magis. Tak sampai 4 tahun saya belajar di sana, seolah tiap detik memberikan pelajaran berharga, yang menjadikan saya seorang insan seperti layaknya kini. Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu. Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna.
Tertunduk diri kala membaca surat ringkas Al Ashr. Bertahun menelaah beragam teori manajemen waktu, kiranya dalam surat pendek inilah hati dihujam makna mendalam. “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” Sumpah Tuhan pada waktu, sebab ia tak terasa oleh jiwa-jiwa lemah,
“Kebosanan adalah tanda kurangnya makna-makna. Menyelamlah, dan temukan rahasia-rahasia indah.” Bosan bukanlah kondisi alamiah insan. Sebab sejatinya diri merindu mewujudkan segala hal nan berarti. Maka bergerak adalah sifat asli, sementara diam hanyalah perhentian sejenak melepas penat. Maka kala rasa bosan hadir, tak lain adalah tanda akan kurangnya gerak, lahir maupun batin. Gerak lahir tentulah kita

Recent Comments