“Hati kan bersatu, kala mengabdi pada Yang Satu.” Banyak usaha dilakukan oleh organisasi bisnis untuk membentuk budaya kerjasama tim yang solid. Berbagai insentif dikeluarkan bagi tim yang mampu menunjukkan perilaku kerjasama yang baik. Sebagian berhasil, sebagian tidak. Yang berhasil pun, kiranya begitu mudah jatuh karena hal-hal kecil nan sepele. Sementara itu, di sudut-sudut bumi, kadang […]
Category: Nasihat Diri
“Ilmu serupa pakaian. Ia yang paling nyaman dipakai adalah yang telah diukur pas dengan badan.” “TIdak semua orang,” kata Pak Andrias Harefa, gurunya para trainer dan penulis itu satu kali kami pernah berbincang, “bisa mengajarkan sesuatu dengan otentik. Karena ilmu yang otentik mestinya adalah ilmu yang ketika masuk ke dalam diri seseorang, telah melewati dirinya
“Bukan tugas guru untuk memahamkanmu. Pemahaman lahir dari usahamu sendiri.” Pemahaman adalah anak tangga setelah pengetahuan. Meski menurut Taksonomi Bloom hanya lebih tinggi satu langkah, jarak antara keduanya bisa teramat jauh. Pernahkah merasa baru memahami sebuah ilmu, bertahun-tahun sejak pertama kali mempelajarinya? Kerap kudapati diri ini merindu guru yang mampu menjelaskan berbagai pengetahuan dengan mudah
“Kita, adalah apa-apa yang kita biasakan.” Dua minggu lalu, laptop ku tersiram kopi. Sedikit saja, dan ia mati seketika. Ya, ia mati tak tak hidup lagi. Ketika kuserahkan pada ahlinya, aku pun menerima penawaran penggantian kerusakan yang luar biasa besarnya. Hampir-hampir seharga laptop baru. Aku pun meringis, sembari mengelola gejolak jiwa ini, yang lazimnya dalam
“Jasa gurumu takkan pernah terbalas. Maka jangan pernah sekali-kali merasa pernah membalasnya.” Karena ilmu ibarat bangunan, maka apa yang ada di bawahnya selalu menopang apa yang ada di atasnya. Dan selayaknya bangunan, yang kokoh menopang di bawah, yang dibangun jauh lebih dulu daripada pernak-pernik indah setelahnya, justru adalah yang paling tak terlihat. Dicermati lebih jauh,
“Belajar menghendaki ketekunan melakukan pengulangan dan perbaikan.” “Setelah dua tahun,” tutur seorang kawan, “akhirnya aku baru bisa mengerti apa yang pernah kau ajarkan. Semuanya seperti tercerahkan, terangkai dengan rapi. Sebelumnya, berbagai teori ini seperti tersimpan secara acak.” Tampak tak asing? Tentu. Bukan sekali dua kali kudapati kisah seperti ini. Aku pun demikian. Mempelajari belasan buku
“Berilmu tanpa beriman itu, serupa menggunakan mobil pinjaman namun menafikan yang meminjamkan.” Berkali-kali dalam kitabNya, kita diperintahkan untuk memperhatikan, berpikir, merenung. Tak sempurna keimanan seseorang yang tak menggunakan akalnya. Sebab akal, dan kegiatan berpikir, sejatinya adalah jalan untuk memahami ciptaanNya. Dan dari pemahaman itu kan lahir keimanan yang jauh lebih kokoh. Maka salah satu bukti
“Jalan yang tersedia, bagi yang benar-benar ingin melangkah.” Jalan adalah penghubung dua dunia. Tak diperlukan jalan jika tak ada kebutuhan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada kalanya jalan sudah tersedia, sehingga membuat perpindahan mudah saja. Ada kali lain, jalan belum tampak, maka perlu dibuat. Kita mengenal jalan setapak, yang mungkin mulanya disebut
“Tak ada belajar yang gratis. Semua perlu biaya. Namun sebanyak apapun biaya dikeluarkan, nilai sebuah ilmu tetap jauh melebihinya.” Sesuatu yang kita dapatkan, pastilah perlu ditukar dengan sesuatu. Ini sudah hukum alam. Jika barang yang nilainya menyusut saja demikian, apatah lagi ilmu yang nilainya kan bertambah seiring waktu. Sebuah nasihat pernah hadir, “Jika dua orang
“Yang tak mau berlelah-lelah dalam belajar, kan bersusah payah dalam kebodohan.” Seorang kawan mengeluh, “Seandainya dulu aku bersungguh-sungguh belajar mengemudi, kini aku takkan bergantung pada orang lain untuk bisa ke sana kemari.” “Lalu apa yang membuatmu tak melakukannya dulu?” tanyaku. Ia tersenyum kecut, “Aku tak merasa perlu. Dulu semuanya tersedia bagiku.” Ya, semuanya mudah baginya

Recent Comments