“Jika bukan melalui guru, lalu dari mana kita kan mendapat kucuran ilmu?” Tak ada pilihan lain bagi pembelajar yang ingin mendulang banyak ilmu, selain mengembangkan terlebih dahulu kesabaran dalam menghadapi guru. Tidak hanya kesabaran dalam arti berusaha menerima dan mencerna ilmu yang diajarkan, melainkan juga kesabaran dalam menerima pribadi beliau apa adanya. Seorang guru hanyalah […]
Category: Nasihat Diri
“Tubuh yang tak diberi makan kan lemas dalam gerakan. Pikiran yang tak diisi ilmu kan lemah dalam pemahaman.” Makanan bagi tubuh adalah bahan bakar. Agar bisa tetap hidup dan bergerak sesuai kebutuhan, tubuh perlu diberi makanan yang sesuai. Cukup adalah salah satu kuncinya. Tepat adalah kunci lainnya. Cukup jumlah namun tak tepat kebutuhan, atau tepat
“Tanda perlunya tubuh akan makanan adalah lapar. Tanda perlunya pikiran akan ilmu adalah kebodohan.” Setiap hal ada ilmunya. Bahkan hal terkecil dan sederhana sekalipun. Cara memotong bahan makanan, bisa mempengaruhi keseluruhan rasa. Waktu yang tepat untuk memberi pupuk, berdampak pada berton-ton hasil panen. Dan atas hasil yang tak diharapkan itu, kita kerap bingung. Gejala bingung
“Lalu bangunlah batu bata ilmu satu demi satu. Pada waktunya nanti, kau kan takjub pada megahnya keahlianmu.” Sejak taman kanak-kanak (bahkan kelompok bermain) hingga kuliah kita belajar menggunakan kurikulum yang telah disediakan. Begitu kagumnya kita pada para guru TK, yang ternyata untuk memandu kegiatan bermain saja menggunakan desain kurikulum demikian cermat. Maka pendidikan yang baik,
“Jika tak hendak bersabar terhadap guru, maka bersabarlah dalam kebodohanmu.” Memang ada guru yang baik, berilmu dalam nan luas, dengan gaya mengajar yang menyenangkan banyak orang. Namun sebagaimana kita tahu, beliau tak pernah menguasai segala jenis ilmu. Sebab ilmu ibarat bangunan, takkan kita temukan satu toko bahan bangunan pun yang bisa menyediakan keseluruhan bahan yang
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Yang Menguasai Hari Pembalasan. Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat, bukan jaan orang-orang yang kau murkai, dan bukan pula jalan
Ya Tuhanku, berikanlah ilmu kepadaku dan masukkan aku ke golongan orang-orang shalih, jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahku, jadikan aku orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. Asy Syu’ara: 83-85 Doa ini dihadapkan padaku sehabis subuh tadi. Ia demikian menyentuh, hingga lidah ini membacanya berulang-ulang dengan penuh keterpukauan, seolah-olah untuk pertama kalinya
“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku.’” (Shad: 35) Siang ini aku dipertemukan dengan bahasan dari Ustadz Nouman Ali Khan tentang surat Shad ayat 35. Ayat ini mengajarkan tentang doa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman as, “Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan
“Keahlian itu dibangun. Dari ketekunan ke ketekunan. Gagal adalah ruang pembelajaran. Masukan adalah asupan.” Keahlian ibarat bangunan. Sebuah gedung, misalnya, sungguh memerlukan sungguh teramat banyak bahan-bahan, yang diolah satu demi satu, tahap demi tahap, hingga tegak kokoh berdiri. Setiap orang menyumbang bagian, tak ada bangunan besar lahir sendirian. Pernah kudengar beberapa bangunan rubuh. Dan sebabnya
“Sabar, adalah modal pembelajar dan pengajar. Tanpanya takkan lahir pembelajaran.” Sabar berarti menikmati proses. Kadang ini sungguh menantang, terutama jika hasil akhir begitu diidamkan. Namun perjalanan yang tak dinikmati di awalnya, pun akan sulit dinikmati pada akhirnya. Sebab kenikmatan dalam hidup bukanlah hal yang menyendiri. Ia adalah rangkaian tiap makna yang dirangkai tiap langkah kaki.

Recent Comments