“Jangan lelah bertaubat, meski diri belum lepas dari keburukan. Sebab putusnya harapanmu akan ampunan Tuhan, adalah dosa yang lebih besar daripada kesalahanmu.” Adalah fitrah insan tak pernah lepas dari kesalahan. Ada nan disengaja, ada nan tidak. Maka dihadirkanNya petunjuk, dan teladan yang sempurna, untuk meluruskan kembali perjalanan yang bengkok. Tak dibutuhkan petunjuk, jika insan diciptakan […]
Category: Reflections
“Takkan bersemayan dua rasa takut. Jika takut kita padaNya, tak takut kita pada yang lain. Jika takut kita pada yang lain, tak takut kita padaNya.” Hati ini tak sanggup mendua. Hanya satu saja kan bersemayam rasa takut. Dan pilihan rasa itu, sungguh menentukan selamat tidaknya diri ini di akhir hari. Sebab insan memang bergerak dengan
“Doa orang yang dizhalimi itu makbul,” demikian ujar nasihat yang berkali-kali kudengar. Entah kapan pertama kali ia mampir ke telingaku, namun baru bertahun-tahun kemudian kupahami setitik maknanya. Pertama, tentu jangan sekali-kali kau menzhalimi orang lain. Sebab doanya makbul, hingga diri ini mesti bersiap menanggung segala akibat dari doanya. Kedua, bergembiralah kala mendapat kezhaliman, sebab itu
“Bicara dan diam, adalah dua jalan yang kan membawamu pada keselamatan atau kebinasaan. Bicara dan diamlah, hanya tuk mengharap ridhaNya.” “Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,” sabda Sang Nabi saw, “hendaklah ia bicara yang baik, atau diam.” Sungguh jeli pilihan kata Sang Nabi. Bukan benar semata yang membuat kita selamat, melainkan baik. Sebab
“Keikhlasan,” tutur Al Junaid sebagaimana dikutip oleh Jamal Rahman dalam karyanya The Fragrance of Faith, “adalah sesuatu dimana Tuhan didambakan. Apapun amalnya.” Ya, baru kusadari bahwa keikhlasan sesungguhnya adalah kerinduan. Sebab memang khas betul pribadi perindu itu, ia tenang, damai, lembut jiwanya, hangat perangainya. Tak jarang kemudian, keikhlasan menjadi hujjah, saksi akan lurusnya hidup seseorang.
“Pandangan orang takkan meninggi atau merendahkanmu. Responmu terhadap pandangan itu lah yang kan meninggi atau merendahkanmu.” Adalah firmanNya, bahwa diri ini diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Maka adanya diri, seperti apapun pandangan tentangnya, sejatinya mengandung sejumlah kesempurnaan. Ia tanpa cela. Sebab kekurangan yang ada, sebenarnya adalah ruang yang diadakan untuk bekerja bersama orang lain. Lalu apa
“Kemana hidupmu kau arahkan, ke sana lah kau terikat.” Pandangan kita ibarat corong. Di titik mana ia mengarah, ke sana lah segenap air kan mengalir. Dan kala bicara pandangan, ia tak hanya soal mata. Melainkan juga pikiran, perasaan, segenap jiwa. Adalah fitrah diri tak bisa terombang-ambing. Pastilah memerlukan tempat bersandar, tempat bergantung. Hanya saja, ada
“Bila kau ingin belajar hakikat tawakal,” tutur Amr Khaled, dalam karyanya Akhlaq al-Mu’min, “perhatikanlah kisah hijrah Nabi saw.” Dalam hijrah, ternyata beliau tak sekedar berjalan pasrah mengharapkan perlindungan Allah. Ya, memang harapan itu ada. Tapi perhatikan sederetan, ya sederetan, strategi yang beliau siapkan.
“’Sabar adalah cahaya,’ sabda Sang Nabi saw. Sebab dalam musibah kau lihat gelap. Sabarmu lah penerangnya.” Alam tegak di atas kesabaran, nasihat Amr Khaled, pemberi nasihat sejuk asal Mesir. Sebab tiada kejadian dalam alam, melainkan diciptakan dalam tahapan. Segala yang tiba-tiba, kala pun ada, disebutlah sebagai mukjizat. Dan yang serupa itu langka semata, di luar
Saya teringat kala kuliah dulu mempelajari metodologi penelitian. Hal pertama yang peneliti lakukan saat tertarik dengan sebuah fenomena untuk ditelusuri, adalah merumuskan masalah. Dan pada saat itu lah pertama kalinya saya memahami definisi kata ‘masalah’. Masalah, umumnya didefinisikan sebagai kesenjangan (gap) antara kondisi ideal dan kondisi saat ini. Dengan kata lain, masalah adalah jarak antara

Recent Comments