“Jarak antara keinginan dan pencapaian, kadang hanya satu langkah berbeda yang menunggu untuk dilakukan.” Banyak keinginan, menjadi sekedar keinginan, sebab ia tak diwujudkan. Dan kata diwujudkan, sejatinya menjadi hilang makna kala tak dijabarkan. Apakah ‘mewujudkan’ itu? Demikian tanya sebagian sahabat. Ah, banyak kita pasti lah telah tahu. Ia sederhana semata. Namun justru karena kesederhanaannya itu […]
Category: Reflections
“Cibiran, kerapkali adalah cara-cara membangunkan jiwa-jiwa yang lengah, tuk bangkit dan berjuang.” Sebuah nasihat bijak pernah berucap, “Dia yang mendengar kala dibisiki, tak perlu diteriaki.” Merenunginya, sampai lah kita pada pemahaman bahwa kadang diri ini abai pada peringatan-peringatan kecil, hingga datangnya peringatan besar. Barulah kita tersadar, dan terburu-buru melakukan perbaikan sebab keadaan telah hampir tak
“Cintailah dirimu, dengan melangkah dalam ketaatan, dan menjauhi keburukan.” Sungguh diri ini kecil, bagai debu atau lebih kecil lagi, dibanding kekuasaanNya. Sementara keburukan terus meninggalkan jejaknya, tak sedikit pun nikmat pernah terhenti. Maka dua sisi dosa telah menanti: tak mensyukuri nikmat, tak henti berkesalahan. Lupakah kau, wahai diri, bahwa bukan Dia yang membutuhkan ketaatanmu. Bukan
“Sementara memikirkan hal yang kau inginkan, sudah berapa kali kah mensyukuri apa yang telah kau miliki?” Adalah janjiNya, bahwa pada tiap kesyukuran, kan ditambahkan kenikmatan. Sebab memang tak ada yang lebih layak dipanjatkan hamba selain rasa syukur. Apatah lagi kala diinsyafi bahwa tuk bersyukur pun, insan memerlukan nikmat yang Dia berikan. Ah, lalu adakah pinta
“Berhentilah mencari yang pantas. Sebab ia yang pantas sejatinya menjadi pantas sebab kau pantaskan.” Hampir tiap detik insan mencari apa yang pantas baginya. Lalu lupa bahwa kepantasan adalah soal apa yang termaktub dalam pikiran. Kepantasan, acapkali soal apakah yang di luar, cocok dengan yang di dalam. Namun memang membutuhkan kebesaran jiwa tuk berpikir sebaliknya, bahwa
“Kekayaan dalam batinmu adalah harta terpendam yang menunggu tuk ditemukan.” Manusia adalah makhluk yang didesain untuk kaya. Oleh sebab itulah ia lahir dengan dikaruniai kekayaan tak ternilai. Kekayaan yang tak bisa dibeli, namun bisa ditemukan. Kekayaan batin. Ia tak ternilai, sebab tak memiliki batas-batas fisik. Seberapa tinggi insan bisa mencapainya adalah misteri. Bergantung pada seberapa
“Mari belajar dari tanah, yang sabar jadi tempat berpijak, dan tulus terus menumbuhkan.” Tanah. Unsur dasar penciptaan kita. Betapa mestinya kita demikian akrab dengannya. Anehnya, bahkan kala ia menodai pakaian bersih barang setitik, diri ini sungguh risih. Padahal kemana kah kita kan berpijak jika tanpa keberadaannya? Namun tanah bukanlah kita. Meski ia hadir dengan terinjak,
“Jangan iri pada yang dicapai orang lain. Irilah pada kesungguhannya dalam mencapai hal itu.” Iri itu penting. Sebab dalam iri, kita diajak untuk bergerak memiliki apa yang belum ada pada diri. Jauh berbeda dengan dengki yang bermaksud menimpakan keburukan, pada iri diri masih bergembira atas apa yang dimiliki orang lain, sedang diri pun menginginkannya. Namun
“Hanya para pemimpin, yang mampu menghasilkan pemimpin.” Sekali lagi, pemimpin tidaklah mesti pimpinan. Ia yang menjadi pimpinan, belum tentu pemimpin. Dan ia yang memimpin, tak harus jadi pimpinan. Kepemimpinan, bukanlah tentang mengelola orang lain. Ia adalah tentang mengekspresikan anugerah yang telah Tuhan tanamkan dalam tiap diri. Maka siapapun, memiliki tanggung jawab kepemimpinan, selama hayat masih
“Rezeki itu berputar layaknya siklus. Menahannya berarti merusak putaran. Membaginya berarti menyempurnakan putaran. Sebagaimana milikmu mengalir pada orang lain, milik orang lain pun mengalir padamu.” Kehidupan senantiasa berada dalam kesempurnaan putaran. Sesuatu yang ada pada kita, akan mengalir pada yang lain. Persis sebagaimana yang kita terima pun berasal dari orang lain. Layaknya putaran roda, berhati-hatilah

Recent Comments