“Insan mulia adalah ia yang berkebaikan dengan segera, menganggapnya kecil, menutupinya, lalu menyungguhi kesemuanya.” Bukanlah insan mulia ia yang sibuk menciptakan kesan. Bukan pula mereka yang gemar berangan-angan, namun tak satu pun langkah dimulai. Apalagi ia yang nikmat menunjuk keluar, sedang begitu banyak cela di dalam. Insan mulia adalah ia yang gemar memulai hal-hal kecil. […]

“Jangan berharap orang lain menghentikan kucuran teh yang mereka berikan. Namun luaskanlah cangkirmu agar sanggup menampung lebih banyak.” Keseharian adalah ujian. Ada terlalu banyak hal yang tak menyenangkan hatimu, jika kau hitungi satu per satu. Maka kebahagiaan, ujar banyak nasihat, memang bukan terletak pada apa yang orang lain lakukan terhadapmu. Kebahagiaan, adalah cahaya yang memancar

Luaskanlah CangkirmuRead More »

“Pada apa nan hilang darimu, sejatinya Dia sedang sucikan hatimu.” Kuteringat sebuah nasihat, bahwa Dia pencemburu. Sebab hati memang Dia ciptakan hanya bisa menghadap pada yang satu. Jika bukan padaNya, maka pasti pada yang lain. Jika bukan yang lain, maka pasti menghadapNya. Maka pada jiwa-jiwa yang didekatkan kepadaNya, sungguh kerap beragam kehilangan ditakdirkan, agar hati

Kehilangan adalah PenyucianRead More »

“Milikmu bukanlah apa yang ada dalam genggamanmu. Milikmu adalah apa yang kau lepaskan dari genggamanmu.” Adalah Dia, yang acapkali ajari kita tentang kepemilikan, melalui kehilangan. Sebab setiap hal adalah milikNya, lalu bagaimana mungkin diri yang hina ini memiliki barang sesuatu? Maka kehilangan, sejatinya adalah ruang pembelajaran akan hakikat kepemilikan. Tak ada pun sesuatu yang kita

Milikmu Bukanlah MilikmuRead More »

“Pikiran dan perasaan adalah alat anugrah Tuhan untuk menikmati kenyataan.” Kenyataan hanyalah kejadian. Ia tak menjadi apa-apa jika tak diolah menjadi pemahaman dan perasaan. Sebab manusia adalah makhluk makna, yang bergerak sebab pikiran dan perasaannya. Maka tiap kejadian, atau kenyataan, hanyalah netral belaka. Fungsi pikir dan rasa lah yang kemudian menjadikannya sesuatu yang menyenangkan atau

Menari Dalam KenyataanRead More »

“Sedih, adalah cara Tuhan mengajarkan kelembutan hati. Nikmatilah, dan kesejukan akan hadir bersamaan dengan cara baru menatap kehidupan.” Setiap rasa adalah guru. Oleh sebuah rasa, pikir terarahkan dan langkah tergerakkan. Maka para insan jernih seringkali mencermati rasa yang dimiliki setiap kali ada lelaku yang tak layak, atau yang layak namun tak kunjung diwujudkan. Maka tak

Menikmati KesedihanRead More »

Cukup satu titik di punggungku yang ngilu luar biasa akibat salah gerak, dan aku pun kehilangan senyum hampir 3 hari. Satu titik itu begitu menyakitkan, hingga rukuk dan sujud saja menjadi dua gerakan yang memerlukan perjuangan. Sedemikian nyeri terasa sampai air mata terkadang tak kuasa mengalir dengan sendirinya. Kisah serupa pernah kualami beberapa tahun lalu,

Cukup Satu TitikRead More »

“Malu bukanlah minder. Minder muncul sebab rasa takut. Malu terbit sebab keberanian.” Sebahagian dari iman ada dalam rasa malu. Demikian sebuah ajaran sering kudengar sejak kecil. Namun baru belakangan kusadari, bahwa ternyata apa yang kupahami dulu kurang tepat. Malu yang dimaksud dalam ajaran itu, kiranya bukan sesuatu semacam ketidakpercayaan diri, atau keminderan. Ia adalah malu

Malu Itu KeberanianRead More »

“Sabar dan syukur adalah buah latihan. Sebab pikiran dan perasaan layaknya otot, yang kokoh saat teguh dibiasakan.” Perhatikan para atlit angkat beban, adakah sejak lahir mereka telah sanggup mengangkat seberat itu? Tentu tidak. Berawal dari yang sedikit, bertahap mereka menguat hingga puluhan kilo. Juga para pesenam, adakah kelenturan tubuh mereka terjadi tiba-tiba? Jelas tidak. Ribuan

Pikiran dan Perasaan Itu Seperti OtotRead More »