“Tanda kesungguhan ibadah, adalah kemuliaan akhlak.” Bagi Muslim, segala aktivitas adalah jalan ibadah. Modalnya adalah lurusnya niat yang menjulang ke langit, benarnya ilmu, dan teguhnya amal. Tiga yang terdengar mudah, namun amat perlu kesungguhan dalam langkahnya. Meski demikian, coretan ringan ini ingin sekedar menjadi pengingat diri soal ibadah ritual individual saja. Ibadah ritual, sejatinya adalah […]

“Renungkanlah sejenak, kala jiwa ini telah kembali. Adakah akan kau tinggalkan penerus yang kuat pengokoh kehidupan?” Dalam berkeluarga memang ada kesenangan. Dan pada setiap kesenangan, sungguh kan ada pertanggung jawaban. Banyak insan berharap anak, namun sadarkah bahwa kelak anak-anak itu kan jadi saksi setiap perbuatan diri? Bahwa amalan mereka—buruk dan baik—kan menyeret kita dalam kebinasaan

Keluargamu, adalah WarisanmuRead More »

“Kala usaha telah disungguhi, biarkanlah hasil menampakkan wujudnya sendiri.” Tak ada lain, kewajiban hamba adalah usaha, teriring doa. Pada keduanya lah wujud syukur, terima kasih sedalam-dalamnya pada Sang Pemilik Hidup. Betapa tidak? Sedang diri ini entah apa mulanya, kini tercipta dalam sesempurna rupa. Kesempurnaan rupa dan akal ini, sungguh tak layak dibiarkan tersia belaka, tanpa

Wujud Syukur adalah Doa dan KesungguhanRead More »

“Pemberianmu sejatinya bukanlah sebab kebesaran hatimu. Ia adalah kewajibanmu bagi kehidupan.” Sering aku merasa besar, hanya sebab melepas secuplik pemberian. Padahal apa yang kuberikan itu, sebesar apapun bagiku, tak lebih kecil semata, dibandingkan apa yang kunikmati tanpa membeli. Cobalah hidup pada satu daerah yang sepi nan terpencil, tanpa seorang pun tinggal di sekeliling. Adakah kenyamanan

Kewajiban pada KehidupanRead More »

“Kemana niat diarahkan, disana lah menunggu ganjaran.” Ada ganjaran pada tiap amal. Dan ganjaran itu, bergantung pada dimana ia didaftarkan. Ibarat sebuah lomba, meski kita berhasil mencapai garis finish lebih dulu, takkan terhitung sebagai pemenang jika tak tercatat sebagai peserta. Begitu lah perumpamaan niat. Ia serupa pendaftaran, yang menentukan apakah sebuah amal terperhitungkan atau tidak.

Kemana kah Niatmu Kau Arahkan?Read More »

“Untuk tahu baik tidaknya pengelolaan sebuah perusahaan,” ujar seorang kawan bertahun lalu, “cek lah toiletnya. Jika toilet saja bersih terawat, yang lain pasti terawat.” Aku setuju. Jangan lihat bagian depan, apalagi ruang tamu. Sebab itu memang daerah yang sudah umum bersih karena letaknya yang strategis. Tapi toilet? Ya, inilah titik krusial. Jika untuk area yang

Kebaikan Berawal dari KebersihanRead More »

“Mengusahakan ibadah itu sungguh layak, untuk hidup yang tak pernah kau usahakan.” Entah telah berapa lama nasihat ini sampai kepadaku. Namun seperti biasa tabiat diri, ia masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tak sempat membekas dalam pikiran, apalagi meresap dalam hati. Syukurlah ia tak pernah bosan hadir, hingga diri yang pandir ini perlahan mulai mendapati

Ibadah Itu DiusahakanRead More »

“Kebencian yang terlalu mendalam pada saudaramu, seringkali akibat pemahaman yang terlalu dangkal tentang dirinya.” Benci, bukanlah sekedar rasa tak suka. Jika tak suka belum menggugah kalbu, benci menjadikan pelakunya gelisah yang terkadang berujung pada sulit tidur. Kebencian, tak jarang membelenggu diri tuk berpikir sehat, hingga kesulitan tuk mengenali kebenaran meski ia di depan mata. ‘Tak

Obat Kebencian adalah PemahamanRead More »

“Jangan terlalu lebar tertawa. Jangan terlalu dalam bersedih. Pada yang pertengahan lah terkandung bahagia.” Tawa itu penting. Ia melepas kegembiraan, menikmati kesenangan, menyemai harapan. Sebab tawa, biasanya hadir kala terwujud apa nan diinginkan. Sedih itu penting. Ia melepas kerinduan, menyelami kebelumberhasilan, menenun hikmah nan terserak. Sebab sedih, biasanya terbit kala terlepas apa nan diharapkan. Pada

Bahagia Ada Pada PertengahanRead More »

“Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.” Terkejut aku kala mengetahui bahwa kalimat ini, yang sekian kali kudengar adalah hadits, kiranya bukanlah ucapan Nabi saw. Kitab Madarijus Salikin karya Syaikh Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengungkap bahwa ia adalah ucapan Yahya bin Mu’az. Meskipun, tak bisa dipungkiri bahwa ia adalah kalimat baik yang bermakna dalam.