“Saat sebuah makna telah kita pilih, ingatlah masih ada jutaan makna lain menunggu tuk diraih.” Manusia adalah makhluk makna. Ia bergerak sebab makna, diam pun sebab makna. Benarlah sebuah nasihat yang mengatakan bahwa kebermaknaan hidup, bergantung pada makna yang diurai setiap saatnya. Demikianlah hidup sejatinya adalah rangkaian pemilihan makna. Ada banyak makna bertebaran, namun tanpa […]
Category: Reflections
“Cinta dibangun dengan tanggung jawab, diindahkan oleh perhatian, dikayakan oleh pemahaman, dikokohkan dengan penghormatan.” Cinta bukanlah sekedar perasaan. Memang ada rasa dalam cinta, namun mengandalkan rasa semata hanya akan menjadikan jalinan cinta demikian rapuh. Bangunan awal cinta adalah tanggung jawab. Bukan cinta sejati jika tak berdasar tanggung jawab. Sebab pecinta sejati, mendahulukan kekasih daripada dirinya.
“Teruslah bergerak. Karena tubuh dan jiwamu punya hak untuk terus berkarya.” Kala malas mendera, adalah kala diri ini sungguh tak tahu berterima kasih. Bukankah sekian lama hadir kenikmatan tanpa kita minta? Lalu mengapa tak kita balas budi dengan mengerjakan apa nan seharusnya? Tiada satu hal pun diciptakan sia-sia. Dan diri ini, dengan segenap tubuh dan
“Seberapa banyak makna kau curahkan pada sesuatu, sedalam itu lah kau terikat padanya.” Manusia adalah makhluk makna. Apa yang terjadi padanya netral belaka, namun makna yang ia berikan pada setiap nan terjadi itu lah yang kan menggerakkannya. Ada kejadian yang sederhana, kiranya begitu menggairahkan, sebab makna yang kita tanamkan padanya. Ada kejadian yang rumit, kiranya
“Tak ada jaminan pilihan terbaik memberikan hasil terbaik. Karena itulah Tuhan memberi akal untuk melakukan perbaikan.” Ada hasil yang tampak berhubungan langsung dengan usaha yang telah kita lakukan. Namun hubungan itu kerapkali tak langsung terlihat, hingga serupa jauh dari usaha yang mendahuluinya. Sisi lain, hasil pun terkadang tak berkaitan dengan usaha nan pernah dicurahkan. Ia
“Berhentilah sejenak untuk mendengar kembali setiap kata yang telah membentuk diri. Lalu sadari, adakah ia telah mengantarkan diri ini kepada jalan?” Kata, adalah cara bagi diri tuk menyimbolkan keluar apa yang ada di dalam. Maka pada satu kata, sejatinya terkandung jutaan makna yang tertampung di dalamnya. Tak heran jika seseorang bisa susah atau senang, sedih
“Dua hal terpenting sebelum melangkah adalah: apa dan mengapa.” Jangan pernah melangkah tanpa tujuan, sebab setiap tenaga yang kita keluarkan kan dipertanggung jawabkan. Persis sebagaimana nasihat yang mengatakan bahwa hidup tanpa impian, seperti naik taksi tanpa tujuan. Argo terus berjalan, sedang arah tak jelas. Hingga sudah mahal, nyasar pula. “Menentukan apa,” tutur nasihat bijak, “lebih
“Berilah seseorang kail, saat ia sudah tahu apa itu ikan.” Berilah seseorang ikan, kita memberinya makan sehari. Berilah seseorang kail, kita memberinya makan sepanjang kail itu bisa digunakan. Demikian biasa kita dengar nasihat tentang bagaimana membantu orang lain. Jangan hanya berpikir mudah dengan segera mencukupi kebutuhan seseorang, tapi pikirkanlah bagaimana ia akan hidup tanpa bantuan
“Tak semua yang bisa diingat, perlu dirasa. Tak semua yang bisa dirasa, perlu diingat.” Manusia adalah makhluk makna. Ia bergerak dan diam, berlari dan berjalan, menangis dan tertawa, bersegera dan bermalas, sebab makna yang hadir tak saja dalam pikirannya, namun merasuk ke seluruh tubuh dan jiwanya. Pertanyaan, “Apa arti makanan?”, sungguh kan hadirkan beragam makna,
“Takkan pernah damai dirasakan, kecuali berbalut kebaikan.” Kedamaian hati, adalah hadiah bagi insan yang teguh dalam berkebaikan. Ia tak bisa dibeli, begitu pun ia tak bercampur dengan keburukan. Tak mesti ia bersemayam dalam kesenangan, bahkan kadang justru ia hadir dalam kesulitan. Sebab memang bukan pada kemudahan dan kesenangan itu selalu terdapat kedamaian. Bukan pula kesulitan

Recent Comments