“Malu lah kala tak bisa bangun tuk sujud di dini hari. Sebab nyata-nyata maksiat masih menggelayuti kelopak mata.” “Shajat tahajud,” tutur nasihat bijak, “adalah hadiah bagi hamba beriman.” Sebab dalam keheningan itulah seorang hamba diistimewakan, sedang yang lain dibiarkan lelap dalam buaian. Sisi lain, bangkit menjauhkan lambung dari tempat tidur memang memerlukan kekokohan iman yang […]
Category: Reflections
“Ujian, adalah jalan tuk pahami sudah sedalam apa pembelajaran.” Mengingat masa sekolah dulu, untuk apa kita melalui sebuah ujian? Banyak ragam jawaban, salah satunya adalah agar bisa lulus. Padahal, lulus adalah hasil. Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa untuk menentukan siapa nan hendak diluluskan, guru perlu menguji murid-muridnya? Ya, jawabannya terletak pada makna lulus itu sendiri. Lulus,
Untuk sejenak, mari renungi kebiasaan kita dalam bertamu ke rumah orang lain. Kala bertamu, kita awali dengan meminta izin. Dan bagaimana izin diberikan? Umumnya sebab kita memiliki keperluan. Dan jika sang tuan rumah bisa memenuhi keperluan itu, diizinkanlah kita untuk masuk. Namun tak selalu demikian. Sebab banyak para penjual yang tak diberi izin masuk, bahkan
“Tak satu pun masa lalu, sepahit apapun terasa, melainkan pasti memainkan peran pada bangunan hidup yang kini ditinggali.” Mengamati apa yang telah dicapai kini, lalu menengok ke belakang, kiranya tak satu pun yang hadir sia-sia. Ya, setiap hal yang terjadi berada dalam pengaturan nan sempurna. Sebuah kesempurnaan yang melampaui batas-batas akal, hingga habis pikir rasanya
“Temukanlah cintamu. Lalu cintailah yang kau temukan.” Adalah kemanusiawian kala insan mencari yang bisa ia cintai. Sebab cinta memang unik. Kita tak bisa mencintai semua orang, semua hal dengan rasa yang sama. Beberapa jenis rasa malah hanya mampu kita berikan pada satu semata. Maka pada yang satu itulah pencarian dilakukan. Namun cinta pun tak sesederhana
“Salah satu hukuman yang samar dan menakukan adalah kehilangan manisnya bermunajat tanpa disadari.” Sungguh ujian paling berat adalah kemudahan. Berat, sebab acapkali ia tak menghadirkan keinginan bertaubat, sebagaimana ujian kesulitan. Pada kesulitan, begitu mudah diri ini menyesali kesalahan. Namun pada kemudahan, jebakannya demikian halus. Diri ini mengira ia aman. Bahkan lebih buruknya lagi, ia menyangka
“Para pencinta tentu tak ingin berpisah. Tidak di dunia, tidak pula di akhirat. Maka pastikan cintamu tak hanya teguh, melainkan pula menjulang tinggi ke langit.” Termenung, kala mendapati surat cinta Allah dalam surat Al Baqarah ayat 221: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita
“Pada tiap yang kau tanyakan, terdapat jawaban.” Ada dua jenis tanya. Tanya yang berharap jawaban. Dan tanya yang berharap pembenaran. Pada yang pertama terbuka lah pintu-pintu ilmu, dan tak jarang cahaya-cahaya hikmah. Inilah tanya para pecinta ilmu. Pada yang kedua terkunci lah gerbang ilmu, bahkan semakin rapat dibanding sebelumnya. “Waspadalah dengan pertanyaanmu,” ujar nasihat bijak.
“Dosa bagaikan debu. Kala sedikit dan lekas disapu, ia tak tampak. Namun kala dibiarkan tanpa disapu, ia meninggalkan bekas.” Tiap perbuatan kan menjadi kebiasaan. Ia terekam dalam pikiran, perasaan, hingga gerak langkah. Kesan dan maknanya lah yang menentukan seberapa kuat ia tertanam. Makin kuat tertanam, makin besar kemungkinan kita mengulanginya. Sedang jika ia lemah belaka,
“Saat mendengar kata ‘bakat’, pahamilah ia sebagai pertemuan antara anugerah dan kesungguhan.” Entah sejak kapan aku mendapati bahwa kata ‘bakat’ seolah memiliki makna yang ber inuansa magis. Orang yang berbakat adalah orang yang berbeda, tiada lain, datang tiba-tiba, seolah-olah Tuhan telah menakdirkannya demikian dan tak memberikannya pada yang lain. Para berbakat adalah orang yang unik,

Recent Comments