“Beri masukan, bukan hujatan. Niatkan tuk perbaikan, lakukan dengan kesantunan.” Insan mungkin tak senang dikritik. Namun mereka senang kala dibantu tuk mencapai tujuannya. Maka seni mengingatkan adalah dengan niat tuk mencapai tujuan, bukan semata menguraikan kekurangan, apalagi sekedar mengumbar hujatan. Kala mencermati kekurangan, niatkanlah tuk menjadi bagian dari perbaikan. Tandai apa lelaku yang tak sesuai […]
Category: Reflections
Sebagai trainer dan konsultan, cukup sering saya ditanya tentang, “Apakah bisa dipastikan kalau saya berinvestasi pada program ini maka pasti terjadi perubahan yang signifikan?” Saya beruntung, sudah sejak mengawali karir di dunia konsultasi segera belajar untuk dengan mantap mengatakan, “Tentu tidak,” sambil tersenyum. Melihat saya tersenyum, maka calon klien biasanya memasang wajah heran. Beberapa yang
“Kesantunan adalah modal pembelajar teramat berharga. Tanpanya banyak ilmu terlewat sia-sia.” Kalau ada hal paling berharga yang dimiliki seseorang, ia lah kesantunan. Tak bisa dibeli, hanya bisa dipelajari dengan tekun melatih kerendahan hati. Sebab tabiat manusia menyenangi kesantunan. Bahkan orang berhati dingin sekalipun akan tersentuh oleh kesantunan, meski ia sendiri belum tergerak mengikutinya. Sebab kesantunan
“Rabbi, ajari aku menggenggam dunia tanpa mencintainya.” Dunia disediakan bagi insan sebagai amanah. Sesuatu yang mesti dijaga kemanfaatannya. Dan kaidah mendapatkan dunia adalah kala ia pada batasan cukup. Kekurangan kan menjadikan susah. Kelebihan pun demikian. Lalu bagaimana kah kiranya cukup itu? Ia lah kondisi yang menjadikan diri sanggup terus berada dalam jalan kebenaran, kebaikan. Jalan
“Hadirnya masalah adalah tanda bagi diri tuk menyimak kembali serpihan ilmu nan terlewatkan.” Dalam banyak kali, masalah hadir sebagai guru. Ia mengajak diri tuk memahami jurang antara apa nan diketahui, dengan apa yang dijalankan. Adalah tabiat pikiran tuk tak sanggup menangkap banyak ilmu sekaligus. Ia perlu tahap, yang berbekal kesabaran kan sampai jua lengkap. Tak
“Hati-hati kala mendengki. Sebab bisa jadi diri sedang menggugat Tuhan.” Iri yang tak terkendali, jadilah dengki. Tidak saja ia menginginkan apa yang diterima orang lain, ia pun menghendaki hilangnya nikmat dari mereka. Bahkan ia tertawa atas kehilangan tersebut. Sungguh ini lah salah satu penyakit hati berat, yang takkan mungkin dialami kala iman masih bersemayam di
“Teramat jarang jalan nan lurus selalu. Pastilah ia mengandung liku. Maka kala membelok, kembali luruslah dengan menggebu.” Dunia diciptakan dengan pasangan. Jika kita inginkan di atas, pastikan kita rela tuk pada waktunya berada di bawah. Sebab tak ada yang di atas, melainkan pasti ada yang di bawah. Begitu pun sulit kita mendaki, jika tak memulai
“Kala diri merancang hidup yang lebih ringan daripada kemampuan yang dimiliki, sejatinya ia sedang mempersiapkan diri tuk hidup dalam ketakbahagiaan.” Sungguh kita tak pernah tahu takdir kita, sampai kita melewatinya. Kita pun tak pernah bisa menebak akan berakhir seperti apa kelak, peran apa nan kan dijalani, tugas apa nan kan diemban. Namun yang pasti, kita
Sungguh pada dua hal yang tampak serupa, kan berakhir pada perhitungan yang berbeda, hanya sebab satu hal saja. Satu hal ini, begitu ringan di lisan, meski perlu keteguhan di hati. Namun keteguhan ini, kala dijaga dengan kesungguhan, kan jadi pembeda dari segala pembeda. Ya. Ia lah niat. Niat adalah awal mula segala hal terperhitungkan. Sesuatu
“Sesuatu seringkali tampak sulit, sampai ia dicoba, dan dilalui.” Tahanlah penilaianmu, sampai kau mencobanya. Demikian sebuah nasihat pernah hadir. Meski, tentu perlu dibatasi penggunaannya, hanya untuk hal-hal dalam jalur kebaikan. Ya, sebab penilaian, memang tak pernah tepat benar. Penilaian, telah mencampurkan antara kerja pikiran dan perasaan. Dalam pencampuran inilah acapkali sebuah penilaian tak cocok dengan

Recent Comments