Sore ini aku pulang kantor bersama istriku. Perjalanan awal cukup menggembirakan, sebab situasi jalanan yang sungguh bersahabat. Kutengarai sebab masih banyaknya orang yang cuti, memanfaatkan momen akhir tahun. Kukatakan perjalanan awal, sebab justru di sepertiga perjalanan terakhir, kondisi macet cukup panjang begitu mengagetkan. Sebab tak ada jalur alternatif lain untuk ditempuh saat itu, kami pun […]

“Apa yang kau katakan tentang orang lain belum tentu benar menggambarkan dirinya, tapi pasti benar menggambarkan tentang dirimu.” Dalam psikologi, dikenal konsep proyeksi. Bahwa apa yang kita pikirkan tentang hal-hal di luar diri, hanyalah proyeksi dari apa yang kita miliki dalam diri. Seperti proyektor, kita memancarkan sinar yang kita miliki ke layar di hadapan, menganggapnya

Ah, Proyeksi!Read More »

Termenung aku memerhatikan istriku berjuang setiap hari. Ya, memastikan Rayna memiliki stok ASI yang cukup. Ia sudah bertekad bahwa anak kedua kami ini akan mendapatkan ASI yang sama seperti kakaknya, bahkan lebih baik. Dan aku sungguh minder melihat usahanya yang begitu gigih setiap hari, tanpa libur. Bangun pagi, tidur larut. Terus saja tanpa kenal lelah.

Melawan Ibu, Melawan Dirimu SendiriRead More »

Sebuah nasihat hadir beberapa hari lalu. Ia berbentuk pertanyaan renungan. “Dalam banyak kali, orang tua berharap kesuksesan pada anaknya. Mereka bertanya apa cita-cita sang anak kala besar kelak. Dan mereka risau kala cita-cita itu tak sejalan dengan anggapannya, atau sesuatu yang tak umum.” Aku merenung dalam-dalam. Adakah aku termasuk orang tua jenis ini. Lalu berlanjut,

Kerinduan TerdalamRead More »

Hanya karena kita memiliki bibit mangga, bukan berarti kita bisa segera menikmati buahnya yang manis. Bibit yang baik itu, perlu ditanam pada tanah yang subur, dirawat dengan cara yang tepat, dijaga dari gangguan hama, dan dibiarkan seiring waktu sebelum akhirnya buahnya dapat dipetik. Para penikmat mangga yang hanya hobi membeli di pasar tentu tak pernah

Bakat Hanyalah BibitRead More »

Menjadi trainer, atau fasilitator, bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Ia saya temukan secara tak sengaja saat kuliah, yang kemudian saya merasa merupakan salah satu jalan yang diberikan Tuhan untuk menjadikan kehidupan saya berarti. Terus hingga kini, mengajar—apapun istilah yang digunakan—adalah sebuah pengabdian. Entah bagaimana saya merasa bahwa Tuhan karuniakan saya kemampuan yang semoga bermanfaat. Namun

Trainer adalah GuruRead More »

Adalah jamak kita dengar bahwa hidup adalah rangkaian pilihan. Kita hari ini adalah hasil dari beragam pilihan yang kita buat kemarin. Maka kita esok adalah hasil dari jutaan pilihan yang kita buat kini. Pun kala dirasa diri terpaksa, ia pun adalah sebuah pilihan: pilihan tuk menuruti pemaksaan. Yang terakhir ini sungguh sering kudengar, bahkan—semisal—dari para

Agar Tak Jadi KorbanRead More »

“Sungguh pendeknya lidah tak sebanding dengan dampaknya. Jika buruk, panjang keburukannya. Jika baik panjang kebaikannya.” “Mengapa lidah,” tanya seorang guru, “yang hanya sebuah, memiliki dua penutup? Sedang telinga, yang jumlahnya dua, malah tak berpenutup.” Sebuah tanya yang membuatku berkerut. Merenung. Lama sekali. Hingga nasihatnya pun berlanjut, “Ia lah berarti, bahwa kita harus mendengar, dua kali

Kendalikan LidahmuRead More »

“Dia yang sedang sombong, sejatinya sedang terluka. Maka jadilah obat, dengan berlembut hati padanya.” Kesombongan bukanlah fitrah. Ia adalah pertanda jiwa yang sedang kehilangan arah. Sebab diri sejatinya menyadari kerendahannya di hadapan Sang Pencipta, maka yang tak merasa rendah pastilah tertabir oleh semunya kekuatan. Dan memang banyak kali kutemukan bahwa dia yang sedang sombong, semacam

Obat Bagi KesombonganRead More »