Jika ditanya salah satu hal yang paling menonjol ketika muncul Ramadhan, salah satu jawabannya adalah: kumpul. Parapekerja yang biasanya senang lembur, mulai bekerja dengan efektif sehingga dapat pulang tepat waktu demi berbuka bersama keluarga di rumah ataupun bersama rekan-rekan yang lain. Tidak tanggung-tanggung, seorang rekan bercerita bahwa ia sudah memiliki schedule yang cukup padat untuk […]
Category: Reflections
Seorang sahabat pernah berujar, “Kerja adalah sambilan pengisi waktu menunggu datangnya waktu shalat.” Sesaat, ini sebuah kalimat yang teramat dalam dan menyisakan keharuan buatku. Betapa tidak? Tampak bagiku kecintaan yang begitu dalam pada Kekasih-nya, sehingga selalu muncul kerinduan yang amat sangat dan hasrat yang amat tinggi untuk bertemu. Namun, lebih dalam kupikirkan, kurasa aku kurang
Dari dulu aku selalu penasaran dengan Lailatul Qadr. Sebuah konsep yang sedikit abstrak memang, sebab belum ada 1 orang pun yang kukenal ataupun kubaca mengaku pernah benar-benar mengalami malam yang ajaib ini. Sebagai malam yang punya ‘kasta’ amat tinggi, ia memang diceritakan memiliki berbagai keistimewaan. Sebutan “Malam Seribu Bulan” pun disandangkan kepadanya karena konon ia
Akhir pekan lalu aku berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan besar. Sampai disana jam 10, kondisi pertokoan masih cukup lengang. Kulihat sekeliling, tampak beberapa toko masih tertutup rapat, belum menunjukkan tanda-tanda penghuni yang siap melayani pelanggan. Keadaan berubah 30 menit kemudian, ketika tiba-tiba tempat itu diserbu oleh pengunjung yang luar biasa banyaknya. Cukup sulit buatku untuk
Seminggu yang lalu aku menonton sebuah film berseri dari Taiwan. Bukan hal yang menjadi kebiasaanku memang, namun di dalamnya aku menemukan sebuah pelajaran tentang kejernihan. Salah seorang tokoh utama diceritakan menderita kanker hati stadium lanjut dan divonis hanya memiliki sisa umur 3 bulan lagi. Ia yang juga adalah seorang GM sebuah perusahaan besar sekaligus anak
Belakangan aku banyak memperhatikan tingkah laku anak-anak. Baru saja kutemui seorang anak yang kedua orang tuanya tampak sebagai orang baik buatku. Menurut penilaianku, anak itu cukup cerdas dan enerjik. Hanya saja, seperti ada yang berlebihan dalam kenakalannya. Nakalnya tida lagi masuk kategori “ono akal” alias cerdik menurut orang Jawa, melainkan sudah sampai pada tahap ketidaksopanan
“Bacalah,” firman-Nya pada sang manusia mulia. Satu kata yang cukup mengagetkan sebab manusia mulia itu tidak mampu membaca sekalipun kecerdasannya luar biasa. Tidak demikian harfiah rupanya makna satu kata itu, melainkan ingin mengajak kita untuk bertamasya mengarungi indahnya samudera ilmu. Ya, ketakwaan akan memunculkan cinta. Manusia butuh untuk mencintainya, dan cinta akan tumbuh bersemi dalam
Sejenak kuteringat kisah ayah Imam Syafi’i, Idris. Satu hari ia sedang duduk merenung dan menulis di pinggir sebuah sungai. Idris muda yang amat bersemangat mencari dan mengeksplorasi ilmu itu konon menghabiskan seluruh uangnya untuk mencari ilmu sampai pernah memakan makanan sisa. Beberapa jam di tepi sungai ia tiba-tiba melihat sebuah apel mengambang mengikuti aliran air.
Aku tidak terlalu cocok dengan ibuku. Kami memiliki pola pikir, cara kerja, dan gaya hidup yang hampir bertolak belakang. Sekalipun aku tetap menghargainya, aku hampir tidak pernah bisa bertukar pikiran dengannya. Aku juga tidak terlalu cocok dengan beberapa orang temanku. Cara mereka berbicara, berpikir, dan mengambil tindakan terasa kurang pas bagiku. Sekalipun aku tetap bekerja
Seorang sahabat pernah berucap, “Ketika salah satu indera tidak lagi mampu difungsikan, justru kepekaan menjadi meningkat, mampu merasakan hal-hal yang tidak terlihat.” Sebuah pernyataan yang hebat dan tidak dapat kusangsikan kebenarannya, sebab sahabatku ini memang orang yang luar biasa. Kuasa Tuhan telah mencabut kepekaan penglihatannya. Ia pun tidak lagi melihat dengan matanya, karena Tuhan telah

Recent Comments