“Ketaatan kita itu lah, yang kan jadi wujud baru, usai kematian di dunia.” Wujud kita kini, sungguh sementara. Kesementaraan itu nyata-nyata tampak dari berkurangnya fungsi tubuh setiap detik, hingga akhir hidup menjelang. Maka kesejatian diri bukanlah terletak pada apa nan tampak dalam wujud tubuh ini. Ia telah sedemikian nyaring diajarkan, tersimpan pada ketakwaan. Ketaatan pada […]

Menerima kenyataan berarti memahami bahwa diri ini manusia biasa yang terikat pada hukum sebab-akibat. Ya, hukum sebab-akibat memang membatasi, namun juga memberi ruang tak terbatas bagi diri untuk bertumbuh. Pada setiap pilihan ada dampak, di sinilah letak fungsi akal, untuk memahami dan menelaah setiap dampak yang kan dihasilkan. Ada kesulitan sebelum kemudahan. Sebab pada kesulitan

Terimalah KenyataanRead More »

Mengamati balita makan, beberapa hal terlintas dalam benakku. Betapa orang tua dan para pengasuh perlu berjibaku, memutar otak memastikan sang anak makan hingga terpenuhi gizinya. Makan itu penting, apalagi bagi anak yang dalam masa pertumbuhan. Kekurangan gizi berarti fatal bagi perkembangannya. Namun sang anak, sebagaimana pada umumnya anak, tak terlalu peduli. Makan belumlah menjadi aktivitas

Kapan Kita akan Sadar?Read More »

Sungguh Dia sangat ingin kita masuk surga. Demikian inti khutbah Jum’at di Masjid Al Falah, 21 Juni 2013. Kala Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dibelenggulah setan-setan. Bukankah ini pertanda betapa Dia sangat ingin kita masuk surga? Dia ciptakan neraka sebagai hukuman bagi orang-orang yang lalai hingga ajal menjemput, namun berapa banyak jalan

Dia Sangat Ingin Kita Masuk SurgaRead More »

“Risaulah pada yang tak pasti. Jangan merisaukan yang telah pasti.” Sungguh rezeki telah pasti. Tuhan telah janjikan, jika diri ini tak percaya, lalu pada siapa lagi hendak percaya? Bukankah kala seseorang telah menjanjikan dengan kepastian, kita bisa merasakan tenangnya hati? Padahal ia hanya lah insan biasa, nan jauh tak berdaya dibanding Penciptanya. Maka kerisauan akan

Kerisauan yang BermanfaatRead More »

“Kala makna diperkaya, pengalaman kan penuh warna.” Kita bereaksi terhadap makna. Dan sebab inilah kita punya kebebasan, apapun keadaan. Kebebasan ini pula lah, yang kala tak dibebaskan, maka kan berbalik membelenggu. Sebab makna, jadikan segalanya tampak nyata. Padahal kenyataan, bagi diri ini selalu merupakan penafsiran. Dan penafsiran, sangat bergantung pada silabus makna yang kita miliki.

Perkayalah Makna-maknaRead More »

“Menghitungi nikmat dalam diri, kusadari, sejatinya tak ada ruang tuk mengeluh.” Hikmah ini kupetik entah dari mana. Kubagian sebab ia membantuku tuk belajar mensyukuri tiap hal. Sudikah, wahai diri, jika sebelah matamu ditukar dengan uang 1 miliar? Tidak? Maka sejatinya kau telah memiliki 1 miliar lebih. Sudikah, wahai diri, jika salah satu jari kelingkingmu ditukar

Tak Ada Ruang Tuk MengeluhRead More »

“Pada tiap lelaku, ada bekas kebaikan dan keburukan.” Lelaku hanyalah buah kondisi jiwa. Jiwa yang sehat, jernih, terhubung pada Sumbernya, kan lahirkan lelaku yang lurus, teguh, dan memikat hati. Sebab tubuh adalah tentara jiwa. Meski serupa, senyum yang terbit dari ketundukan sungguh berbeda dibanding yang lahir dari keangkuhan. Teringatlah kita pada sebuah nasihat bijak, “Tetanda

Bekasan Pada LelakuRead More »

“Sungguh kita hidup dalam kehormatan sebab Dia tutupi banyak keburukan. Lalu dimana hendak bertinggi hati?” Tiada orang pernah tahu siapa diri ini sebenarnya. Begitu banyak hal, sengaja maupun tidak, kita tutupi, atau tertutupi. Dan karenanya kita mendulang kehormatan. Sayang tak banyak insan sadar akan hal ini, hingga hidup nyaman seolah ia mulia sebagaimana adanya. Padahal

Kita Dihormati, Sebab Tertutupi Aib DiriRead More »