Inilah pola pikir paling mendasar yang benar-benar memerlukan perjuangan bagi saya untuk menghayatinya. Karena paling mendasar, maka ia landasan bagi segalanya. Dan segala model serta teknik yang saya pakai, akan rapuh tanpa landasan yang satu ini. Ya, coaching adalah tentang klien, bukan tentang saya. Ini adalah hidupnya, targetnya, impiannya, pekerjaannya, keluarganya. Bukan tentang diri saya, […]

Seorang klien, disebut coachable, ketika ia memang telah berada dalam kondisi psikologis yang siap untuk melakukan perubahan. Maka kondisi klien, sebenarnya sama dengan kondisi saya sebagai coach. Sama-sama orang sehat, yang sedang ingin menjadi lebih baik. Nah, di sini serunya nih. Karena kondisi saya sama dengan klien, maka sebagaimana klien datang ke seorang coach, ia

Coaching Insight #2: Pertanyaan Itu pun, UntukkuRead More »

Saya pertama kali mengenal istilah coaching sebagai sebuah proses dan coach sebagai profesi pada sekitaran tahun 2007. Tiga tahun sejak pertama kali belajar NLP. Di tahun itu, saya menemukan beberapa buku tentang coaching, dan mulai mempelajarinya satu demi satu. Berbekal sedikit pemahaman tentang NLP, saya merasa sudah memahami coaching.

“Jasa gurumu takkan pernah terbalas. Maka jangan pernah sekali-kali merasa pernah membalasnya.” Karena ilmu ibarat bangunan, maka apa yang ada di bawahnya selalu menopang apa yang ada di atasnya. Dan selayaknya bangunan, yang kokoh menopang di bawah, yang dibangun jauh lebih dulu daripada pernak-pernik indah setelahnya, justru adalah yang paling tak terlihat. Dicermati lebih jauh,

Guru: Jasa nan Tak Pernah Bisa TerbalasRead More »

“Belajar menghendaki ketekunan melakukan pengulangan dan perbaikan.” “Setelah dua tahun,” tutur seorang kawan, “akhirnya aku baru bisa mengerti apa yang pernah kau ajarkan. Semuanya seperti tercerahkan, terangkai dengan rapi. Sebelumnya, berbagai teori ini seperti tersimpan secara acak.” Tampak tak asing? Tentu. Bukan sekali dua kali kudapati kisah seperti ini. Aku pun demikian. Mempelajari belasan buku

Membangun KeahlianRead More »

 “Berilmu tanpa beriman itu, serupa menggunakan mobil pinjaman namun menafikan yang meminjamkan.” Berkali-kali dalam kitabNya, kita diperintahkan untuk memperhatikan, berpikir, merenung. Tak sempurna keimanan seseorang yang tak menggunakan akalnya. Sebab akal, dan kegiatan berpikir, sejatinya adalah jalan untuk memahami ciptaanNya. Dan dari pemahaman itu kan lahir keimanan yang jauh lebih kokoh. Maka salah satu bukti

Berilmu lah dengan ImanRead More »

“Jalan yang tersedia, bagi yang benar-benar ingin melangkah.” Jalan adalah penghubung dua dunia. Tak diperlukan jalan jika tak ada kebutuhan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada kalanya jalan sudah tersedia, sehingga membuat perpindahan mudah saja. Ada kali lain, jalan belum tampak, maka perlu dibuat. Kita mengenal jalan setapak, yang mungkin mulanya disebut

Jalan Kan TersediaRead More »

“Tak ada belajar yang gratis. Semua perlu biaya. Namun sebanyak apapun biaya dikeluarkan, nilai sebuah ilmu tetap jauh melebihinya.” Sesuatu yang kita dapatkan, pastilah perlu ditukar dengan sesuatu. Ini sudah hukum alam. Jika barang yang nilainya menyusut saja demikian, apatah lagi ilmu yang nilainya kan bertambah seiring waktu. Sebuah nasihat pernah hadir, “Jika dua orang

Belajar Itu Pasti Perlu BiayaRead More »

“Yang tak mau berlelah-lelah dalam belajar, kan bersusah payah dalam kebodohan.” Seorang kawan mengeluh, “Seandainya dulu aku bersungguh-sungguh belajar mengemudi, kini aku takkan bergantung pada orang lain untuk bisa ke sana kemari.” “Lalu apa yang membuatmu tak melakukannya dulu?” tanyaku. Ia tersenyum kecut, “Aku tak merasa perlu. Dulu semuanya tersedia bagiku.” Ya, semuanya mudah baginya

Menikmati Lelah dalam BelajarRead More »

“Manusia pasti menjadi hamba dari sesuatu. Maka pilihlah sebaik-baik tuan, yang merupakan Tuan dari segala hamba.” Manusia diciptakan dengan kebutuhan untuk bersandar. Pada pikirannya, pada perasaannya, pada jabatannya, pada keluarganya, pada nama baiknya, dan pada banyak lagi jenisnya. Maka memilih tempat bersandar menjadi hal yang krusial, sebab ia menentukan keleluasaan kita dalam bergerak, bertindak.