“Senyum, adalah pemberian yang sulit ditolak.” Ya. Cobalah tersenyum pada seseorang. Dan dapati jika kita pasti kan mendapat balasan sebuah senyuman pula. Sungguh teramat jarang senyuman yang tak berbalas. Pun jikalau seseorang sengaja tak membalas senyum, sejatinya ia menahan dengan derita. Maka amatlah benar kala dikatakan bahwa senyuman adalah sedekah. Sebab jiwa yang sedang sehat […]
Author: Teddi Prasetya
“Sebagaimana karyawan diperlakukan, seperti itu lah ia kan memperlakukan pelanggan.” Memang tidak semua. Ada banyak pula karyawan yang meski diperlakukan kurang adil oleh perusahaan, sebab karena profesionalisme yang tinggi, mereka tetap berperilaku baik pada pelanggan. Namun secara rerata, kualitas layanan pelanggan sebuah perusahaan, mudah tampak dari kualitas layanan perusahaan pada karyawannya. Ada memang perusahaan yang
“Uang bisa membeli kebahagiaan, justru kala ia diberikan.” Ya. Di sinilah paradoksnya. Insan mengumpulkan uang, lalu hadir kesenangan. Namun sebagaimana tabiat kesenangan, ia sesaat belaka. Lalu dijadikanlah uang itu alat tuk membeli beragam kenikmatan. Lagi-lagi ia segera terbitkan kesenangan. Dan lagi-lagi kesenangan itu sementara saja. Sebab sejatinya kala uang digunakan untuk membeli, dan pakai sendiri,
“Tantangan terbesar masa kini mungkin bukanlah visi. Tapi aksi.” Ya, manusia di zaman ini rasanya sudah tak takut lagi bermimpi. Menembus batas kemungkinan, menuju langit kebelummungkinan, adalah hal yang telah menjadi bincangan sehari-hari. Namun sebagaimana tabiat mimpi yang tinggi melangit, pekerjaan rumah berikutnya adalah menurunkannya ke bumi. Menjadi khalifah, berarti melahirkan manfaat nyata. Dan melahirkan
“Ketaatan kita itu lah, yang kan jadi wujud baru, usai kematian di dunia.” Wujud kita kini, sungguh sementara. Kesementaraan itu nyata-nyata tampak dari berkurangnya fungsi tubuh setiap detik, hingga akhir hidup menjelang. Maka kesejatian diri bukanlah terletak pada apa nan tampak dalam wujud tubuh ini. Ia telah sedemikian nyaring diajarkan, tersimpan pada ketakwaan. Ketaatan pada
“Banyak jejak tak sengaja kita tinggalkan, dipunguti oleh orang lain. Maka pastikan itu jejak kebaikan.” Hari ini adalah hari yang menggembirakan. Bertemu dengan 3 orang alumni kelas Supercamp tahun lalu, beragam cerita berseliweran sedemikian liarnya. Melepas kangen adalah satu hal. Tapi yang paling mengagumkan adalah melihat ketiganya berbagi pengalaman setahun setelah Supercamp berlalu pada peserta
Menerima kenyataan berarti memahami bahwa diri ini manusia biasa yang terikat pada hukum sebab-akibat. Ya, hukum sebab-akibat memang membatasi, namun juga memberi ruang tak terbatas bagi diri untuk bertumbuh. Pada setiap pilihan ada dampak, di sinilah letak fungsi akal, untuk memahami dan menelaah setiap dampak yang kan dihasilkan. Ada kesulitan sebelum kemudahan. Sebab pada kesulitan
Mengamati balita makan, beberapa hal terlintas dalam benakku. Betapa orang tua dan para pengasuh perlu berjibaku, memutar otak memastikan sang anak makan hingga terpenuhi gizinya. Makan itu penting, apalagi bagi anak yang dalam masa pertumbuhan. Kekurangan gizi berarti fatal bagi perkembangannya. Namun sang anak, sebagaimana pada umumnya anak, tak terlalu peduli. Makan belumlah menjadi aktivitas
“Dua cara menyikapi harga naik adalah: mengurangi pengeluaran atau menambah penghasilan.” Harga bahan bakar minyak sudah baik. Dan diperkirakan, banyak harga lain akan mengikuti. Sebab kita tak punya kuasa tuk mencegahnya, maka mari kita renungi sejenak apa yang bisa kita lakukan. Ada 2 cara menyikapi kenaikan harga. Pertama, mengurangi pengeluaran. Kedua, menambah penghasilan. Keduanya benar
Sungguh Dia sangat ingin kita masuk surga. Demikian inti khutbah Jum’at di Masjid Al Falah, 21 Juni 2013. Kala Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dibelenggulah setan-setan. Bukankah ini pertanda betapa Dia sangat ingin kita masuk surga? Dia ciptakan neraka sebagai hukuman bagi orang-orang yang lalai hingga ajal menjemput, namun berapa banyak jalan

Recent Comments