“Pemimpin, adalah hadiah bagi yang dipimpin.” Demikian sebuah nasihat pernah bertutur. Ya, saya dulu berpikir sebaliknya. Bahwa kita, yang dipimpin ini, membutuhkan seorang pemimpin agar bisa berubah. Ini benar adanya. Hanya dalam banyak kondisi, yang terjadi bisa sebaliknya. Yakni bahwa hadirnya seorang pemimpin, ditentukan oleh yang dipimpin. Apa pasal? Lah, memang darimana asal seorang pemimpin […]
Author: Teddi Prasetya
Beberapa hari ini, saya tergelitik dengan tulisan dari salah satu sahabat saya, Coach Tjia Irawan. Ia menulis bahwa membangun coaching culture tidaklah cukup dengan hanya memberikan pelatihan coaching pada para manajer. Banyak inisiatif implementasi coaching tak jalan sebab karyawan pun perlu memiliki pemahaman yang tepat tentang coaching. Ya, mengajari para manajer bagaimana melakukan coaching dengan
Kamis, 26 September 2013 lalu, saya diundang oleh Bang Ippho Santosa untuk bergabung di Grand Seminar Indonesia Berdaya. Sungguh sebuah kehormatan, sebab yang hadir di sana sejatinya adalah para guru dengan jam terbang tinggi, baik di dunia bisnis maupun motivasi. Undangan dari Bang Ippho beberapa minggu sebelumnya hanya mengisyaratkan, “Silaturahim, biar banyak orang tahu kalau
Merenungi sejenak fenomena sekolah berlabel ‘internasional’. Menggunakan kurikulum dari luar negeri, setiap hari berbahasa inggris. Pada saat yang sama, kala bertemu dengan beberapa siswa SMA sekolah serupa ini, mereka bertanya dimana itu kota Kudus? Saat aku memberikan sebuah kuesioner untuk diisi, seorang siswa bertanya, “Kak, apa artinya ‘merangkai’?” Aku tertegun. Tak kuragukan kefasihan mereka berbahasa
Bangunan keimanan dimulai dari ilmu dan amal. Iman nan kokoh, ibarat bangunan tinggi, dibangun dari fondasi, batu bata, dan pasir-pasir kecil. Ia lah ilmu dan amal. Maka jangan remehkan amal, sekecil apapun, sebab bisa jadi itulah yang mengantarkan kita ke surga. Serupa sahabat Nabi saw yang mulia, Bilal bin Rabah ra, yang suara sandalnya telah
Segala tempat bergantung, selama ia makhluk, pasti akan musnah. Maka bergantung pada makhluk, lalu merasa goyah, adalah sebuah keniscayaan. Bergantunglah pada Dzat yang takkan lemah, yang menjadi sandaran segala makhluk, suka atau tidak, sadar atau tidak. Selain itu disukaiNya, jiwamu pun kan tenteram karenanya. Kala sesuatu digantungkan pada tempat yang lebih tinggi, mudah memahami hakikat
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah: 277) Merenungi ayat ini—berbekal tafsir Zhilal—kupahami cara mudah tuk mendapatkan ketentraman jiwa. Kesirnaan kekhawatiran dan kesedihan dalam menjalani beragam peristiwa hidup. Ia lah melalui
Sebuah hikmah sampai pada kami beberapa waktu lalu, melalui akun seorang kawan di media sosial. Dalam hikmah tersebut, dikatakan bahwa perintah agama pada manusia untuk menjadi kaya kerapkali disampaikan secara implisit melalui perintah seperti zakat, sedekah, haji. Ketiga perintah tersebut, nyata-nyata memang menghendaki seseorang untuk memiliki harta yang cukup untuk dapat menunaikannya. Tak disebutkannya secara
“Pertumbuhan, terjadi kala diri sibuk melucuti keakuan.” Kita lahir tanpa mengenal diri. Lalu mendewasa dengan keyakinan akan apa nan bisa kita lakukan. Lalu terbitlah keakukan, seiring terkumpulkannya keberhasilan. Selayaknya segala nan berlebihan selalu kehilangan manfaat, begitu pun keakuan, yang perlahan surut maknanya setiap kali ia melewati batas. Pada keakuan, terdapat kemandirian. Namun diciptakannya insan bukanlah
“Bukan berapa kali kau jatuh. Tapi berapa kali kau berdiri kembali.” Hidup kan dipergilirkan. Susah senang, kaya miskin, menang kalah, di atas di bawah, siang malam, hujan panas. Pada tiap keberhasilan, terdapat pelajaran akan apa-apa nan bekerja. Pada tiap kegagalan, tersimpan hikmah akan apa-apa nan perlu diubah. Dalam kedua sisi selalu ada pelajaran, ketika mata,

Recent Comments