Salah satu adab belajar adalah tak meminta tambahan ilmu, sebelum yang sudah dipelajari benar-benar dipahami dan diamalkan. Sebab belajar, sejatinya bukanlah tuk belajar itu sendiri. Belajar, sungguh adalah sarana untuk menjadikan sebuah ilmu berubah menjadi manfaat. Dan perubahan ini tak mungkin terjadi tanpa proses peresapan, perenungan, dan pengalaman yang sungguh-sungguh. Era zaman ini sungguh telah […]
Author: Teddi Prasetya
“Jika ada yang katakan kesabaran ada batasnya, maka kemarahan dan kekecewaan pun ada batasnya pula.” Demikian biasa terdengar. Sebuah kalimat yang tentu memiliki alasan. Atau menjadi alasan, untuk tidak merasa sabar. Dulu, aku berpikir bahwa kalimat ini amat perlu direvisi. Ya, mempelajari beragam ilmu dan meretas secuil hikmah saja telah mengajarkanku bahwa kesabaran sungguh tidak
Saya siap menjadi coachee ketika: Sudah bulat untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Tidak berkutat lagi dengan fokus pada apa yang salah. Sudah memahami beberapa pemahaman dasar akan hal yang ingin saya capai. Tidak mesti ahli, tapi dasarnya tahu. Misalnya, kalau saya dulunya adalah orang akuntansi, lalu pindah ke dunia penjualan, maka saya perlu tahu dulu
Yang paling jelas, saya membutuhkan coaching kala saya ingin mencapai sebuah tujuan. Jangka panjang maupun pendek. Jangka panjang misalnya adalah pengembangan bisnis, pencapaian karir yang lebih tinggi, perpindahan karir, dll. Jangka pendek contohnya adalah pencapaian target yang lebih tinggi, ekspansi pasar, dll. Nah, dalam proses mencapai tujuan itu, tentu akan ditemui berbagai kendala, baik berasal
Pagi ini saya termenung kala membaca artikel dari Pak Jamil Azzaini, berjudul “Simpanlah Aibmu”. Ya, sungguh terlalu banyak aib diri ini yang tersembunyi. Diri ini masih dihargai orang lain sebab tertutupinya aib-aib itu. Maka benarlah ajaran yang mengatakan kita tuk tidak mengumbang aib yang sejatinya telah ditutupi olehNya. Simpanlah baik-baik aibmu, sucikan bekasnya dengan air
“Ajari aku mencintaiMu dalam lelah. Ajari aku mencintaiMu dalam duka. Karena jiwa kadang rapuh, bosan, tak setia. Ajari aku mencintaiMu.” – Opick – Sepenggal lirik di atas kutemukan dalam album Ya Maulana, karya terbaru Opick. Entah mengapa syairnya menggelisahkan hati. Mungkin sebab ia lah yang sedang kualami saat ini. Kala jiwa ini rapuh, bosan, dan
“Ada tidaknya orang lain kala kita butuhkan, adalah gambaran dari ada tidaknya kita kala orang lain butuhkan.” Hidup ini timbal balik semata. Apa yang kita dapat, kerapkali adalah buah dari apa yang kita beri. Meski hitung-hitungannya tak pasti, namun menerima akibat memberi adalah keniscayaan. Oleh sebab itu tak layak diri mengharapkan balasan, atas apa-apa yang
“Wahai Muhammad, cukuplah Kami menjadi pelindungmu dari gangguan orang-orang yang memperolok-olokmu, yaitu mereka yang menyembah tuhan selain Allah. Mereka kelak akan merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka itu. Sungguh Kami mengetahui bahwa kamu merasa tertekan karena celaan-celaan mereka. Oleh karena itu, agungkanlah Tuhanmu dengan memujiNya, dan jadilah kamu golongan orang yang taat. Beribadahlah kepada Tuhanmu
Siang tadi, saya dan beberapa rekan fasilitator dari Dunamis silaturahim ke rumah Pak Nugroho Supangat. Pak Nug, begitu biasa kami memanggil beliau, adalah Chairman dan Knowledge Fellow dari Dunamis Organization Services. Perusahaan yang lama mengenal produk pelatihan dari FranklinCovey pasti mengenal beliau. Ya, sudah sejak beberapa bulan terakhir beliau memang sakit yang cukup membutuhkan waktu
Suatu kali saya pernah diminta untuk membawakan pelatihan untuk para manajer. Tak tanggung-tanggung, materi yang diminta adalah soal kepemimpinan. Padahal, saya belum punya pengalaman memimpin secara formal. Pengalaman memimpin saya lebih banyak tak formal, terutama dalam komunitas. Untung kala itu terbersit sebuah ide dalam benak saya. Ya, memang saya tak punya pengalaman sebagai atasan formal,

Recent Comments