Misi dan Tujuan telah dimiliki, bagaimana menjadikannya nyata? Inilah tantangannya. Sebab bermimpi itu enak, maka ada banyak orang yang berhenti disitu, dan merasa bahwa segalanya telah dimiliki. Padahal adalah hak sebuah impian, untuk diwujudkan. Jika kita telah berani bermimpi, kita mesti sungguh-sungguh mewujudkannya. Atau kalau tidak, impian itu akan menghantui masa depan kita, menuntut haknya. […]
Author: Teddi Prasetya
Setelah kita sadari kemampuan mengelola pikir dan rasa, setelah kita bisa merasa bahagia sebab pilihan dan bukan keadaan, lalu apa? Apa lagi yang penting dilakukan? Insan yang bertanggung jawab atas responnya tentu takkan berhenti hanya karena ia mampu mengotak-atik pikirannya. Ia akan melangkah maju untuk bertanggung jawab atas nasibnya. Sebab nasib adalah di tangannya, menari
“Menabur pikiran, menuai tindakan,” nasihat Samuel Smiles, sebagaimana kerapkali dikutip oleh Stephen R. Covey. Sebab kita menginginkan hasil, dan hasil adalah buah dari tindakan, maka cermatlah terhadap pikiran yang menjadi bibitnya. Mengapa ada orang yang mencapai hasil sedang yang lain tidak? Cermati pikirannya, sebab dari sana lah semuanya bermula. Tapi apa itu pikiran? Seperti apa
Sebagaimana telah saya singgung pada artikel lalu, NLP amat erat hubungannya dengan kepemimpinan. Sebab mempraktikkan NLP, sejatinya adalah menjadi tuan atas diri sendiri, menjadi pemimpin atas diri sendiri. OK, kepemimpinan. Ia adalah sebuah nominalisasi. Kata benda, yang bukan benda. Meski secara kaidah kebahasaan tergolong kata benda, kita tidak pernah bisa menemukannya di pasar, mal, pun
OK. Indonesia NLP Society sudah berdiri hampir 7 tahun. Saya sudah belajar NLP hampir 9 tahun. Lalu apa? Apa yang saya pahami saat ini? Apa itu NLP? Apa manfaatnya? Bagaimana pengembangannya? Inilah beberapa pertanyaan yang memicu saya untuk meneguhkan niat kembali menulis dan mengembangkan NLP. Niat yang makin kuat sepulang menikmati belajar bersama Michael Hall.
“Pada tiap yang kau tanyakan, terdapat jawaban.” Ada dua jenis tanya. Tanya yang berharap jawaban. Dan tanya yang berharap pembenaran. Pada yang pertama terbuka lah pintu-pintu ilmu, dan tak jarang cahaya-cahaya hikmah. Inilah tanya para pecinta ilmu. Pada yang kedua terkunci lah gerbang ilmu, bahkan semakin rapat dibanding sebelumnya. “Waspadalah dengan pertanyaanmu,” ujar nasihat bijak.
“Dosa bagaikan debu. Kala sedikit dan lekas disapu, ia tak tampak. Namun kala dibiarkan tanpa disapu, ia meninggalkan bekas.” Tiap perbuatan kan menjadi kebiasaan. Ia terekam dalam pikiran, perasaan, hingga gerak langkah. Kesan dan maknanya lah yang menentukan seberapa kuat ia tertanam. Makin kuat tertanam, makin besar kemungkinan kita mengulanginya. Sedang jika ia lemah belaka,
“Saat mendengar kata ‘bakat’, pahamilah ia sebagai pertemuan antara anugerah dan kesungguhan.” Entah sejak kapan aku mendapati bahwa kata ‘bakat’ seolah memiliki makna yang ber inuansa magis. Orang yang berbakat adalah orang yang berbeda, tiada lain, datang tiba-tiba, seolah-olah Tuhan telah menakdirkannya demikian dan tak memberikannya pada yang lain. Para berbakat adalah orang yang unik,
“Saat sebuah makna telah kita pilih, ingatlah masih ada jutaan makna lain menunggu tuk diraih.” Manusia adalah makhluk makna. Ia bergerak sebab makna, diam pun sebab makna. Benarlah sebuah nasihat yang mengatakan bahwa kebermaknaan hidup, bergantung pada makna yang diurai setiap saatnya. Demikianlah hidup sejatinya adalah rangkaian pemilihan makna. Ada banyak makna bertebaran, namun tanpa
1 Maret 2013 lalu adalah momen penantian panjang saya untuk bisa belajar langsung dari salah satu pendiri Neuro Semantics, L. Michael Hall. Mengikuti tulisan beliau sejak 2008, pertemuan seminggu lebih itu seperti memuaskan dahaga saya akan berbagai pertanyaan yang menggelayut selama ini. Ya, Hall merupakan salah satu sosok yang bagi saya amat unik di jagat

Recent Comments