Aku ingin berbagi kepadamu sebuah mimpi. Barangkali kau tertarik, bolehlah kita mewujudkannya bersama. Ya, sudah lama aku bermimpi untuk memiliki sebuah perpustakaan publik. Rumah baca yang menjadi tempat belajar bersama. Tentu saja tidak hanya orang bisa datang untuk meminjam buku dan membaca, kita tentu akan berdiskusi di sana. Tapi rumah baca itu tentu perlu bisa […]
Author: Teddi Prasetya
Setelah menulis tentang perjalanan ELC di artikel sebelumnya, aku baru tersadar bahwa sebenarnya program sertifikasi NLP Coaching justru berumur lebih tua dari itu. Ya, kelas coaching berbasis NLP sendiri kan sudah diadakan sejak 2010, tapi hanya berupa kelas pendek berdurasi dua hari. Perlu ku akui, saat itu pun kemampuan coaching ku masih amat terbatas. Meski
Ku tulis di artikel sebelumnya, bahwa ELC sudah berumur sepuluh tahun. Ia dimulai sejak 2015 dengan nama NLP Essentials. Kala itu durasinya tiga hari, berjalan dua angkatan. Setelahnya, kami merasakan bahwa materi yang dirasa penting sungguh sulit dibawakan dalam tiga hari. Jadilah kami desain ulang sehingga jadi empat hari, dibagi menjadi dua modul. Ah, aku
Baru ku sadari hari ini, di kelas Essential Life Course (ELC) Jakarta, bahwa INLPS sudah bekerja sama dengan Amaris Kemang selama sepuluh tahun. Ini juga sekaligus menandai bahwa program ELC sudah berjalan 10 tahun juga. Wah, lama juga ya. Alhamdulillah. Ah, mungkin ini adalah momen tepat untuk merefleksikan perjalanan ELC dan INLPS, bersama Amaris Kemang
Peristiwa hari-hari ini membuatku ingin berkomentar, “Siapa bilang jadi pemimpin itu mudah?” Ya, jadi pemimpin itu tak pernah mudah. Ia membutuhkan seperangkat kemampuan yang kompleks, teknis dan karakter. Keributan yang dipicu oleh perkataan para elit politik adalah contoh dari kebutaan mereka bahwa saat mereka menjadi pejabat publik, maka mulut mereka memang tak bisa sembarangan lagi
Dalam setiap perayaan Idul Adha, khatib shalat sering mengangkat penggalan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as sebagai pelajaran. Ayat yang kerap dikutip adalah QS Ash-Shaffat ayat 102 yang terjemahannya adalah sebagai berikut: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
Ya, empat tahun lalu aku menulis sebuah artikel bertajuk “Perkenalanku dengan Filsafat”. Artikel itu menandai perjalananku belajar filsafat secara formal di STF Driyarkara. Rupa-rupanya, aku tak pernah lagi menulis soal perjalanan belajarku selama di sana, hingga akhirnya aku tahun ini lulus studi S2. Setahun matrikulasi, tiga tahun kuliah, total empat tahun. Lebih lama dari masa
Jika ada satu tantangan pembelajaran yang paling krusial untuk diatasi oleh manusia di era ini adalah: kecenderungan kita untuk menggemari ringkasan. Sepuluh tahun lalu, setidaknya, kita masih dimudahkan mencari referensi berupa tautan di situs web yang setidaknya menghendaki kita untuk membaca sendiri artikel yang tersedia. Kini, kecerdasan imitasi telah melangkah lebih jauh untuk meringkaskan semua
Belakangan ini berita terkuaknya kasus korupsi sedang ramai. Dari pagar laut hingga Pertamina, kita geleng-geleng kepala dibuatnya, sebab melibatkan banyak orang yang sebenarnya sudah amat sangat kaya, dengan mengorbankan mereka yang miskin. Pertanyaan yang muncul dalam benakku adalah bagaimana asal muasal korupsi ini? Bagaimana seseorang (atau sekelompok orang) terlibat, tega, terencana, terorganisir, berusaha mengeruk kekayaan
Di awal tahun ini, seperti biasa, banyak yang menyarankan untuk membuat tujuan. Resolusi awal tahun, namanya. Itu sudah biasa. Namun di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa tak perlu lah kita membuat semacam itu. Toh, banyak yang tak tercapai pula. Beredar sebuah video yang secara jenaka menunjukkan seseorang sedang mengevaluasi resolusi awal tahunnya dengan menghapus

Recent Comments