Ilmu adalah cahaya. Demikian sebuah nasihat. Mulanya, kuanggap ia sebuah metafora. Namun kiranya, ia kenyataan belaka. Ilmu adalah cahaya. Sebab kala tak berilmu, pikiran memang gelap. Coba saja pikirkan sebuah aktivitas yang diri ini tak punya ilmu sedikit pun tentangnya. Apa yang muncul dalam benak? Gelap, bukan? Sisi lain, pikirkan sebuah kegiatan yang diri ini […]

Agama mengajarkan diri ini tuk terus meluruskan niat. Lama kurenungi, baru belakangan ada setitik jawaban yang begitu berarti. Ya, niat mesti lah terus diluruskan, sebab niat sangat mungkin bengkok. Contohnya begini. Kita ingin pergi ke Jogja. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka dipilihlah kereta api sebagai cara menuju ke sana. Niat yang telah dipasang: pergi ke

Meluruskan NiatRead More »

Hari ini adalah hari terakhir The 4th Indonesia NLP Conference 2014. Gelaran dari komunitas virtual Indonesia NLP Society ini memang sudah kali keempat diadakan, dan Alhamdulillah selalu diminati oleh para pembelajar NLP. Sejak awal kemunculannya pada 2010, Indonesia NLP Conference masih menjadi ajang silaturahim para pakar dan pembelajar NLP yang menggairahkan.

“Kita dapat saling memberi bantuan dan dukungan di masa-masa sulit, tapi jangan sedikit pun berpikir bahwa kita akan menyembuhkan saudara atau saudari kita.” “Saat saudara kita dilanda kesulitan, kita semestinya merangkul mereka dan memberi tahu bahwa kita ada untuk menemani mereka—untuk mendengar—tanpa disertai pikiran bahwa mereka adalah ‘proyek’ yang akan kita perbaiki.”

Menggunakan NLP dalam psikoterapi memerlukan ilmu dan keterampilan yang komprehensif. Mengikuti pelatihan 1-2 hari jelas tidak memadai. Saya selalu menganjurkan setiap kawan yang ingin praktik terapi secara profesional untuk benar-benar mempelajari NLP secara utuh, melalui pelatihan yang komprehensif. Ini sebab kita tidak pernah tahu akan menghadapi klien dengan kondisi seperti apa.

Beberapa kali dalam waktu berdekatan, saya mendapati pertanyaan serupa tajuk di atas. Sebuah pertanyaan yang sejatinya tidak saja muncul belakangan, melainkan sudah ada sejak lama, bahkan di negara asalnya Amerika. Namun beberapa kawan mengajukan pertanyaan serupa, mungkin sebab terbitnya sebuah tulisan dari Mas Mohammad Fauzil Adhim berjudul “Tragedi Iman Seorang Hafidz” di sini. Saya maklum

Benarkah NLP bagian dari New Age Movement?Read More »

Jika NLP adalah modeling. Model dan teknik dalam NLP adalah hasil modeling. Maka wajar jika banyak model dan teknik yang belum diuji menggunakan metode ilmiah. Sebab para praktisi NLP menggunakan modeling untuk melakukan ‘penelitian’. Menggunakan modeling, yang dicari adalah ‘bagaimana’ sebuah hasil bisa dicapai? ‘Bagaimana’ prosesnya? Maka NLP memang pragmatis. Cari ahlinya, temukan strukturnya. Uji

Apa Keunikan NLP?Read More »

Enam tahun lalu, saya pernah menulis artikel tentang ilmiah tidaknya NLP. Dan kini, saya berminat untuk melanjutkan. Apa pasal? Karena belakangan ada beberapa miskonsepsi tentang NLP. Pada saat yang sama, saya pun baru mendapati beberapa informasi tentang riset-riset terkait NLP. Saya sendiri belum pernah melakukan riset ilmiah apapun tentang NLP. Maka artikel ini, dan lanjutannya—insya

Apakah NLP Ilmiah?Read More »

Coaching itu percakapan. Seorang coach yang mahir akan mampu mempraktikkan coaching sehingga seolah-olah ia adalah percakapan biasa. Namun sejatinya di dalam percakapan itu terjadi proses perubahan yang sangat halus. Serupa pengalaman saya ketika pertama kali melihat ayah saya memalu paku ke sebuah papan. Tampak ringan dan mudah. Begitu saya coba sendiri, hampir-hampir jemari saya pipih

Coaching itu (Bukan) Percakapan BiasaRead More »