NLP, salah satunya didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur dari sebuah perilaku. The structure of subjective experience. Maka yang diincar oleh seorang praktisi NLP adalah pola-pola perilaku, alih-alih ‘isi’ atau penyebab dari perilaku tersebut. Pada seseorang yang curhat dengan berkata, “Caranya berbicara membuatku kesal deh!”, praktisi NLP tidak akan bertanya, “Memangnya dia bicara apa? Kapan […]
Author: Teddi Prasetya
Suatu kali, Michaell Hall pernah berkata, “Jika saja dulu NLP memulai dengan coaching—alih-alih terapi—we can own this field.” Kalimat ini bukan tanpa dasar. Ia didasari oleh pengalamannya mengisi sebuah sesi di salah satu konferensi ICF di sebuah negara. Dari sekitar 24 orang yang diundang—kalau saya tidak salah dengar—3 orang di antaranya adalah para coach berbasis
Bulan penempaan itu baru saja usai. Ada sendu, tersebab menyadari kemalasan di hari-hari yang lalu. Jauh memang, jika diri ini menghendaki disematkan sebutan takwa. Namun bukan berarti lantas tak layak pula tuk bersyukur sebab hari mulia pun menjelang. Ia lah Idul Fitri. Maka mari sejenak kita renungi, tuk sekedar mengukur pencapaian di tahun ini. Sebuah
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Al Anbiya: 73) Sungguh jernih Dia ajarkan pada kita tugas-tugas kepemimpinan. Sungguh gamblang pula bagi kita tuk memilih pemimpin terbaik, kapanpun diperlukan. Tugas-tugas kepemimpinan
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk mereka yang bertakwa.” (Al Baqarah: 2) “Inilah satu-satunya kitab,” ujar seorang guru, “yang paling meyakinkan di dunia, paling percaya diri.” Ya, bagaimana tidak? Silakan cermati segala kitab yang pernah terbit, yang ditulis oleh manusia, niscaya kita takkan menemui kalimat seperti ayat ini. Tak satu pun penulis
“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.” (Al Baqarah: 237) Konteks utuh ayat ini adalah nasihat bagi orang yang telah bercerai untuk tetap dapat mengingat kebaikan-kebaikan satu sama lain. Ya, perceraian adalah sesuatu yang menyakitkan. Sebab ia serupa melepaskan ikatan nan sangat erat, bahkan kerap seperti melepaskan kulit dari daging. Tidaklah dua insan menikah
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (Al Baqarah: 216) Penglihatan manusia sungguh pendek, lagi kerap mudah tertipu. “Itulah sebab,” nasihat seorang guru, “meski mata kita 2, ia diberi penutup.” Karena ada kalanya kita perlu memejamkannya, dan merenung, akan hikmah dari
Alhamdulillah. Hari minggu kemarin, saya menemukan buku ini. Judul aslinya “Qawa’id Qur’aniyyah”. Judul terjemahannya “50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an’, karya Dr. Umar bin Abdullah al Muqbil. Sebuah buku yang menarik tangan saya untuk membawanya pulang, sebab tema bahasannya yang unik. Setidaknya dalam pandangan saya yang awam agama. Pada intinya, buku ini membahas pokok-pokok kaidah
Jamak saya dapati kala beberapa kali memfasilitasi pelatihan di perusahaan, para peserta hadir tanpa bayangan akan mempelajari apa. Mereka menerima undangan yang hanya berisi informasi tentang judul pelatihan, waktu, dan tempat. Pada sebagian kecil perusahaan, terkadang, ada yang mencantumkan ringkasan materi. Hanya itu. Ok, lalu apa persoalannya? Amat banyak. Hampir pasti dalam kelas yang serupa
Makin tinggi sebuah pohon, makin dalam akarnya menghujam. Serupa gedung, makin tinggi ia menjulang, makin diperlukan fondasi kokoh di bawah tanah. Perumpamaan akar dan fondasi dalam diri ini adalah karakter: sifat-sifat baik yang melatarbelakangi pikiran, perasaan, dan tindakan. Karakter adalah tentang bagaimana kita mengelola dan memimpin diri. Karakter juga adalah tentang bagaimana kita menjalin hubungan

Recent Comments