“Kehidupan terus berlangsung, bukan sebab kita tak pernah jatuh. Namun sebab kita jatuh, dan bangkit berkali-kali.” Telah Dia pergilirkan keberhasilan dan kegagalan. Dan itu lah janjiNya. Apa pasal? Ya, sebab segala hal netral saja di hadapanNya. Sungguh keberhasilan diri ini, tak bermakna dibanding segala ciptaanNya. Dan sungguh kegagalan diri ini, tak berarti dibanding segala karuniaNya.
Author: Teddi Prasetya
“Keinginanmu untuk pasrah sebelum menyempurnakan usaha bisa jadi merupakan kekufuran yang samar. Sementara keteguhanmu untuk berusaha tanpa mengindahkan kepasrahan bisa jadi merupakan kesombongan terselubung. Keindahan hidup terjadi ketika keduanya berjalan dengan harmonis.” Di atas adalah terjemahan bebas dari salah satu hikmah yang diuraikan Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab beliau, Al Hikam. Kitab yang tampak tipis
“Tanamlah doa di kala lapang, agar dikabulkan doa di kala sempit.” Doa ibarat bibit. Kita tak pernah tahu kapan dan seperti apa ia kan dikabulkan. Namun yakinlah bahwa ia pasti tumbuh, sebab janjiNya takkah pernah luput. Dan layaknya bibit, doa yang kita panjatkan mestilah sesuatu yang baik, hingga layak lah kita berharap hasil yang baik
“Ia nan telah tinggi, tak peduli seberapa tinggi ia berdiri.” Apa yang seseorang perlukan, adalah apa yang tak ia miliki. Maka dia yang gemar dihormati, adalah yang masih kekurangan kehormatan. Sedang diri yang terhormat, tak pernah peduli, akankah ia diberi. Maka kenalilah, wahai diri, apa-apa yang kau perlukan. Semakin tinggi tumbuh jiwamu, sejatinya semakin tak
“Tidakkah kau lelah, wahai diri, bergelimang dalam dosa, yang nikmatnya selalu hanya sesaat?” Ya, dosa itu melelahkan. Sebab ia bukanlah fitrah dasar manusia, maka berbuatnya selalu menghadirkan kegelisahan. Nikmat? Mungkin. Namun tak pernah lama, melainkan hanya selalu sesaat saja. Kenikmatan dalam dosa, acapkali hanyalah bisikan yang menipu. Jauh dalam lubuk hati setiap insan, tersimpan kerinduan
“Tanda iman adalah kesejukan. Tapi jangan jadikan kesejukan itu tujuan.” Iman adalah keyakinan. Iman adalah pembenaran. Pembenaran tentang keberadaan sebuah hakikat yang tak tampak oleh mata, tak terdengar oleh telinga, melainkan hanya tanda-tandanya saja. Tanda-tanda ini nyata, namun para beriman tak pernah berhenti—apalagi terjebak—dengannya. Sebab segala tanda fana adanya. Sebab yakin dan membenarkan, maka para
Menulis artikel yang lalu aku tergerak untuk menelaah sedikit apa yang kupahami tentang Taksonomi Bloom. Adalah Benjamin Bloom, yang memimpin sebuah tim beranggotakan para pakar pendidikan, untuk menyusun sebuah klasifikasi terhadap tujuan pendidikan. Hadirlah beberapa level yang menandakan pengusaan seseorang terhadap sebuah ilmu. Ia adalah: Mengingat. Memahami. Menggunakan. Menelaah. Mengevaluasi. Menciptakan. Tiga yang pertama merupakan
“Udah berkali-kali lho, kusampaikan ini pada mereka, tapi mereka nggak juga bergerak dengan kesadaran sendiri,” kisah seorang kawan. Bukan sekali dua kali kalimat serupa ku dengar, hingga pikiranku pun kembali melayang ke sebuah nasihat, “Makna dari komunikasi terletak pada respon yang didapatkan.” Ah, betapa nasihat ini begitu menghenyak kala pertama kali ku dengar dulu. Begitu
“Kebaikan tanpa iman laksana buih di lautan. Ia bertebaran namun tak hadirkan keselamatan.” Beriman itu sederhana. Ia adalah pernyataan hati, dilanjutkan lisan, dijadikan perbuatan. Yang tak sederhana adalah diri yang kerap berpikir kesana kemari. Terjebak pada pandangan sempit yang ada di hadapan, lalai pada telah menunggunya keabadiaan. Pandangan sempit inilah yang acapkali menyisipkan pemahaman bahwa
“Para berilmu tahu benar beban ilmu, hingga tak sanggup banyak bicara kala semakin banyak nan dipahami.” Terngiang lah sebuah nasihat, “Hak sebuah ilmu, adalah diamalkan.” Ah, betapa berat ia terasa. Sebab pada segala hak, kan menuntut pertanggung jawaban. Yakni setiap ilmu yang tak diamalkan, kan jadi penuntut besar di hari akhir nanti. Tak heranlah, kiranya

Recent Comments