Psikolog generasi 5? Emang generasi 1 sampai 4-nya apa? Hehe.. nanti kita pikirkan. Tapi aku ingin mengawali tulisan ini dengan sekutipan pembelajaran yang ku dapat saat membaca karya Abraham Maslow yang bertajuk, Maslow on Management. Bahwa beliau sudah give up dengan psikoterapi. Dan menemukan bahwa bisa jadi, dunia kerja, dunia berkarya, adalah jalan yang menjanjikan […]
Category: Reflections
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘innalillah wa inna ilaihi rajiun’. Mereka itulah orang yang akan memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Al Baqarah: 155-157 Sabar
“Jika tak menulis, jangan-jangan kita tak berpikir.” Belajar diawali dengan menyimak. Ya, menyimak. Tak sekedar mendengar. Sebab mendengar hanya bisa selewatan. Sedang menyimak berarti memperhatikan tiap detil. Menandai apa nan penting-penting. Dengan menyimak kita kan tahu. Namun tahu masih berjarak dengan mampu. Di tengah keduanya ada paham. Takkan terjadi mampu tanpa paham. Pemahaman, ia tak
Kehidupan terus berjalan, dalam dimensi waktu yang tak pernah berhenti. Waktu melaju, sementara tugas tengah menunggu. Kehidupan penuh dengan pekerjaan. Insan diciptakan tuk menjadi bagian dalam pengelolaan. Bekal telah disiapkan. Namun sebagaimana para pengembara, tak semua sabar mempergunakan bekal hingga sampai pada tujuan. Ada bekal yang dihabiskan dalam permulaan. Ada bekal nan tak terpakai hingga
Tabiat pikiran itu cair. Saking cairnya, maka bagaimana kita diajak berinteraksi setiap hari, begitu pulalah pikiran kita kan terbentuk. Bukankah demikian sering kita temui anak yang memiliki pola pikir mirip dengan orang tuanya? Atau anggota tim yang menggunakan pendekatan serupa dengan atasannya? Contoh kecairan lain, mari kita bayangkan kejadian berikut ini. Masuk kantor setelah masa
Jika tak ada kegaiban, kehidupan takkan berarti. Salah satu ciri insan nan bertakwa, insan nan diperuntukkan baginya petunjuk mulia bertajuk Al Qur’an, ialah keyakinan pada yang gaib. Sungguh aku kesulitan memahami hal ini. Mengapakah kiranya keyakinan pada yang tak tampak ini merupakan ciri ketakwaan. Sedang takwa itu sendiri didefinisikan sebagai sesungguh-sungguhnya menjalani hidup, dengan indikator
Dalam penjelasan tentang bagian awal surat Al Baqarah, Ustadz Nouman Ali Khan menuturkan hikmah dari ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat yang hanya berupa rangkaian huruf dan bukanlah sebuah kata. Ayat-ayat yang Rasulullah saw tak pernah menjelaskan maknanya. Ayat-ayat yang memang seolah disengaja untuk tak bisa ditafsirkan secara gamblang. Deretan nama besar ulama memberikan penjelasan, namun satu yang
Buku adalah makanan pikiran para pembelajar. Tiada pembelajar sejati yang tak gemar membaca. Jika pun tak tiap saat, mungkin hanyalah tersebab keterbatasan. Terbatas sumber bacaan, terbatas waktu luang. Tapi pembelajar penggemar ilmu pastilah memiliki kegandrungan dan kegairahan membaca amat tinggi. Bagaimana tidak? Sedang ilmu demikian banyak, waktu demikian terbatas. Ingin berguru langsung pada ahli, tak
Simpulan yang sementara ini ku dapat saat membaca The Language Instinct garapan Stephen Pinker adalah: pikiran dibentuk oleh bahasa yang kita gunakan. Bahasa itu sendiri bentukan manusia. Pinker berargumen bahwa keahlian pembentukan itu instingtif. Ia ada sejak manusia dilahirkan sebagai bagian dari kebutuhan dasar hidupnya. Buktinya, anak tak pernah mengikuti kursus bahasa untuk dapat berbicara.
Tujuan dari dipelajarinya sebuah ilmu adalah amal. Terjadinya perubahan perilaku yang diharapkan pula menghasilkan perubahan hasil—meskipun, hasil tak selalu merupakan dampak langsung dari perilaku. Maka sudah selayaknya kita belajar pada seorang guru yang ilmunya tampak pada lelakunya. Mewujud dalam tindakannya. Tercermin dalam tiap langkahnya. Guru yang demikian telah melewati ratusan bahkan ribuan jam praktik hingga

Recent Comments