“Apa yang dilakukan era digital pada kita adalah kedangkalan.” “Video ayah itu,” ujar anak keduaku, “ada nggak sih yang fun gitu?” Aku tersenyum kecut. Karena memang sebagai youtuber baru perkembangan subscriber-ku bisa jadi dibilang lambat. Selain karena memang ini hobi yang dikerjakan di sela waktu kerja, ia juga berisi konten yang bukan berorientasi pada keseruan. […]
Category: Nasihat Diri
“Obsesi pada kecepatan, kerap melalaikan kita dari kedalaman.” Istilah dromologi pertama kali ku baca di buku karya Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari. Beliau menuturkan dengan apik kata yang konon diperkenalkan oleh Paul Virilio sebagai sebuah obsesi pada kecepatan. Kehidupan manusia era digital seolah tak pernah lepas dari kata cepat. Kecepatan adalah mata uang baru.
Ikhlas, diajarkan oleh para guru, bermakna murni. Persis serupa susu yang paling murni, belum tercampur apapun. Susu, dicampur dengan kopi dan teh, akan tetap teridentifikasi sebagai susu, namun tujuan keberadaannya bergeser dibandingkan dengan susu yang murni. Ikhlas, dijelaskan oleh para guru pula, adalah perbuatan hati, gerakan batin. Ia tak ada hubungannya dengan apa yang tampak
Sengaja ku bubuhkan tanda tanya pada judul, untuk menunjukkan sebuah keheranan. Pandemi dahsyat yang berdampak global ini, dari negara besar hingga kecil, dari kota hingga desa, menyelusup ke kelurahan, RT hingga rumah ini, rupanya tak memotong sedikit juga kisah korupsi. Korupsi yang dana yang ditujukan oleh mereka yang membutuhkan pula. Apa yang ada di pikiran
Kecemasan, adalah penanda tuk bertanya ke dalam diri: adakah aku masih relevan? Di masa penuh ketidakpastian seperti pandemi ini, kecemasan sering hadir tanpa diundang. Dan sebagaimana tabiat setiap perasaan, ia dipicu oleh pikiran. Karenanya, kala rasa cemas melanda, ia sebenarnya adalah momen tepat untuk menelaah apa sebenarnya yang sedang ada di pikiran. Dalam konteks bisnis
Salah satu hal yang membantuku mensyukuri adalah menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa dipungkiri. Tak semua orang beruntung memiliki pilihan. Ada kondisi yang seolah mengatakan bahwa pilihan tak ada. Yang bisa dilakukan hanya menerima. Tapi menerima saja kerap tak mudah, sebab keinginan untuk mendapatkan lebih selalu terbit. Di titik inilah, menyadari ada hal-hal yang
Mari kita mulai bermimpi, melampaui masa pandemi ini. Sebab tak ada kepastian apa yang akan kita lewati, maka yang kita perlukan adalah energi untuk bergerak. Tenaga untuk memulai kembali. Bersama kesulitan, ada kemudahan. Demikian kita diajarkan. Ya, kemudahan tak datang setelah kesulitan, melainkan bersamaan. Maka kemudahan itu, setidaknya dalam bentuk potensi, bersembunyi di balik apa
Teramat wajar di masa pandemi ini, kita bersedih atas apa yang hilang. Pekerjaan yang hilang. Pelanggan yang hilang. Penghasilan yang hilang. Kesenangan yang hilang. Hasrat alamiah kita memang menginginkan lebih, bukan kurang. Maka kala ada yang berkurang, hasrat ini kehilangan pemuasnya. Tapi jika dicermati, tabiat hasrat tak dipuaskan dengan hal yang benar-benar bersifat fisik. Bukan
Meski jarak fisik memisahkan, ku rasakan, tahun ini adalah momen pembaruan hubungan. Hubungan keluarga, persahabatan, pekerjaan yang memang terjalin sehari-hari jadi lebih hakiki. Sebab tak banyak waktu berbasa-basi, apa yang dibicarakan jadi lebih esensi. Kita mengenal betul, sesiapa saja sahabat terbaik kita, yang sosok kita ada di pikirannya, hingga meski terpisah jarak ia perhatian jua.
Tahun ini kita belajar, bahwa tak ada yang benar-benar bernama kepastian. Kepastian hanyalah keinginan kita. Keinginan yang sudah ada sejak ayahanda kita Adam dulu digoda dengan keinginan menggapai keabadian. Namun kini kita sedang berada di dunia, dan tugas kita bekerja memakmurkannya. Sedang hakikat pekerjaan itu sendiri adalah ujian. Selalu ada kesenjangan antara apa yang terjadi

Recent Comments