Makin tinggi sebuah pohon, makin dalam akarnya menghujam. Serupa gedung, makin tinggi ia menjulang, makin diperlukan fondasi kokoh di bawah tanah. Perumpamaan akar dan fondasi dalam diri ini adalah karakter: sifat-sifat baik yang melatarbelakangi pikiran, perasaan, dan tindakan. Karakter adalah tentang bagaimana kita mengelola dan memimpin diri. Karakter juga adalah tentang bagaimana kita menjalin hubungan […]
Category: Reflections
Ilmu adalah cahaya. Demikian sebuah nasihat. Mulanya, kuanggap ia sebuah metafora. Namun kiranya, ia kenyataan belaka. Ilmu adalah cahaya. Sebab kala tak berilmu, pikiran memang gelap. Coba saja pikirkan sebuah aktivitas yang diri ini tak punya ilmu sedikit pun tentangnya. Apa yang muncul dalam benak? Gelap, bukan? Sisi lain, pikirkan sebuah kegiatan yang diri ini
Agama mengajarkan diri ini tuk terus meluruskan niat. Lama kurenungi, baru belakangan ada setitik jawaban yang begitu berarti. Ya, niat mesti lah terus diluruskan, sebab niat sangat mungkin bengkok. Contohnya begini. Kita ingin pergi ke Jogja. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka dipilihlah kereta api sebagai cara menuju ke sana. Niat yang telah dipasang: pergi ke
Hari ini adalah hari terakhir The 4th Indonesia NLP Conference 2014. Gelaran dari komunitas virtual Indonesia NLP Society ini memang sudah kali keempat diadakan, dan Alhamdulillah selalu diminati oleh para pembelajar NLP. Sejak awal kemunculannya pada 2010, Indonesia NLP Conference masih menjadi ajang silaturahim para pakar dan pembelajar NLP yang menggairahkan.
“Jika kata ‘menulis’ membuatmu ragu, gantilah dengan kata ‘mencatat’.” Salah satu tetanda majunya peradaban adalah maraknya karya tulis. Karya tulis yang bermutu, penuh ilmu, rekam jejak perjalanan para guru. Apalagi kebiasaan menulis, adalah pasangan serasi dari kebiasaan membaca. Tak mungkin seseorang produktif menulis, jika ia tak rajin membaca. Meski, tak semua yang gemar membaca, gemar
“Kita adalah jalan, bagi kebaikan atau keburukan.” Setiap hal yang kita kerjakan sejatinya saling terkait. Ia mengalir dari satu masa ke masa lain, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Semisal yang baru saya sadari ini. Setidaknya sudah 10 tahun sejak pertama kali saya menggeluti dunia pelatihan. Ini adalah jalan hidup yang saya pilih, sebab ia lah
Tak ada jalan lain tuk mendapat ilmu, selain melalui guru. Meski guru memang tak selalu hadir secara fisik, melainkan bisa hadir melalui media seperti buku, video, atau rekaman audio. Maka menghormati guru adalah keniscayaan, sebab tanpanya kita kan buta. Ilmu layaknya cahaya. Namun tanpa ada yang menjadi perantara cahaya, seperti lampu, obor, atau lilin, kita
Salah satu adab belajar adalah tak meminta tambahan ilmu, sebelum yang sudah dipelajari benar-benar dipahami dan diamalkan. Sebab belajar, sejatinya bukanlah tuk belajar itu sendiri. Belajar, sungguh adalah sarana untuk menjadikan sebuah ilmu berubah menjadi manfaat. Dan perubahan ini tak mungkin terjadi tanpa proses peresapan, perenungan, dan pengalaman yang sungguh-sungguh. Era zaman ini sungguh telah
“Jika ada yang katakan kesabaran ada batasnya, maka kemarahan dan kekecewaan pun ada batasnya pula.” Demikian biasa terdengar. Sebuah kalimat yang tentu memiliki alasan. Atau menjadi alasan, untuk tidak merasa sabar. Dulu, aku berpikir bahwa kalimat ini amat perlu direvisi. Ya, mempelajari beragam ilmu dan meretas secuil hikmah saja telah mengajarkanku bahwa kesabaran sungguh tidak
Pagi ini saya termenung kala membaca artikel dari Pak Jamil Azzaini, berjudul “Simpanlah Aibmu”. Ya, sungguh terlalu banyak aib diri ini yang tersembunyi. Diri ini masih dihargai orang lain sebab tertutupinya aib-aib itu. Maka benarlah ajaran yang mengatakan kita tuk tidak mengumbang aib yang sejatinya telah ditutupi olehNya. Simpanlah baik-baik aibmu, sucikan bekasnya dengan air

Recent Comments