“Berpikirlah, dengan landasan iman.” “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit serta bumi sambil berkata, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari […]

“Tiap hal ada waktunya. Tiap waktu ada halnya.” Ada waktu bekerja, ada waktu beristirahat. Dalam kerja kita lahirkan karya. Dalam istirahat, kita bangkitkan kembali energi tuk hasilkan karya. Tak perhatian pada istirahat berarti membunuh perlahan potensi tuk terus berkarya. Begitupun terlalu banyak beristirahat, dan tak perhatian pada kerja sistematis, berarti mematikan keahlian, melemahkan kemampuan. Dalam

Rehat dengan BergerakRead More »

“Sebab yang tak ternilai, tak bisa dinilai.” Fitrah insan mengincar kebahagiaan. Segala cara, segala jalan, dilalui demi melahirkan rasa bahagia dalam diri. Ada yang berada di atas keselamatan, tak sedikit jua yang terjebak di jalan keburukan. Apa pasal? Sebab hakikat kebahagiaan itu sendiri belum lagi dipahami. Menariknya, tak kita temukan petunjuk dalam kitab yang diturunkanNya,

Melampaui KebahagiaanRead More »

“Kesulitan adalah pertanda lahirnya peluang perbaikan, pembelajaran, pertumbuhan, perkembangan.” “Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras untuk urusan berikutnya.” (Asy Syarh: 5-7) Kesulitan, sejatinya adalah sebuah kata yang dilekatkan pada kejadian. Sedang kejadian itu sendiri, netral adanya. Perubahan peta kompetisi di

Yang Membersamai KesulitanRead More »

“Pada yang berharap dunia, kefakiranlah yang kan selalu dirasakannya.” Beberapa waktu lalu, aku belajar pada Pak Bagus Riyono. Salah seorang guru dalam ranah Psikologi Industri dan Organisasi yang menjelma menjadi Pakar Psikologi Islam. Salah satu teori yang beliau temukan adalah teori Anchor. Inilah teori yang membuka ruang dalam ranah psikologi untuk menjelaskan tauhid. Bahwa sejatinya

Tambatkan Hati pada yang KuatRead More »

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” At Tin: 4 Telah diciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Maka tiap insan adalah ciptaaan sempurna dalam keterbatasannya. Tak selayaknya diri ini kecewa pada apa yang diberi, sebab yang telah dimiliki adalah yang terbaik pemberianNya. Mari sejenak berhenti di sini. Merenungi dalam-dalam satu ayat nan singkat ini.

Menerima DiriRead More »

“Memaafkan berarti melepaskan yang jadi beban. Karenanya langkah kan cepat lagi ringan.” Dendam, ujar sebuah nasihat, serupa meminum racun, namun berharap orang lain yang mati. Mustahil? Tentu. Maknanya, menyimpan dendam tak merugikan kecuali bagi diri sendiri. Rasa dendam yang terpendam bukanlah rasa yang alamiah bagi insan. Ia berisi pikiran buruk pemicu gejolak emosi yang hadirkan

Maafkan, Agar RinganRead More »

“Percakapan adalah pembuka ruang kebutuhan.” Kurunut-runut, orang-orang yang memberikan peluang kerjasama padaku adalah mereka yang telah mengenalku minimal 3 tahun. Kami terus berkomunikasi meski tak setiap hari. Lalu pada satu waktu, datanglah penawaran itu. Hampir-hampir tanpa penelitian detil, dan negosiasi yang pelik. Seorang kawan yang sukses dalam penjualan produk berharga puluhan juta mengatakan bahwa kebanyakan

Tambahlah Teman BaruRead More »

“Belajarlah mencintai, agar terbit kembali kebaikan.” Cinta mengarahkan pandangan. Buya Hamka, ulama ensiklopedik yang ilmunya melintasi zaman itu pernah berujar, bahwa cinta harusnya menguatkan, memberdayakan. Bukan tabiat cinta jika ia justru melemahkan. Maka anehlah insan yang kala jatuh cinta justru melemah tak berdaya. Sebab wajarnya cinta memberi energi untuk berjuang, memberikan yang terbaik pada nan

Belajar MencintaiRead More »