Psikolog generasi 5? Emang generasi 1 sampai 4-nya apa? Hehe.. nanti kita pikirkan. Tapi aku ingin mengawali tulisan ini dengan sekutipan pembelajaran yang ku dapat saat membaca karya Abraham Maslow yang bertajuk, Maslow on Management. Bahwa beliau sudah give up dengan psikoterapi. Dan menemukan bahwa bisa jadi, dunia kerja, dunia berkarya, adalah jalan yang menjanjikan […]
Author: Teddi Prasetya
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘innalillah wa inna ilaihi rajiun’. Mereka itulah orang yang akan memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Al Baqarah: 155-157 Sabar
Di Balik Riuh Zonasi Bukan. Ini bukan analisa ilmiah soal zonasi yang sedang ramai dibicarakan—dan dikeluhkan. Sebab aku tak sedikit pun paham apa duduk perkara jelasnya, apa dasar pemikirannya, apa detil aturannya. Ini hanya sebuah catatan dari secuplik renungan, tentang kejadian zonasi dan beberapa kawan-kawan sejenisnya. Zonasi menjadi kontroversi. Orang tua utamanya. Pihak yang memprotes
Agak berbeda dengan kegiatan sosial yang terkadang segala kekurangannya dimaklumi, bisnis tidak demikian. Tersebab ada transaksi materi di dalamnya, biasanya orang akan punya tuntutan lebih tinggi akan produk atau layanan yang diterima. Kurang sedikit, jadi masalah. Sementara dalam kegiatan sosial, ruang permakluman sungguh lebih luas. Di sisi inilah bisnis sejatinya mengajari kita sesuatu. Pembelajaran yang
Bisnis, dalam kata aslinya bisa dimaknai sebagai kesibukan. Busyness. Maka setiap kesibukan kita sejatinya bisa masuk dalam kategori bisnis. Tapi benarkah demikian? Sebab ku teringat nasihat pelatih basket kenamaan, John Wooden, pada muridnya. “Jangan samakan kesibukan dengan pencapaian.” Ah, rupanya tak semua yang sibuk berarti berhasil. Tak semua kesibukan melahirkan keberhasilan. Nah, bukankah semua pebisnis
“Jika tak menulis, jangan-jangan kita tak berpikir.” Belajar diawali dengan menyimak. Ya, menyimak. Tak sekedar mendengar. Sebab mendengar hanya bisa selewatan. Sedang menyimak berarti memperhatikan tiap detil. Menandai apa nan penting-penting. Dengan menyimak kita kan tahu. Namun tahu masih berjarak dengan mampu. Di tengah keduanya ada paham. Takkan terjadi mampu tanpa paham. Pemahaman, ia tak
Kehidupan terus berjalan, dalam dimensi waktu yang tak pernah berhenti. Waktu melaju, sementara tugas tengah menunggu. Kehidupan penuh dengan pekerjaan. Insan diciptakan tuk menjadi bagian dalam pengelolaan. Bekal telah disiapkan. Namun sebagaimana para pengembara, tak semua sabar mempergunakan bekal hingga sampai pada tujuan. Ada bekal yang dihabiskan dalam permulaan. Ada bekal nan tak terpakai hingga
Tabiat pikiran itu cair. Saking cairnya, maka bagaimana kita diajak berinteraksi setiap hari, begitu pulalah pikiran kita kan terbentuk. Bukankah demikian sering kita temui anak yang memiliki pola pikir mirip dengan orang tuanya? Atau anggota tim yang menggunakan pendekatan serupa dengan atasannya? Contoh kecairan lain, mari kita bayangkan kejadian berikut ini. Masuk kantor setelah masa
Jika tak ada kegaiban, kehidupan takkan berarti. Salah satu ciri insan nan bertakwa, insan nan diperuntukkan baginya petunjuk mulia bertajuk Al Qur’an, ialah keyakinan pada yang gaib. Sungguh aku kesulitan memahami hal ini. Mengapakah kiranya keyakinan pada yang tak tampak ini merupakan ciri ketakwaan. Sedang takwa itu sendiri didefinisikan sebagai sesungguh-sungguhnya menjalani hidup, dengan indikator
Dalam penjelasan tentang bagian awal surat Al Baqarah, Ustadz Nouman Ali Khan menuturkan hikmah dari ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat yang hanya berupa rangkaian huruf dan bukanlah sebuah kata. Ayat-ayat yang Rasulullah saw tak pernah menjelaskan maknanya. Ayat-ayat yang memang seolah disengaja untuk tak bisa ditafsirkan secara gamblang. Deretan nama besar ulama memberikan penjelasan, namun satu yang

Recent Comments